Judul
Anak Semua Bangsa
Pengarang
Pramoedya Ananta Toer
Penerbit
Lentera Dipantara
Jumlah Halaman
539
ISBN
979865139
Tahun Terbit
1980 (Cetakan Pertama oleh Hasta Mitra)
Artikel ini diterbitkan pertama kali oleh LPM Rhetor 29 Juli 2018.
Masalah demi masalah mulai menimpa Minke. Seorang ningrat putra bupati Bojonegoro itu harus membayar akibat jalan yang ia pilih sendiri.
Alih-alih bersekolah—mendapat pendidikan ala Eropa—untuk mempersiapkan diri menjadi penerus ayahnya, Minke malah membelot dan lebih pilih menjadi manusia merdeka; berpikir, bertingkah laku, mengambil jalan hidup berdasarkan kata hatinya.
Ia begitu manut pesan-pesan dari sahabatnya, Jean Marais–seorang seniman Prancis yang mempunyai pondasi berpikir ala revolusioner Prancis. Minke pun sangat terpesona dengan ide dan konsep revolusi yang mampu mengubah tatanan negeri Menara Eifffel itu dalam sekejap. Bak membangun candi Prambanan hanya dalam satu malam.
Lulus dari HBS (Hoogere Burgerschool) tentu membanggakan. Bagaimana tidak, sekolah tingkat menengah yang terletak di kota niaga Surabaya ini, adalah sekolah yang dikhususkan untuk orang Belanda, peranakkan, Eropa, dan elite pribumi seperti dirinya. Tak banyak pemuda sebayanya dari sesama Jawa menerima fasilitas pendidikan semewah itu. Apalagi, HBS merupakan sekolah dengan bahasa pengantar Belanda, sesuatu yang membuat derajat pribumi meninggi setinggi langit kala fasih berbahasa Belanda.
Sebelum Minke lulus, ia pun mendapat anugerah luar biasa tak dinyana. Annalies Melemma, gadis blasteran anak dari administrateur Belanda dan ibu seorang nyai jelita berhasil ditaklukkan hatinya. Annelies yang dijuluki Minke sebagai “Bunga Penutup Abad” lantaran cantik dan keanggunannya, membuatnya percaya bahwa cinta tak mengenal ras dan status sosial.
Namun, di sinilah konflik justru bermula. Bumi dengan kehidupan manusia di dalamnya selalu punya cerita.
Minke yang hidup tak wajar sebagaimana putra ningrat lainnya harus ditimpa realitas sistem kolonial kala itu. Tampaknya, Minke juga mulai menyadari bahwa dirinya sedang hidup di alam yang dibuat sekat-sekat antarmanusia di dalamnya.
Manusia Eropa menjadi dewa segala dewa di alam tempat tinggalnya. Sedang manusia seperti dirinya, hanya dipandang sebagai separuh bahkan seperempat dari seorang manusia seutuhnya. Primitif, tak kenal peradaban, tidak seperti Bangsa Eropa yang gilang-gemilang dengan kemajuan ilmu pengetahuan mereka. Ilmu pengetahuan yang berhasil menggenggam erat dua pertiga bumi!
Lihat saja adegan Minke dan calon mertuanya, Herman Mellema dalam novel edisi sebelumnya (baca novel pertama; Bumi Manusia). Minke yang bertamu di rumah sang calon mertua dengan berpakaian ala Eropa, bersepatu, berkemeja dibalut rompi dan jas, namun tetap berkopiah blangkon sebagai entitas Jawanya, menyapa santun dengan bahasa Belanda yang baik, tetap saja dibalas hardik oleh Herman Mellema.
Tak tanggung-tanggung hardikan itu berupa membentak secara kasar terhadap Minke, “Kowe ini monyet!” dan seterusnya.
Minke sadar, mertua mereka yang merupakan keluarga silang merupakan keluarga yang pada sistem kolonial saat itu mempunyai banyak konsekuensi besar. Nyai Ontosoroh bukanlah perempuan yang dinikahi atas dasar cinta. Nyai Ontosoroh—yang belakangan bernama asli Sanikem ini—merupakan perempuan hasil rampasan Herman Mellema yang kala itu seorang administrateur pabrik gula di Sidoarjo dari ayahnya yang hanya juru tulis, pangkat yang lebih rendah dari Herman.
Nyai—kala itu merupakan sebutan untuk perempuan piaraan seorang tuan Belanda—diperistri, sekaligus diperlakukan dengan bebas oleh sang tuan Belanda layaknya budak belian. Terang saja hal ini menjadikan posisi seorang Nyai begitu rendah di hadapan masyarakat pribumi.
Namun, Sanikem alias Nyai Ontosoroh sedikit beda. Rupanya Herman Mellema memberikan pendidikan kepadanya. Diajarinya berbagai macam pengetahuan, dan diberinya kesempatan untuk mengembangkan perusahaan pribadi milik Herman Mellema.
Nyai Ontosoroh akhirnya berkembang menjadi wanita yang cerdas lagi mandiri. Tidak seperti wanita pribumi kebanyakan saat itu. Ia menjadi perempuan yang vokal dalam menyampaikan argumen. Wawasannya terlampau luas dari kebanyakan perempuan Jawa kala itu yang terkekang oleh budaya feodal patriarkis. Ia dikaruniai dua anak, laki-laki dan perempuan: Robert Mellema dan istri Minke, Annelies Melemma.
Dalam persoalan hukum pun demikian. Sehingga, ketika datang saatnya realitas yang lain muncul, ketika anak Herman Mellema dari istri pertamanya di negeri Belanda sana (Maurits Melemma) hendak menuntut hak waris atas dirinya, Nyai Ontosoroh pun tak bisa berbuat banyak. Apalagi Minke.
Ketika putusan pengadilan menyatakan bahwa Annelies harus diambil aluh perwaliannya oleh Maurits pasca matinya Herman Mellema, Nyai Ontosoroh dan Minke hanya bisa bersumpah-serapah gelagapan di depan pengadilan.
Dari sini kesadaran Minke mulai terpacu. Setelah kepergian Annelies, pelbagai peristiwa ia alami dan semakin menuju kepada kesadaran baru nan kompleks. Dimulai dari perhatian Minke terhadap bangsa Jepang, satu-satunya bangsa di Asia yang diakui sederajat dengan Eropa.
Bangsa Jepang kala itu ulet dalam mempelajari sabab-musabab kemajuan Eropa dan dipraktekkan kepada bangsanya sendiri. Pemuda-pemuda mereka dikirim untuk belajar ke Eropa, dan pulang mempraktekkan apa yang dipelajari dari sana. Walau kadang banyak juga kalangan Eropa yang mencemooh Jepang sebagai bangsa peniru, toh mereka tetap tidak kehilangan posisi derajatnya di mata orang-orang Eropa. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pun sampai mengadakan perjanjian terhadap mereka.
Orang-orang Jepang yang berada di Hindia kala itu, tidak diperlakukan sebagai orang-orang dalam kasta timur asing. Tetapi sama dengan Eropa! Sederajat!
Belum habis perhatiannya pada Jepang, perhatian Minke dialihkan pada pertemuannya dengan Khow Ah Soe seorang aktivis asal tiongkok. Khow Ah Soe menjadi pelarian dari negerinya sendiri. Menjadi pelarian, lantaran niat Khow Ah Soe yang berusaha mengingatkan bangsanya tidak diindahkan bahkan dihujat. Bak seorang Nabi yang mengingatkan kaumnya, namun malah ingkar.
Khow Ah Soe ini memang dianggap perusak status quo terhadap bangsanya. Ia pun terpaksa keluar dari negerinya. Orang-orang dari negerinya pun tak henti mengejarnya, untuk melenyapkan Khow Ah Soe.
Akhirnya tak terelakkan, Khow Ah Soe terbunuh pada suatu fajar di kawasan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Ia dibunuh sebagai buronan. Buronan yang justru punya niat mengingatkan bangsanya sendiri akan hegemoni luar negeri bangsa Tiongkok, lalu bangsa sendiri pula yang membunuhnya.
Tak kenal bangsa sendiri
Suatu peristiwa tak kalah membuat gigi-gigi Minke gemeretakan adalah ketika ia bertemu dengan Kommer, jurnalis dari surat kabar berbahasa Melayu.
Kommer adalah peranakan Eropa. Pandai beretorika, dan cukup luas wawasannya terhadap keadaan pribumi. Kommer-lah yang frontal mengatakan bahwa Minke tak kenal bangsanya sendiri.
Minke jelas tidak menerima dakwaan itu. Namun, ketika ia melihat seorang pemikul kacang tanah yang berjalan ke arah pasar, ia menantang pengetahuannya sendiri: bagaimana pekerjaannya? Berapa hasil jualan kacang tanahnya seharga satu pikul itu? Apa cukup buat seminggu? Berapa jumlah panennya per seratus meter persegi? Minke mau tidak mau mengakui dakwaan Kommer. Ia lantas mencaci dirinya sendiri. Malu bukan kepalang.
Tidak berhenti di situ, demi membayar lunas kekecewaan akan ketololannya sendiri, Minke melakukan blusukan kecil-kecilan di kawasan perkebunan tebu di Tulangan, Sidoarjo. Perkebunan yang awalnya adalah lahan produktif milik warga, harus diratakan dengan dalih kepentingan negara untuk memajukan ekonomi negara; membangun pabrik gula.
Adalah Trunodongso, satu dari segelintir petani yang gigih mempertahankan tanahnya demi kehidupan anak-cucu yang lebih baik, malah mendapatkan berbagai intimidasi dari pihak pabrik juga aparat pemerintahan.
Hal tersebut membuat Trunodongso, yang wawasan pengetahuannya hanya soal bertani dan menjaga alam peninggalan leluhurnya, kehilangan rasa percaya terhadap siapa saja yang berpakaian ala Eropa. Semua orang yang berpakaian rompi, jas, bersepatu, biasanya orangnya pabrik gula, pikir Trunodongso.
Maka, saat Minke hendak memasuki duduk perkara yang dialami petani itu, Minke dicurigai betul oleh Trunodongso, membuatnya memutar otak dalam menjelaskan maksud kedatangannya.
Baru kali ini Minke dibentak dan dipelototi oleh orang yang lebih ‘rendah’ darinya–petani bertelanjang dada ini. Minke juga baru tahu realitas sebenarnya tentang pabrik gula yang hanya bisa mengeksploitasi masyarakat setempat. Alih-alih membuat sejahtera, pabrik gula itu malah buat sengsara.
Minke belajar, bahwa untuk mengetahui realitas kehidupan Trunodongso dan keluarganya ini, dia harus mau masuk ke pedalaman kehidupannya. Maka, ia berniat menginap di gubuk tua milik Trunodongso. Ia rasai bagaimana tidur di atas amben, dikerubung nyamuk, dan makan dengan alas daun pisang.
Semua cerita Trunodongso ia catat baik. Kelak catatan itu akan menjadi data baginya menulis dan berbicara kepada semua orang ‘elit’ sekembalinya ke Surabaya.
Dewa Sesungguhnya di Abad Modern
Suatu hari, saat Minke memutuskan untuk pergi meninggalkan Surabaya menuju Batavia, di kapal Oosthoek tempat dirinya menumpang berlayar menuju Batavia, Minke terlibat obrolan langsung dengan Ter Haar, seorang Belanda mantan redaktur media tempat Minke bekerja.
Ter Haar berkata,
“Yang dinamakan zaman modern, tuan Tollenaar, adalah zaman kemenangan modal. Setiap orang di jaman modern diperintah oleh modal besar. Juga pendidikan yang tuan tempuh di HBS disesuaikan dengan kebutuhannya, bukan kebutuhan tuan pribadi. Begitu juga surat kabarnya, semua diatur oleh dia (modal), juga kesusilaan, juga hukum, juga kebenaran dan pengetahuan.” (halaman 418)
Hal yang perlu disadari adalah Belanda dan negeri Eropa lainnya melakukan praktek penjajahan di atas bumi bangsa-bangsa timur bukan semata-mata praktek penaklukan bangsa oleh bangsa. Namun, semua itu dilakukan atas dasar kebutuhan modal yang mulai tak terpenuhi di negeri-negeri tempat kelahirannya dan melakukan ekspansi di penjuru bumi yang lain.
Dari motif pengembangan modal tersebut, semuanya akan bercabang kepada pembentukan kebudayaan, sosial, sampai hukum yang tentu harus sesuai dengan kepentingan modal.
Kesimbangan ekosistem kehidupan manusia nusantara yang sudah terbangun berabad-abad harus dibongkar-pasang sejak kedatangan modal oleh Belanda.
Rupanya, penjajahan Belanda terhadap Indonesia tidak menjadikan Eropa dewa segala dewa. Modallah yang jadi Dewa. Buktinya, Nyai Ontosoroh—seorang pribumi—bisa menyewa silih berganti banyak orang sekalipun itu Eropa, untuk memenuhi kepentingan modal milik Nyai dengan perusahaan Borderij Buitenzorg-nya.
Modal yang dikembangkan oleh berbagai bangsa, kemudian menimbulkan berbagai macam bencana dan kesengsaraan. Bencana dan kesengsaraan yang dibikin oleh tangan-tangan manusia. Dan sekali lagi Ter Haar mewanti-wanti kepada Minke.
Bangsa Meksiko, hangsa yang pertama kali melawan dan menang menghadapi tuannya Spanyol. Juga Filipina, tetangga dekat Hindia kala itu yang serentak melakukan perlawanan yang sama terhadap Spanyol dan kongkalikong Spanyol-Amerika. Bagaimana gerakan itu berhasil? Tentu, perlawanan itu harus didasari oleh kesadaran, sebelum dipraktikkan kepada banyak cara, menulis salah satunya. Satu jalan yang Minke pilih untuk melawan.
Inilah sebuah perjalanan mengenal bangsa sendiri versi Minke.
Ia sadar, setelah tulisan tentang perlawanan Trunodongso ditolak mentah-mentah oleh redakturnya, Nijman, Minke bukannya berniat untuk berhenti menulis. Namun, dia berpikir untuk tetap menulis bagaimanapun cara nya. Kelak suara-suara minor lewat tulisan-tulisannya akan menghembus ke sana-ke mari di atas perahunya sendiri, Medan Priyayi.[]

0 Komentar