Dalam perspektif sosiologi sastra, karya sastra adalah sebuah dokumen sosiobudaya yang merekam. Karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya, demikian pernyataan Teeuw[1]. Karya sastra lahir dan tumbuh dari sebuah ekosistem dan struktur masyarakat. Oleh karena itu, dalam perspektif ini, karya sastra dinilai sebagai sebuah produk budaya yang menampilkan fenomena-fenomena sosial.
Demikian pandangan seorang sosiolog bernama Swingewood tentang perhubungan antara sastra dan fenomena sosial. Pendapat Swingewood itu, sebetulnya dapat ditarik lebih jauh sampai pada pemikiran mimesis Plato dan creatio Aristoteles. Menurut konsep mimesis, karya sastra adalah tiruan dari realitas[2]. Seperti cermin, karya sastra hanya menampilkan kenyataan-kenyataan. Sedangkan menurut Aristoteles, kenyataan yang ada di dalam karya sastra bukan kenyataan apa adanya, melainkan kenyataan yang udah dikreasikan sedemikian rupa oleh pengarang, sehingga dunia yang dihasilkan merupakan dunia yang baru, yang otonom[3]. Konsep Aristoteles itu dikenal dengan istilah creatio.
Yang agak membedakan Swingewood dari kedua filsuf Yunani itu adalah pernyataannya bahwa sastra mampu menembus permukaan sosial. Sastra mampu menampilkan pengalaman hidup individu dan perasaan manusia[4].
Realitas dalam karya sastra tidak tampil dalam bentuk angka-angka, statistik, atau kurva-kurva. Realitas di dalam sastra tampil pada titik yang paling intim, yang mampu membangkitkan perasaan kemanusiaan. Hal itu mungkin membuat realitas menjadi agak terdistorsi, tetapi itulah kenapa ia disebut sastra. Itulah kenapa ia bisa lebih membangkitkan perasaan daripada ketika Anda membaca buku nonfiksi (ini gue lagi nyindir orang).
Di dalam kerangka itu, pembahasan tentang cerpen Berita dari Kebayoran-nya Pramoedya Ananta Toer bakal jadi hal yang menarik. Sebab cerpen itu mengambil plot di pusat Indonesia. Di sebuah kota yang so-called menjadi ikon kebanggaan nasionil.
Penelitian sosiologi sastra untuk cerpen ini sebenernya udah pernah dilakukan oleh Iwan Hendarmawan dalam bentuk tesis, judulnya Jakarta Periode 1950-an di Mata Pramoedya Ananta Toer: Sebuah Analisis Tekstual atas Cerita dari Jakarta[5]. Di tesis itu, Iwan mencoba menjelaskan gimana sih pandangan Pramoedya tentang kota Jakarta periode 1950-an, lewat cerpen-cerpennya.
Namun, kajian yang menganalisis lima buah cerpen itu bikin pembahasan tentang realitas jadi kurang mendalam. Sebagai contoh, tesis itu tidak menyebut sebuah perusahaan bernama Centrale Stichting Wederopbouw pada saat membahas Berita dari Kebayoran. Padahal, perusahaan Belanda itu bisa menjadi salah satu motif penceritaan. Gimanapun, hal itu tidak dapat disalahkan. Perbedaan tujuan akan menghasilkan perbedaan sudut pandang, bahasan, dan simpulan.
Nah, kalo tesis S2 tadi punya tujuan untuk mencari pandangan dunia Pramoedya tentang Jakarta, yang mau “Ane” lakukan cuma mencari lebih dalam konteks sosial di dalam cerpen itu, cerpen Berita dari Kebayoran.
Karena itu, mari awali dengan sebuah “konteks”, Gan.
Berita dari Kebayoran dibuat pada Januari 1950, kurun masa ketika Indonesia berada pada situasi yang kacau. Setidaknya begitu menurut catatan sejarah. Lima tahun ke belakang Indonesia mengalami berbagai konflik, agresi Militer Belanda I dan II adalah di antaranya. Beberapa perundingan disepakati dan dilanggar, Indonesia masih rapuh sebagai negara yang baru merdeka.
Agresi Militer Belanda I, yang dimulai pada 21 Juli 1947, membuat Jakarta kembali dikuasai Belanda. Setahun kemudian, 9 Maret 1948, Belanda membentuk pemerintahan Pre Federal. Di situ, Jakarta diangkat jadi Ibukota negara[6].
Di tahun yang sama, pemerintah distrik Pre Federal Jakarta mendirikan sebuah perusahaan pembangunan kota, namanya Centrale Stichting Wederopbouw (disingkat CSW)[7]. Pada kelanjutannya, perusahaan itu akan bersinggungan dengan daerah bernama Kebayoran.
((Napas dulu bacanya.))
Persinggungan antara CSW dengan Kebayoran berawal dari derasnya proses urbanisasi ke Jakarta pada masa itu. Tercatat pada 1948, penduduk kota Jakarta telah bertambah menjadi 1.174.252 jiwa, dari yang tadinya berjumlah 700.000 jiwa pada tahun 1940. Alhasil, Jakarta pada masa itu tidak bisa menampung, kecuali jika dilakukan pemekaran wilayah[8]. Pemekaran wilayah itu dilaksanakan oleh CSW, dan wilayah yang menjadi incaran pemekaran adalah daerah bernama Kebayoran Ilir.
Kebayoran pada masa itu merupakan wilayah pertanian[9] dan banyak ditanami pohon bayur[10]–mungkin dari sanalah asal muasal kata ‘kebayoran’. Rencananya, di sana akan dibangun 80.000 unit rumah dengan berbagai fasilitas sosial: jalan raya, perkantoran, pasar, toko, tempat ibadah, dan sekolah. Namun, pembangunan sempat tertahan. Karena apa? Karena tanah itu udah dihuni oleh penduduk asli Betawi. Perjuangan kepentingan berlangsung sengit. Warga gak mau (dong) menjual tanahnya,. Namun, dengan ancaman hukum pencabutan hak atas tanah, akhirnya pemerintah menang[11].
Alwi Shahab, wartawan sekaligus sejarawan Betawi, di salah satu unggahan di blog pribadinya menceritakan tentang proses ganti rugi pemerintah kepada penduduk Kebayoran. Katanya, 700 ribu pohon yang terdiri dari 26 macam buah-buahan harus diganti-rugi kepada penduduk. Pembayaran baru selesai pada Januari 1949, total berjumlah 15 juta gulden[12].
Walaupun pemerintah udah ngasih ganti rugi, selalu ada hal yang gabisa dilupain gitu aja.
Yang tidak boleh dilupakan dari peristiwa di atas adalah dampaknya bagi warga Kebayoran yang tergusur. Tapi gatau kenapa, sumber yang menceritakan tentang hal itu sulit dicari (oleh gue). Di sinilah, Pramoedya mengangkat kisah Berita dari Kebayoran pada tahun 1950, dengan cara menampilkan pengalaman individual tokoh Aminah.
Aminah adalah korban dari pemekaran wilayah itu. Pram mengungkapkan hal itu melalui dialog antara Aminah dengan adiknya, Tijah.
“Siapa kuat, Tijah? Siapa kuat? Kak Saleh sudah kubilangi, jangan jual rumah dan ladang itu. Itu sumber penghidupan kita. Tapi dia bilang, kekayaan kita itu harus kita serahkan pada pemerintah, Minah, kalau kita tak mau mendapat kesusahan daripadanya. Dan rumah serta pekarangan itu dijuallah. Tigaribu! Tapi sejak itu kita tak dapat membuat tuak dan gula lagi. Aku tak dapat jual rujak buah atap. Tak punya panen singkong dan cabe. Dan kita tak dapat beli ladang orang lain karena tak ada yang jual…”[13]
Kutipan itu menggambarkan bahwa (1) sebelum terjadi pemekaran wilayah, Kebayoran adalah daerah yang subur, oleh karena itu (2) Aminah dan masyarakat sana udah hidup bahagia dengan ladang-ladang kepunyaan. Penggusuran daerah Kebayoran telah membuatnya (dan mereka) kehilangan ladang tersebut. Aminah sempat menolak, seperti orang-orang lain yang tercatat dalam sejarah, tetapi akhirnya kalah juga.
Setelah penggusuran terjadi, Minah dan Saleh tinggal di rumah orang lain. Kehidupannya hancur, kelakuan Saleh semakin bejat dan tidak bertanggung jawab. Ia kecanduan berjudi, uangnya habis, dan terlilit hutang. Sepasang suami istri itu tak punya modal apa-apa lagi. Di saat itulah Aminah pergi ke kota Jakarta bersama tokoh Diman untuk mencari peruntungan.
Penggambaran Aminah yang pergi ke Jakarta menemukan kelogisannya, ketika statistik menunjukkan bahwa urbanisasi ke kota Jakarta terus berlanjut setelah tahun 1949. Tahun 1950, Jakarta telah dihuni oleh 1.432.085 penduduk[14]. Namun, itu hanya yang tercatat. Aminah di dalam cerita termasuk di antara mereka yang tidak tercatat dalam “buku besar”[15]. Meski begitu, tidak tercatatnya Aminah bukan suatu hal yang kontradiktif dengan kenyataan adanya urbanisasi. Alih-alih kontradiktif, hal itu menunjukkan bahwa urbanisasi – setidaknya jika disintesiskan antara data resmi dengan cerita Pram – melaju begitu derasnya.
Sejarah mencatat, maraknya urbanisasi itu kemudian berpengaruh secara ekonomi dan sosial. Hal itu karena jumlah angkatan kerja tidak seimbang dengan jumlah lapangan pekerjaan. Permasalahan tersebut akhirnya berdampak pada munculnya berbagai masalah sosial perkotaan, seperti kemiskinan, kriminalitas, dan meningkatnya prostitusi di Jakarta[16].
Aminah, dalam Berita dari Kebayoran, akhirnya jatuh pada permasalahan terakhir itu: prostitusi.
“Di jalan dipapasinya berbagai macam orang dengan tampangnya masing-masing. Ia tak kenal lagi berapa puluh di antara mereka yang telah menikmati tubuhnya. Dan mereka pun tak kenal padanya. Apa peduli? Ia tak butuh orangnya. Ia hanya butuh uangnya. Mereka pun tak butuh padanya. Mereka hanya butuh dagingnya, dan itu pun ada masa tertentu pula dan tidak di sepanjang masa.”[17]
Selain menggambarkan realitas, ada hal yang menarik tentang fenomena prostitusi di cerpen ini.
Berita dari Kebayoran tidak menampilkan prostitusi cuma sebagai permasalahan moral, lebih dari itu sebagai permasalahan sosial dan ekonomi: Tokoh Minah, korban pemekaran wilayah yang pergi ke Jakarta untuk mencari peruntungan, terjatuh ke dalam dunia prostitusi karena Jakarta tidak menawarkan pekerjaan.
Permasalahan ekonomi dipertegas dengan pengontrasan antara kemiskinan dengan kemewahan dalam beberapa bagian cerpen. Perhatikan, misalnya, kutipan ini:
“Mobil menderu-deram di jalanan depannya. Bukan dunianya! Pegawai-pegawai masuk kantor dengan pakaiannya yang teratur rapi. Bukan dunianya!”[18]
Dalam kutipan di atas, Minah –yang seorang pelacur kelas rendah-tanpa rumah— disandingkan dengan mobil-mobil dan pegawai-pegawai kantor. Di bagian lain, Minah juga disandingkan dengan sinar lampu-lampu istana[19]. Pengontrasan atau ironi-ironi itu mempertegas permasalahan sosial yang terjadi pada masanya.
Fenomena Aminah sebagai perempuan yang melacurkan diri untuk mengisi perutnya, juga dapat digali realitas sosialnya. Misalnya, sampai pada pertengahan 1950-an, ada tercatat para pelacur kelas rendah yang menjajakan dirinya di gerbong-gerbong kereta api, atau di rumah-rumah dari kotak kardus di sekitar stasiun Senen. Ada pula konsumen dan penawar jasa seks yang bergerombol di sekitar tanah gundukan[20].
Aminah tidak ditempatkan Pramoedya di sekitar stasiun Senen, tidak pula di rumah-rumah dari kardus, tetapi ditempatkan di taman Fromberg –sekarang taman Chairil Anwar, yang terletak di dekat istana negara.
Tidak diketahui apakah di taman Fromberg pernah terjadi praktik prostitusi atau tidak. Namun, penceritaan Pramoedya bisa ditafsirkan dengan dua kemungkinan. Pertama, praktik prostitusi di taman Fromberg pernah ada, tetapi tidak dicatat dalam sejarah. Kedua, praktik prostitusi di taman Fromberg tidak ada, tetapi Pramoedya sengaja menceritakan bahwa itu ada, dengan tujuan untuk memberi semacam ironi: ironi tentang pemekaran wilayah yang semakin memperindah wajah kota, tetapi menggusur kehidupan warganya.
Pada akhir cerita, Aminah jatuh sakit. Tidak disebutkan apa nama penyakitnya, tetapi yang jelas penyakit itulah yang menyebabkan Aminah meninggal dunia. Ia meninggal dalam keadaan kurus, miskin, tanpa rumah. Dan sejarah tidak mencatat yang itu.
**
Aminah hanyalah satu contoh. Ia hadir untuk membangkitkan kepekaan nurani. Ia muncul sebagai antitesis di tengah gejolak pembangunan kota dan gemerlap istana. Di belakang Aminah yang ditampilkan, tentu ada Aminah-Aminah lain.
Aminah adalah wakil, ia mewakili para korban pemekaran wilayah; ia mewakili orang-orang yang jatuh miskin karena pembangunan kota; ia mewakili orang-orang yang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan apa saja; ia mewakili orang-orang yang kalah; ia mewakili orang melarat yang hidup tanpa rumah; ia mewakili pelacur yang ditimpa kesengsaraan berkali-kali.
Pramoedya menggambarkan Jakarta sekitar 1950 dengan demikian. Kemiskinan dan kemelaratan tampil dengan gaya penceritaan yang bukan hanya realistik dan logis, tetapi juga menghanyutkan.
((Pramoedya bener-bener deh, bukan penganut realisme yang sederhana.))
Pramoedya menunjukkan bahwa permasalahan sosial tidak terjadi begitu saja. Beberapa permasalahan sosial justru diawali oleh kebijakan pemerintah sendiri. Misalnya, dalam konteks cerpen tersebut, pemerintahlah yang meminta warga Kebayoran untuk menjual tanahnya, sehingga memicu berbagai permasalahan sosial.
Berita dari Kebayoran adalah cerpen yang mengandung banyak kasualitas. Fakta-fakta saling berkait, membuat sejarah tampak tidak berjarak.
Oh fiksi, Oh fiksi. Betapa kerennya engkau
Sumber foto: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20190808111439-234-419463/pramoedya-ananta-toer-menghantam-penjajahan-lewat-sastra
[1] Suratno, P. (2016). BAHASA-SASTRA SEBAGAI REPRESENTASI PEMIKIRAN-KEKUASAAN. PROSIDING PRASASTI. Hlm 38
[2] Sardjono, P. (2005). Pengkajian Sastra. (N. Suryana, Ed.) Sumedang: Sastra Unpad Press. Hlm 77
[3] Ibid., Hlm 78
[4] Wahyudi, T. (2013, Juli). Sosiologi Sastra Alan Swingewood Sebuah Teori. Jurnal Poetika, 1 No. 1. Hlm 57
[5] Dapat diakses melalui link https://repository.usd.ac.id/1569/2/096322009_full.pdf
[6] Jakarta.go.id. (2014, November 6). Gedung Balaikota. Retrieved Desember 13, 2021, from Jakarta.go.id: http://jakgo-dev.smartcity.jakarta.go.id/artikel/konten/109/gedung-balaikota
[7] Ensiklopedia Jakarta. (2018, Juni 21). Centrale Stichting Wederopbouw (Csw). Retrieved Desember 13, 2021, from Ensiklopedia Jakarta: http://encyclopedia.jakarta-tourism.go.id/post/Centrale-Stichting-Wederopbouw-CSW?lang=id
[8] ibid
[9] ibid
[10] Koran Sulindo. (2021, Oktober 4). Kebayoran Baru Dulunya “Kampong Kuboejoran”. Retrieved Desember 13, 2021, from Koran Sulindo: https://koransulindo.com/kebayoran-baru-dulunya-kampong-kuboejoran
[11] ibid
[12] Shahab, A. (2009, Agustus 5). Kebayoran Baru dari Permukiman ke Komersial. Retrieved Desember 13, 2021, from Djakarta Tempoe Doeloe: https://alwishahab.wordpress.com/2009/08/05/kebayoran-baru-dari-permukiman-ke-komersial/
[13] Toer, P. A. (2002). Cerita dari Jakarta (1957). Jakarta: Hasta Mitra. Hlm 51
[14] Candiwidoro, R. R. (2017, Januari). Menuju Masyarakat Urban: Sejarah Pendatang di Kota Jakarta Pasca Kemerdekaan (1949-1970). Jurnal Pemikiran Sosiologi, 4 No. 1. hlm 60
[15] Toer, P. A. Op.Cit., Hlm 46
[16] Lamijo. (n.d.). PROSTITUSI DI JAKARTA DALAM TIGA KEKUASAAN, 1930 – 1959. Retrieved from http://www.geocities.ws/konferensinasionalsejarah/lamijo_psdr_lipi.pdf
[17] Toer, P. A. Op.Cit., Hlm 48
[18] Toer, P. A. Op.Cit., Hlm 49
[19] Toer, P. A. Op.Cit., Hlm 47
[20] Lamijo. Op.Cit., Hlm 12
Sumber gambar: Kompas Media
https://kompaspedia.kompas.id/baca/data/foto/pramoedya-ananta-toer-dalam-arsip-foto-kompas

0 Komentar