Paulo Freire dan Api Pendidikan yang Tidak Netral
Membicarakan Paulo Freire berarti membicarakan pendidikan sebagai arena pertarungan.
Ia bukan sekadar seorang pedagog, tetapi seorang peziarah yang berjalan bersama kaum tertindas. Lahir di Brasil tahun 1921, masa kecilnya ditempa krisis ekonomi dan kelaparan.
Ia memahami satu hal yang sering dilupakan orang yang terlalu lama hidup nyaman: kemiskinan bukan angka statistik, tetapi pengalaman yang merendahkan martabat manusia.
Dari pengalaman itu, Freire sampai pada kesimpulan yang sederhana sekaligus mengguncang: pendidikan tidak pernah netral. Pendidikan selalu berpihak. Ia bisa menjadi alat pembebasan, atau justru menjadi mesin yang merawat penindasan.
Pemikirannya banyak dipengaruhi arus teologi pembebasan yang menguat di Amerika Latin. Gagasan ini lahir dari keyakinan bahwa iman tidak cukup berhenti di altar gereja. Ia harus turun ke jalan, memihak kaum miskin, dan ikut membongkar struktur ketidakadilan. Bagi Freire, pendidikan adalah bagian dari misi itu.
Ia menolak model pendidikan yang menempatkan guru sebagai pemilik kebenaran dan murid sebagai celengan kosong. Model ini ia sebut pendidikan gaya bank. Pengetahuan ditabungkan ke kepala murid, lalu murid diminta menghafalnya kembali saat ujian.
Freire menawarkan jalan lain. Pendidikan harus dialogis. Guru bukan menara gading, melainkan kawan seperjalanan. Belajar bukan sekadar menghafal kata, tetapi membaca dunia.
Ada satu semangat yang selalu saya ingat dari Freire:
Ilmu bukan lilin di ruang pesta
Ilmu adalah obor di jalan gelap
yang harus dibawa bersama
agar semua orang bisa melihat jalannya
Dan obor itu hanya menyala jika manusia berani berpikir kritis.
Pertemuan Saya dengan Freire
Saya pertama kali membaca Pendidikan Kaum Tertindas pada tahun 2019. Awalnya, saya mengira itu hanya buku teori pendidikan yang berat dan akademis. Ternyata tidak. Buku itu terasa seperti pukulan pelan di kepala.
Saat itu, kampus saya sedang ramai membicarakan forum dialog antara mahasiswa dan dosen. Banyak keresahan muncul, tetapi sebagian besar masih disampaikan dengan hati-hati. Diskusi terasa seperti berjalan di lorong sempit. Ada suara, tetapi gemanya terlalu pelan.
Pada waktu yang sama, jargon Merdeka Belajar mulai digaungkan. Kata “merdeka” terdengar manis di telinga siapa pun. Saya juga sempat percaya.
Namun semakin saya membaca Freire, semakin terasa ada sesuatu yang janggal. Mengapa mahasiswa semakin sibuk mengejar nilai dan magang, tetapi semakin jarang berbicara tentang ketimpangan sosial?
Mengapa diskusi di kampus terasa aman sekali, seolah tidak boleh terlalu mengganggu siapa pun?
Beberapa tahun kemudian saya membaca kritik dari Balairung yang menyebut Merdeka Belajar sebagai wajah baru neoliberalisme pendidikan. Saat itu saya hanya bisa tersenyum pahit.
Ternyata benar. Kata “merdeka” sering dipakai seperti poster motivasi. Ia indah dilihat, tetapi tidak selalu berarti kebebasan yang nyata.
Kalau Freire masih hidup hari ini, mungkin ia akan dikeluarkan dari grup WhatsApp kampus karena terlalu sering membuat suasana tidak nyaman.
Dari Freire ke Pekanbaru: Ketika Literasi Menjadi Perayaan
Beberapa waktu lalu saya membaca kabar yang cukup menggembirakan tentang dunia literasi di Pekanbaru. Kunjungan ke Perpustakaan Soeman HS meningkat cukup tajam. Hingga awal Desember 2025, jumlah pengunjungnya mencapai lebih dari 251 ribu orang, meningkat dari sekitar 189 ribu pengunjung pada tahun sebelumnya.
Koleksinya juga terus bertambah hingga lebih dari 324 ribu eksemplar buku.
Festival Literasi Riau juga kembali digelar. Penulis, komunitas buku, pelajar, dan pecinta literasi berkumpul merayakan buku. Ada diskusi, bazar buku, seminar, hingga lomba kreatif.
Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di kota ini, tentu saya senang melihat geliat seperti itu. Pekanbaru perlahan mulai memiliki denyut literasi yang terasa.
Namun seperti kata Tolstoy, kebahagiaan sering membuat kita lupa bertanya lebih dalam.
Pertanyaan yang mengganggu saya justru sederhana: apakah peningkatan angka kunjungan perpustakaan berarti kesadaran literasi kita benar-benar tumbuh?
Freire mengingatkan bahwa membaca bukan sekadar membaca buku. Yang lebih penting adalah membaca realitas.
Di sinilah masalah mulai terasa.
Ekosistem Literasi Pekanbaru: Tumbuh dari Komunitas, Gagap dari Struktur
Saya cukup sering berkeliling di ruang-ruang diskusi kecil Pekanbaru. Saya melihat sesuatu yang sebenarnya membanggakan: komunitas buku terus lahir.
Anak-anak muda berkumpul membaca, berdiskusi, bahkan mengundang penulis. Kadang ruangnya kecil, kadang kursinya seadanya. Tapi, semangatnya nyata.
Namun, di balik semangat itu ada dua kelemahan yang belum berhasil kita ubah menjadi kekuatan.
Pertama, interseksi antarkomunitas masih lemah. Banyak komunitas bergerak sendiri-sendiri. Padahal kolaborasi adalah kunci membangun ekosistem literasi yang sehat.
Kedua, kota ini masih miskin ruang publik yang ramah bagi komunitas literasi. Tempat berkumpul sering harus berpindah-pindah. Kadang kafe, kadang halaman rumah, kadang ruang diskusi yang sewanya tidak murah.
Padahal ironisnya, Pekanbaru cukup sering didatangi acara literasi besar. Penerbit besar pernah hadir di kota ini. Forum diskusi populer seperti Endgame pernah singgah. Antusiasme publik terlihat jelas.
Sayangnya, pemerintah daerah hanya tampak seperti penonton yang duduk terlalu jauh dari panggung.
Saya tidak mengatakan pemerintah tidak bekerja sama sekali. Festival literasi tentu patut diapresiasi. Perpustakaan Soeman HS juga merupakan kebanggaan daerah. Tetapi mari jujur sedikit.
Sering kali literasi masih dipahami terlalu sempit, seolah-olah hanya berarti membaca buku.
Padahal menurut definisi yang juga dipakai pemerintah sendiri, literasi mencakup kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara kritis. Ia mencakup literasi sains, digital, numerasi, finansial, budaya, hingga kewarganegaraan.
Literasi seharusnya melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis dan sadar akan realitas sosialnya.
Dalam bahasa Antonio Gramsci, literasi seharusnya melahirkan intelektual organik. Orang-orang yang berpikir bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk membela kepentingan masyarakat yang tertindas.
Kalau literasi hanya berhenti pada membaca buku lalu pulang, kita hanya menciptakan pembaca yang sopan tetapi tidak berdaya.
Kota yang Masih Belajar Membaca Dirinya Sendiri
Ada satu hal yang selalu membuat saya gelisah setiap kali berbicara tentang literasi di Pekanbaru.
Kita merayakan buku di ruang ber-AC, tetapi di sudut kota yang lain ada anak-anak yang bahkan tidak punya kemewahan itu.
Coba berjalan sebentar ke Bundaran Keris, atau ke simpang Panam dan Garuda Sakti saat malam mulai turun.
Di sana ada anak-anak yang harus bekerja sebelum sempat mengenal apa itu literasi. Mereka memikul kehidupan yang terlalu berat untuk usia mereka.
Saya sering berpikir, betapa ironisnya jika kota ini bangga dengan angka kunjungan perpustakaan, tetapi masih membiarkan anak-anak seperti itu tumbuh tanpa akses terhadap pengetahuan.
Freire mungkin akan mengatakan bahwa ini bukan sekadar masalah pendidikan. Ini masalah struktur sosial.
Literasi yang sejati seharusnya membuat kita peka terhadap ketimpangan seperti itu. Ia seharusnya menumbuhkan kesadaran kelas.
Kalau tidak, literasi hanya menjadi dekorasi intelektual.
Beberapa Usulan yang Terlalu Sederhana untuk Disebut Revolusi
Saya tidak ingin tulisan ini hanya menjadi keluhan panjang. Kritik tanpa tawaran sering berakhir seperti ceramah di ruang kosong.
Ada beberapa hal yang menurut saya bisa dilakukan secara konkret.
Pertama, mempermudah akses komunitas menggunakan ruang di Perpustakaan Soeman HS tanpa biaya yang memberatkan. Perpustakaan seharusnya menjadi rumah bersama bagi komunitas literasi.
Kedua, menghadirkan lemari buku di ruang-ruang publik. Taman kota, halte, atau ruang tunggu bisa menjadi titik kecil penyebaran buku.
Ketiga, menciptakan ruang publik yang nyaman bagi anak muda untuk berkumpul dan berdiskusi. Kota yang sehat selalu memiliki ruang di mana ide-ide bisa tumbuh.
Langkah-langkah ini terdengar sederhana. Tetapi dalam banyak kota di dunia, perubahan budaya sering dimulai dari hal kecil seperti itu.
Penutup: Literasi dan Keberanian Berpikir
Freire pernah mengatakan bahwa pendidikan yang sejati selalu melahirkan kegelisahan.
Kegelisahan itu penting. Tanpa kegelisahan, kita hanya menjadi masyarakat yang rapi tetapi mudah diarahkan.
Pekanbaru hari ini sedang berada di persimpangan. Kita bisa menjadikan literasi sebagai budaya yang benar-benar hidup, atau kita bisa puas dengan festival tahunan dan angka statistik.
Pertanyaannya sederhana.
Apakah kita ingin menjadi kota yang gemar membaca buku, atau kota yang berani membaca dirinya sendiri?
Karena pada akhirnya literasi bukan soal berapa banyak buku yang kita baca. Literasi adalah keberanian untuk melihat ketidakadilan, menyebutnya dengan jujur, dan bersama-sama mencoba mengubahnya.
Kalau tidak, perpustakaan hanya akan menjadi gudang buku yang rapi.
Dan kota ini akan terus berjalan tanpa pernah benar-benar memahami dirinya sendiri.
Sebatas Manusia
Hooman gaboet yang senang bercuap-cuap dan pembaca pemula.

0 Komentar