Tuhan dan Uang: Anak Dari Rahim yang Sama

Tuhan dan Uang: Anak Dari Rahim yang Sama

Yogananda
5 min read

Tentang Tuhan dan uang. Topik yang terdengar berat tapi percayalah semua yang penulis tuangkan di sini hanyalah hasil yapping semata.

Silakan jika ingin dibawa serius, tapi penulis menyarankan untuk dibawa ke tongkrongan dan jadi bahan diskusi sambil lalu. Atau pilihan lain, dibawa kencan dan jadi topik obrolan sama gebetan.

Premis utama tulisan ini adalah tuhan dan uang lahir dari rahim yang sama, yakni kepercayaan. Penulis menggunakan kata “tuhan” dengan “t” kapitil karena tidak merujuk pada tuhan tertentu.

Mari sepakati saja bahwa tuhan yang dimaksud di sini adalah semua entitas adimanusiawi yang pernah muncul dalam seluruh sejarah manusia. Kita lebih mengenalnya sebagai dewa-dewi.

Dalam buku yang melejitkan namanya sebagai pemikir yang patut diperhitungkan di abad 21, Sapiens: A Brief History of Humankind, Yuval Noah Harari menulis bahwa sistem kepercayaan terbesar dan terkuat yang pernah diciptakan manusia adalah sistem keuangan.

Sistem ekonomi, perbankan, dan lain-lain hanyalah peranakan dari kepercayaan umat manusia terhadap uang.

Satu hal yang membuat Homo sapiens menjadi penguasa tunggal bumi ini adalah kemampuan mereka menceritakan mitos.

Mitos mempererat koneksi antarindividu. Individu yang saling terkoneksi menciptakan masyarakat. Masyarakat kemudian menciptakan peradaban dengan segala seluk beluknya. Di titik puncaknya, masyarakat menciptakan mitos inter-subjektif yang dipercaya ratusan, ribuan, bahkan jutaan individu. Mitos kolosal itu kemudian melahirkan dua anak kembar. Yang pertama adalah kepercayaan terhadap uang. Yang lainnya adalah kepercayaan terhadap tuhan.

Mari membicarakan uang dahulu. Pernahkan kalian memikirkan bagaimana sebuah kertas bertuliskan angka tertentu berperan sangat vital dalam kehidupan masyarakat? (Bahkan sampai bisa menentukan hidup mati seseorang).

Bagaimana beberapa lembar kertas membuat seseorang bisa menukarnya dengan barang tertentu, menentukan nilai dari suatu hal, diperebutkan banyak orang, melahirkan ilmu-ilmu rumit, mengontrol kehidupan sebuah negara, membuat segelintir orang berkuasa atas orang-orang lain, bahkan membuat orang-orang saling bunuh?

Alasannya tidak pernah terletak pada kertas-kertas itu. Alasannya terletak pada sistem kepercayaan yang dibangun seluruh umat manusia di sekeliling kertas-kertas itu.

Ketika sesuatu yang abstrak dipercaya segelintir orang, hal itu disebut mitos. Ketika hal tersebut dipercaya begitu banyak orang, itu disebut sistem kepercayaan. Itulah persisnya yang terjadi pada uang.

Kita sama-sama percaya dan sepakat bahwa selembar kertas yang bertuliskan beberapa angka memiliki nilai tertentu yang bisa ditukarkan dengan seluruh benda di dunia ini. Kita sama-sama percaya pada nilai yang dituliskan di kertas tersebut.

Ketika kertas tersebut dirobek, kita juga sama-sama percaya bahwa kertas tesebut tidak ada nilainya. Padahal, kertas itu adalah kertas yang sama. Perlakuan yang berbeda ternyata mendapat kepercayaan yang berbeda. Coba saja belanjakan uang yang sudah sobek. Besar kemungkinan tidak ada orang yang mau menerima.

Coba bayangkan kita mengambil sembarang kertas putih polos dan menulis 1.000.000 di kertas itu. Apakah kita bisa membeli sesuatu dengan kertas tersebut? Penulis berani bertaruh jawabannya adalah tidak. Mengapa? Karena tidak ada kesepakatan bahwa kertas tersebut bernilai 1.000.000.

Tanpa kesepakatan, kertas tidak berarti sama sekali.

Coba belanjakan uang senilai 50.000. Apa yang bisa kita dapat? Banyak hal. Mengapa uang senilai 50.000 bisa membeli banyak barang tetapi sembarang kertas bertuliskan 1.000.000 tidak bisa digunakan sama sekali? Karena ada kesepakatan dan kepercayaan bahwa uang tersebut bernilai. Dan luar biasanya adalah kesepakatan dan kepercayaan tersebut terjadi di alam bawah sadar.

Ironis bahwa sistem keuangan dan ekonomi kita dibangun di atas sebuah mata rantai rapuh bernama kepercayaan.

Hal yang sama juga berlaku kepada entitas adimanusiawi yang disebut tuhan. Penulis berani bertaruh di zaman ini, ketika ada orang yang menyatakan bahwa Zeus adalah seorang dewa dan nyata sehingga harus disembah, paling baik orang itu akan ditertawakan, paling buruk dia akan dianggap sesat dan dibunuh.

Di zaman ini orang pasti percaya bahwa tuhan adalah satu dan maha kuasa. Tapi kemudian pertanyaannya adalah mengapa ribuan tahun lalu orang-orang Yunani memercayai Zeus dan dewa-dewa lain? Orang Romawi memercayai Iupiter, orang Mesir memercayai Ra, orang Aztec memercayai Huitzilopochtli, orang Finlandia memercayai Odin, orang India memercayai Shiva, dan masih banyak entitas adimanusiawi lain yang dipercaya setiap peradaban.

Jawabannya adalah kesepakatan. Kesepakatan bahwa ada entitas di luar nalar manusia bernama Zeus, Odin, Ra, Shiva, Huitzilopochtli. Kesepakatan itu kemudian berkembang menjadi kepercayaan.

Bayangkan di tengah kota Athena ada seorang yang mengatakan bahwa Zeus, Poseidon, Hades, dan dewa-dewa lain hanyalah kebohongan. Bahwa dewa yang sebenarnya adalah entitas tunggal bernama Tuhan Yang Maha Kuasa. Paling baik ia akan ditertawakan dan dianggap gila. Paling buruk ia akan ditangkap dan dibunuh.

Orang-orang di zaman itu tidak akan memercayai Tuhan Yang Maha Kuasa karena tidak pernah ada kesepakatan akan entitas tunggal bernama Tuhan Yang Maha Kuasa.

Seiring berjalannya waktu, kesepakatan itu kemudian bergeser. Orang-orang mulai meninggalkan kesepakatan akan eksistensi dewa-dewi dan mulai mengenal kesepakatan baru tentang eksistensi entitas adimanusawi tunggal yang berkuasa atas seluruh semesta.

Puncaknya adalah kemunculan agama-agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam) yang menyepakati adanya entitas dewa tunggal bernama Tuhan. “Tuhan” mendapat definisi dan bentuk finalnya dalam agama-agama ini. Sejak saat itu eksistensi dewa-dewi seperti Zeus, Odin, Ra mulai dianggap kebohongan dan hanya dijadikan cerita sejarah.

Berdasarkan yapping-an di atas, sah jika mengatakan bahwa uang dan tuhan lahir dari rahim yang sama: kesepakatan.

Implikasinya terletak pada bagaimana kita mengonsepsikan ulang entitas bernama “tuhan”. Bagi sebagian orang, konsep ketuhanan sudah mencapai titik finalnya. Konsep tersebut sudah disepakati ratusan juta manusia di seantero dunia hingga menjadi kepercayaan mutlak yang terlalu tabu untuk digugat.

Bagi sebagian yang lain, semoga tulisan ini menawarkan sudut pandang baru tentang sebuah entitas bernama tuhan. Bahwa tuhan merupakan hasil kesepakatan ratusan juta manusia di suatu waktu tertentu. Kesepakatan yang ratusan atau ribuan tahun ke depan sangat mungkin untuk berubah.

Dan jika diperbolehkan untuk arogan sedikit, aman untuk mengatakan bahwa umat manusialah yang menciptakan tuhan.

Yogananda
Contributor

Yogananda

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top