Jika kamar adalah tempat bermalasan dan kantor merupakan tempat mendulang nasi, maka Kedai Kang Putu adalah tempat menepi yang syahdu untuk menjaga kewarasan.
Jauh sebelum perjalanan membawa tubuhku bersemayam di Semarang, nama Kang Putu tidaklah asing. Beberapa waktu ia pernah berseliweran cukup sering di media sosial. Gaya khasnya membagikan ilmu dengan kesederhanaan, setidaknya itulah kesan yang membekas di kepala.
Aku terbiasa berkelana dari satu ruang diskusi ke ruang diskusi lainnya, selagi badan dan dompet masih sehat. Tidak perlu tambun, cukup selembar Karno bersemayam di dalamnya. Kali ini, di Semarang, setelah misuh-misuh sendiri berjibaku dengan teriknya kota dan keringnya ruang diskusi, aku seperti diguyur kesegaran dengan menemukan tempat menepi di Gunung Pati ini.
Kedai Kang Putu, yang dimiliki oleh sastrawan dengan nama asli Gunawan Budi Susanto, sungguh membuatku bernostalgia dengan tempat-tempat yang biasa kugandrungi untuk membunuh waktu dengan kudapan dan obrolan ngalor-ngidul.
Mula-mula, pertemuan kami terjadi ketika Syaqiva, seorang penyanyi, membawa karya kumpulan cerpennya untuk dibahas bersama kengkawan, termasuk Kang Putu.
Kami membicarakan karya salah seorang teman di forum itu. Ragam guyon dan pengetahuan bertebaran di sepanjang perbincangan. Aku datang sebagai orang baru, lebih banyak mengamati sambil sesekali ikut bercuap-cuap.
Ada sesuatu yang menyenangkan dari pertemuan semacam itu. Tidak ada sorot lampu dan tidak ada seseorang yang berdiri di depan ruangan untuk merasa paling tahu. Orang-orang hanya duduk, membawa tulisan, pengalaman, dan kepalanya masing-masing. Lalu percakapan bergerak ke mana-mana.
Barangkali begitulah warung kopi bekerja sejak dahulu. Ia bukan sekadar tempat orang membeli minuman, melainkan ruang untuk mempertemukan gagasan yang sebelumnya tidak saling mengenal.
Dalam sejarah Eropa, kedai kopi bahkan pernah menjadi salah satu ruang tempat orang bertukar kabar, membaca tulisan, bertengkar gagasan, dan membicarakan perubahan zaman. Kafe menjadi semacam ruang publik kecil untuk mempertemukan orang-orang yang berbeda.
Aku tentu tidak sedang membandingkan Kedai Kang Putu dengan kafe-kafe Paris menjelang Revolusi Prancis. Terlalu jauh dan terlalu sok tahu, wkwkwk. Tetapi, barangkali ada semangat yang sama bahwa manusia memang membutuhkan tempat untuk duduk bersama orang lain dan membicarakan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Pekan depannya, kukembali ke sini bersama kawan kantor. Kami kembali berkumpul dan bercerita, kali ini membawa tulisan-tulisan karya sesama kami. Tentu jauh dari pantas dan layak jika membicarakan karyaku—”disebut tulisan pun belum,” wkwkwk, kira-kira seperti itulah guyonannya.
Dari perbincangan itu, beberapa hal yang Kang Putu sampaikan kemudian menjadi catatan yang menempel di kepalaku:
Jangan menjadi pembaca yang malas; risetlah sebelum menulis dan tekuni riset itu; teruslah menulis, sebab bagaimana mungkin tulisan kalian bisa dihakimi jelek atau bagus jika wujudnya saja tidak ada?
Aku rasa semuanya acap dijumpai ketika belajar menulis. Sederhana, bahkan mungkin sudah terlalu sering didengar. Tetapi, seperti banyak nasihat baik lainnya, persoalannya bukan pada seberapa sering kita mendengarnya, melainkan seberapa sulit kita mengerjakannya.
Menjadi pembaca yang rajin, misalnya, terdengar sederhana sampai kita berhadapan dengan godaan untuk terus menggulir layar ponsel. Melakukan riset terdengar mudah sampai kita sadar bahwa satu paragraf tulisan bisa menuntut berjam-jam membaca. Terus menulis terdengar seperti nasihat paling klise sampai kita duduk di depan halaman kosong dan tidak tahu harus memulai dari mana.
Barangkali memang begitulah pengetahuan bekerja. Ia sering datang dalam bentuk kalimat-kalimat sederhana, tetapi membutuhkan hidup yang panjang untuk benar-benar dipraktikkan dan sublim ke tubuh.
Kedai Kang Putu yang letaknya di dataran tinggi juga membuat suasananya terasa nyaman. Untuk pertama kalinya bagiku, aku bisa bercengkerama di sebuah kedai tanpa dihujani jarum-jarum nyamuk berandalan.
Minuman hangat seperti kopi rempah atau teh menjadi teman ngobrol yang asyik. Kedai ini juga menyediakan makanan berat dengan harga yang sangat dicintai oleh dompetku yang ringkih itu.
Namun, yang membuat kedai ini menarik bukan hanya kopi, makanan, atau udara Gunung Pati yang lebih bersahabat. Dari cerita Kang Putu dan kesaksian temanku, kedai ini kerap menjadi tempat pertemuan yang tak disangka dengan beragam penulis dan pemikir. Orang datang untuk menyeruput teh/kopi, lalu bertemu seseorang. Datang untuk mengobrol, menambah teman, lalu pulang sebab kantuk mulai menyerang. Datang karena ingin membeli kopi, kemudian tanpa sadar ikut membicarakan puisi, cerpen, buku, atau entah apa lagi.
Menurutku, memang begitulah sejatinya warung kopi yang dirawat oleh seorang sastrawan.
Hidup juga seperti itu. Ia acak, sering kali tidak memberi tahu kepada siapa kita akan bertemu. Satu percakapan dapat membawa kita ke percakapan lain, satu orang dapat memperkenalkan kita kepada orang berikutnya, dan satu tempat dapat membuat sebuah kota yang semula terasa asing perlahan menjadi sedikit lebih akrab.
Aku mengalaminya sendiri ketika berbincang seru dengan Kang Putu, kemudian dikenalkan dengan kawan-kawan penulis di Semarang dalam Malam Jemuran Puisi. Barangkali kalau tidak pernah mampir ke kedai itu, beberapa perjumpaan tersebut tidak akan pernah terjadi.
Ada sesuatu yang menarik dari ruang-ruang semacam ini. Kita tidak datang dengan tujuan yang selalu jelas. Tidak ada algoritma yang menentukan siapa yang harus kita temui. Tidak ada sistem rekomendasi yang memberitahu bahwa orang ini akan cocok dengan minat kita. Kita hanya datang, duduk, dan berbicara. Sisanya diserahkan kepada kemungkinan.
Mungkin karena itu aku menyukai ruang diskusi yang tidak terlalu resmi. Pengetahuan terasa lebih manusiawi ketika ia dibicarakan sambil menyeruput kopi, diselingi tawa, bantahan, bahkan sesekali guyonan yang tidak ada hubungannya dengan topik awal.
Kang Putu juga mengingatkanku bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung dalam ruang kelas formal sekaku batang jati muda. Ada pengetahuan yang tumbuh dari buku, tetapi ada pula yang tumbuh dari percakapan. Ada hal yang tidak akan kita temukan dalam teori, tetapi tiba-tiba muncul ketika seseorang yang lebih dulu berjalan memberi tahu, “Bukan begitu,” lalu menjelaskan alasannya.
Kang Putu bukan sekadar lelaki senja yang menikmati obrolan dengan senda gurau yang disisipi pengetahuan. Ia merawat percakapan itu. Ia merawat orang-orang yang datang dengan membawa kegelisahan kecil, tulisan yang belum selesai, atau sekadar keinginan untuk berbincang.
Walaupun kuyakin benar ia akan membantah pernyataanku ini.
Barangkali karena itulah, aku menggambarkan sosoknya, terasa ada selapis Tolstoy dan se-rim Pramoedya Ananta Toer di tubuh Kang Putu. Bukan karena aku cukup pandai untuk menempatkan seorang sastrawan di antara dua nama sebesar itu, melainkan karena ada sesuatu yang kurasakan dari cara ia bercerita: pengetahuan yang tidak berjarak, kehidupan yang dibicarakan tanpa perlu dipoles menjadi terlalu indah, dan keyakinan bahwa manusia selalu punya sesuatu untuk dipelajari dari manusia lainnya.
Aku bisa saja keliru.
Sebab pada akhirnya, tulisan ini bukan tentang siapa Kang Putu sebenarnya. Aku hanya mengenalnya dari beberapa pertemuan, beberapa gelas minuman, obrolan yang panjang, dan cerita-cerita yang belum tentu cukup untuk menyimpulkan seseorang. Yang bisa kuceritakan hanyalah bagaimana perjumpaan-perjumpaan kecil itu bekerja terhadap diriku sendiri.
Setidak-tidaknya, kedai kecil Kang Putu di Gunung Pati ini menjadi tempatku untuk menepi di tengah karut-marutnya isi kepala dan rutinitas pekerjaan yang, jujur saja, membosankan.
Aku yang sedang “berjuang” untuk tetap hidup merasa cukup terselamatkan oleh perbincangan-perbincangan hangat di kedai ini. Oleh pengetahuan demi pengetahuan baru untukku yang pemalas dan seorang pembaca pemula. Oleh tawa yang tidak perlu direncanakan. Oleh orang-orang yang mungkin baru kukenal, tetapi membuat sebuah kota terasa sedikit lebih ramah.
Mungkin kita semua membutuhkan tempat semacam ini.
Tempat untuk datang tanpa harus menjadi siapa-siapa. Tempat untuk membawa tulisan yang belum sempurna. Tempat untuk berdebat tanpa harus menang. Tempat untuk belajar tanpa merasa sedang diajari. Tempat untuk duduk lebih lama dari yang direncanakan, lalu pulang dengan kepala yang sedikit lebih ringan.
Terima kasih banyak untuk hal-hal tersebut, Mas Gunawan yang bukan Goenawan.
Sehat dan bahagia selalu, Kang.

0 Komentar