Salam kenal semua! Aku mahasiswa baru jurusan Geofisika, mau sharing nih pengalaman aku tentang makanan. Pertama, aku mau bilang punten belum bisa kasih nama asli, takut ketahuan senior soalnya (hehe). Aku aslinya dari Jakarta, tapi aku sampai SMA sekolah di Singapura. Aku pertama kali tahu tentang Etnofest dari temen aku jurusan Antropologi Angkatan 2020, dan di sini aku bilang “temen” tapi sebenernya sudah enggak… dan ini semua dimulai gara-gara semangkuk seblak setan sialan.
Cerita ini dimulai pada suatu siang hari di bulan Agustus lalu, tepatnya di dekat Masjid Raya Unpad. Waktu itu kami lagi jalan bertiga ke arah gerlam dengan niat mau membeli Teh Poci, karena kebetulan hari itu panasnya mirip neraka. Jadi, aku lagi ngobrol sama “temanku” ini, sebut saja “Akang”. Dia lagi bawa pacarnya, sebut saja “Teteh”, dari jurusan Antropologi angkatan 20 juga. Kita lagi asik-asik ngobrol, tiba-tiba Teteh nyeletuk “Eh, gue laper nih!” Dan secara otomatis Akang langsung jawab “Iya, urang juga laper, dah! Makan yuk.” Begitu dia bilang, dan kayaknya sih dia gak laper-laper banget tapi ya sudah lah. “Maneh mau ikut makan juga ga?” Katanya sambil menepuk pundaku. Aku sebenarnya sudah makan tapi karena dia senior, aku kok merasa kalau aku gak punya pilihan lain selain ikut. Jadi, setelah aku mikir lima detik, aku bilang “Ayo, deh.” Dan di sini titik mula penyesalanku.
Akang sama pacarnya ini awalnya bingung mau makan apa, tapi entah dari mana dia bisa tahu, atau mungkin dia cenayang, Teteh bilang “Eh, lu belom pernah makan seblak, ‘kan? Ayo cobain, deh.” Terus dia tambah gini, dan aku gak bakal pernah lupa apa yang waktu itu dia bilang. “Enak banget, deh!” Tiga kata yang sampai sekarang masih terngiang di dalam kepalaku. “Oh, boleh teh.” Aku mengiyakan dengan tawaan. “Emang aku belom pernah nyobain, sih.” Dengan bodohnya aku menambahkan. Memang iya, aku belum pernah makan seblak, tapi aku tahu kalau seblak itu semacam makanan pedas berkuah yang isinya macam-macam. “Ya elah, paling kayak Indomie doang…” Pikirku dalam hati. Idiot.
Setelah beli Teh Poci, kami lanjut jalan ke sebuah warung seblak di sekitar Jalan Ciseke, sedikit masuk gang. “Enak, nih.” Kata Akang, sambil masuk ke warung tersebut. Aku baru mau masuk, tapi jujur sedikit ragu. Aku baca tulisan di spanduk berwarna merah yang dipasang di atas. ‘Seblak SETANNNNN’ begitu bunyi tulisan di spanduk, lengkap dengan gambar-gambar cabai yang kelihatannya diambil dari Google. Aku masuk ke warung dan berdiri di sebelah Akang di depan semacam gerobak kaki lima. Dari depan kaca gerobak, aku mulai bingung. Hal pertama yang aku lihat itu segala jenis kerupuk yang aku gak tahu nama-namanya selain kerupuk putih. Ada yang warna-warni, ada yang kayak bintang, ada yang kayak kerupuk nasi goreng, dan seterusnya. “Oke, menarik.” Pikirku sambil melihat-lihat bahan-bahan yang disediakan. Aku lihat ada tahu, bakso, sosis, kwetiaw, mie kuning, dan… pasta? Di sini aku tambah bingung. “Kok ada fusilli?” Dan gak sampai situ saja, di situ juga ada dua kantong plastik bening yang isinya makaroni.
“Teh, mau mesen. Pedes.” Akang bilang ke teteh penjual seblak yang selama ini lagi senyum-senyum sendiri main HP. “Sok, mau yang mana a?” Ujar si penjual. “Mau kerupuk Rafael, teh.” Kata Akang sambil menunjuk ke kerupuk putih. Kerupuk Rafael? “Rafael siapa deh?” Aku bisik dalam hati. Sejak kapan kerupuk putih disebut kerupuk Rafael? Tapi, pikiranku dibuyarkan oleh Akang. “Tahu, sosis, sama makaroni item, teh.” Makaroni item? Aku lihat ke salah satu plastik makaroni yang Akang tunjuk dan yang aku liat cuma makaroni murah biasa. Gak ada hitam-hitamnya sama sekali. Mungkin aku bertanya-tanya karena aku baru pertama kali dan belum familiar dengan Jatinangor, tapi di saat ini aku merasa seperti di dunia alien yang gak masuk akal.
“Aku juga sama ya, teh.” Saut Teteh yang sudah duduk di meja yang terletak di pojok. “Nengmau yang mana, neng?” Tanya si penjual ke aku. Tanpa berpikir panjang aku bilang “Mau pake sosis, ini, ini, sama kerupuk yang ini deh, teh. Oh iya sama ceker juga. Jangan pedes-pedes ya teh.” Kataku sambil menunjuk ke tiga jenis kerupuk secara asal. “Siap, neng.” Si penjual mengangguk dan dia mulai membuat seblak. Aku duduk di samping Akang yang lagi sibuk buka Instagram.
Gak lama, si teteh seblak membawa tiga kotak styrofoam ke meja kami satu persatu. Pertama punya Akang, lalu Teteh, dan yang terakhir punyaku. Bayangin saja, styrofoam, dialas plastik (yang sudah jelas bukan untuk makanan), diisi oleh makanan pedas berkuah yang panas. Apa gak kena kanker? Aku gak punya ekspektasi yang “wow” tentang seblak tapi waktu aku lihat ke dalam wadah yang gak layak itu, yang ada isinya seperti tinta merah. Kayak darah. Tapi yang paling parah itu baunya, kayak bau ketek. Aku langsung pusing. Akang dan Teteh kelihatannya enjoy saja, tapi aku di situ rasanya mau meninggal. Aku main-main dengan sendok plastik kecil yang sama sekali gak berguna buat mengambil campuran topping dalam seblak. Kerupuk yang tadi aku pilih semua jadi menggumpal putih kemerahan, kayak lambung binatang busuk. Aku ambil sepotong sosis yang sama sekali gak meyakinkan. Bentuknya kecil, lonjong, putih kayak… begitulah.
Dengan ragu-ragu aku mendekati mulutku ke sendok plastik itu dan memberi gigitan kecil. Rasanya aku mau muntah di tempat. Huek. Aku gak bisa menjelaskan rasa sosisnya. Mungkin sedikit manis tapi hambar, lembek, kenyal dan aneh… mirip makan lemak digulain. Aku gak tahu daging hewan mana yang dipakai buat sosis ini, tapi kayaknya itu gak penting soalnya aku yakin ada lebih banyak radiasi dan bahan kimia di sini daripada di Chernobyl. Pokoknya parah dan gak enak. Aku terus ambil gumpalan tepung yang semula adalah kerupuk. Ya, kerupuk yang seharusnya adalah makanan renyah dan kriuk jadi berbentuk karet. Aku coba gigit dan benar saja, rasanya persis kayak karet, dengan sedikit rasa asin berlendir yang mengingatkanku dengan ingus. Ditambah lagi, teksturnya licin menjijikan. Aku lebih mending jilat lantai yang habis di-pel daripada makan kerupuk seblak. Apa maknanya kerupuk sebanyak itu kalau pada akhirnya jadi seonggok organ dalam dan sampah B3. Dan terakhir ceker. Aku menyesal sudah memesan ceker buat topping seblak ini. Ceker itu seperti tangan orang tenggelam yang meminta tolong. Nasibku seperti ceker ini, mencoba meminta pertolongan untuk keluar dari penderitaan ini.
Aku gak tahan, tapi aku tetap paksa makan soalnya gak enak sama Akang dan Teteh. Nanti kesannya aku gak mau hang out sama mereka. Akhirnya aku makan juga. Seingatku aku pesan gak pedas tapi entah karena kelalaian si teteh seblak atau memang toleransi kepedasanku lemah, lidahku rasanya seperti dibakar dan dioles batu bara. Di setiap gigitan aku mau mati, setiap kali aku menelan sosis gak jelas itu jantungku memompa darah lebih cepat. “Enak ga?” tanya si Teteh dengan senyuman yang polos. “Enak…enak kok, teh” kataku dengan muka yang mencoba menahan rasa mual meskipun dalam pikiranku aku mengutuki si Teteh, “Gila aja lu! Kayak gini lu bilang enak?”…
Aku mau muntah. Entah bagaimana caranya, mungkin karena aku pada saat itu mati sejenak, aku menghabiskan seblak setan itu. Aku gak tahu apa yang terjadi setelahnya, dan aku gak mau ingat, tapi di kost-an perutku jungkir balik. Belum enam hari aku tinggal di kost itu, toiletku sudah ingin menyerah di tengah pencernaanku yang meronta-ronta.
Trauma. Aku kapok makan seblak. Mungkin aku hiperbolik, tapi itu yang aku rasakan. Seblak itu makanan paling aneh dan gak jelas yang pernah aku makan. Makanan paling mematikan yang sama sekali tidak ada nilai gizinya. Seblak adalah penyakit, dan sampai sekarang aku gak pernah makan makanan sial itu lagi. Dan aku gak akan sampai kapan pun…
@officialmonkeytheorem

0 Komentar