Realitas dalam Komedi, Naskah Teater “Pinangan”

Realitas dalam Komedi, Naskah Teater “Pinangan”

Fajar Hanif Mubarok
2 min read

Sekitar tahun 1950-an sampai 1970-an, pegiat teater Indonesia banyak menyadur naskah-naskah asing. Kerja saduran itu, menurut Jakob Sumardjo (1992), dapat dipahami karena naskah-naskah berbahasa Indonesia kurang memadai secara teatrikal. Kebanyakan penulis naskah adalah para sastrawan sehingga hasilnya enak dibaca sebagai karya sastra, namun mengalami kesulitan untuk dipentaskan.

Begitulah naskah-naskah asing kemudian subur dalam kehidupan teater Indonesia 1950-1970an. Salah satu penyadur itu bernama Suyatna Anirun, ia menyadur naskah The Proposal karya Anton Chekov menjadi sebuah naskah berjudul Pinangan.

Pinangan bercerita mengenai pria bernama Agus yang hendak melamar Ratna. Ceritanya ringan, dan memang begitulah naskah komedi. Agus melamar Ratna tetapi mereka terjebak dalam perdebatan yang tidak memiliki titik temu. Yang menarik –menurut saya— adalah bahwa naskah itu terlihat hendak menampilkan ‘tanda’ dalam komedinya.

Kita telah bosan dengan berbagai hal yang dibuat-buat, misalnya kesopanan yang sering ditampilkan untuk citra agar terlihat baik. Dalam hidup keseharian yang berdampingan bersama orang lain, kita memang dituntut untuk mendahulukan kepentingan kerukunan ketimbang keuntungan pribadi, atau keegoisan pribadi, atau mungkin arogansi pribadi.

Pinangan menampilkan keegoisan individu itu dalam komedinya, kita dapat mudah melihat itu dalam dialog antara Agus, Ratna, dan Rukmana. Apakah yang dituju dalam pertunjukan egoisme itu?

Menurut saya Pinangan dapat dipahami sebagai sarana didaktis bagi kewaspadaan kita dalam kehidupan bersama. Melihat orang-orang di sekeliling kita, artinya melihat egoisme semuanya. Ada yang tersembunyi di dalam diri orang lain di balik embel-embel kesopanan mereka, dan itu mewujud selimut komedi dalam Pinangan.

Hal itu juga berarti bahwa Chekov menunjukkan keprihatinannya kepada manusia, sebagai makhluk moral yang harus mengubur keinginannya dalam hidup bersama, serta harus memberi pujiannya kepada orang yang mungkin tidak terlalu pantas untuk dipuji.

Pinangan berbicara itu.

Fajar Hanif Mubarok

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top