Tuhan, apa hukumannya jika aku berharap kakakku sendiri mati? Apakah hukumannya lebih berat daripada berharap seseorang asing mati? Apakah lebih ringan daripada mengharapkan ayah mati? Tapi ayah memang sudah lama mati. Tuhan, aku benar-benar berharap si Kakak keselek kata-katanya sendiri ketika sedang sibuk membicarakan konsep keluarga ideal setiap sarapan pagi di meja kaca. Dan kadang-kadang, si Kakak juga akan membawa-bawa namamu. Tuhan bilang ini, Tuhan bilang itu. Kupikir sendiri, kapan si Kakak mengenalmu dengan begitu baiknya, sementara dia sendiri tak mengenal ibu dengan begitu baiknya. Kemarin si Kakak tak ingin ibu pergi ke pasar agar ibu baik-baik saja. Tapi kemudian Kakak meminta ibu memikirkan nasibnya. Bukankah memikirkan nasib seseorang, terlebih ibu yang memikirkan anaknya, lebih berat daripada sekadar pergi ke pasar untuk melihat cabai dan mengeluh: harganya makin mahal, ya?
Aku diam saja ketika keluarga ini mau hancur. Sebab aku begini-begini juga anggota keluarga ini. Sebagai bentuk kebersamaan: lebih baik hancur bersama daripada berusaha menyelamatkannya dan gagal. Walaupun aku berhasil, aku berhasil sendiri. Kebersamaan keluarga macam apa itu?
Seperti sekarang ini, si Kakak kembali membawa-bawa namamu. Sebab ia khawatir aku melakukan yang tidak-tidak. Kakak suka sekali ceramah. Tapi, ia tak punya mulut, lebih-lebih, akal sehat. Tuhan bilang ini, Tuhan bilang itu. Si Kakak nyemprot-nyemprot. Tapi tak ada yang akan menjadi lebih subur di keluarga ini. Tak ada yang tumbuh, banyak yang layu.
Aku berusaha menghapus masa kecil. Karena masa kecil sudah berakhir di sini. Tak ada baik untuk mengingatnya. Nanti semakin sakit hati. Sehabis ini, masa dewasa tak akan menyenangkan. Tapi hidup selalu berjalan, dan terus berjalan, seperti apa-apa yang selalu berjalan.
Nah, ada andil apa dirimu dalam keluargaku, Tuhan? Benarkah kau peduli pada keluarga kecil kami ini? Bukankah kau punya banyak pekerjaan yang lebih penting? Bukankah kau harus melihat dosaku hari ini? Atau dosa siapa? Banyak sekali dosa, jika dosa seperti yang kupahami sejak dulu. Kuharap konsep dosa masih sama saja begitu. Yang kurang-kurang. Tapi semuanya makin begitu kabur. Seperti jalanan dari Bungur ke Kalibata pada tengah malam, pada laju yang begitu cepat seperti nyawa.
Semua pikiran ini hanya untuk makan nasi goreng bersama keluarga. Nenek bilang Tanteku harus berhenti nulis-nulis yang aneh, yang mengkritik pemerintah itu. Nenek bilang, “Nanti hilang kamu, zaman sekarang bahaya!” Aku dan adik suka ketawa, tapi bingung, agak khawatir juga. Nenek memang suka lupa kalau sekarang sudah bukan lagi Orde Baru. Tapi Nenek selalu merasa seperti masih hidup di zaman Orde Baru. Tapi kenyataannya sekarang seperti: Orde Baru lagi. Waduh. Doa lansia memang ampuh, kurasa. Tapi Tante bilang, “Tulisan Ati kan cuma cerpen.” Tante semalam memang sibuk menulis cerpen soal presiden yang menjadi balon, dan kemudian dihirup oleh seorang anak bocah. Dan bocah itu, dengan suara helium yang tinggi, tinggi sekali, ngomong: aku cuman pria yang sedih. sedihhhhhhhh sekaliiii. oh, kasihannnnn … kasihani akuuuu. Aku berantakannn. Berantakannn bangetttt. Aku ingin cintaaaa. Tapi orang yang berantakan macam dirikuuuu, cinta apaaa yang mau menempelllll? Oh, ayahhhh. Oh, ayahhhh. Tunjukkann jalannn.
Tante suka ketawa sendiri membayangkan ceritanya. Kadang, Tante memang paling senang ketika membayangkan kehidupan lain, apa pun dan bukan yang sedang terjadi. Tante adalah orang yang paling sering tidak di rumah, jika boleh menganggap, membayangkan diri sendiri tidak di rumah, juga artinya sedang tidak ada di rumah.
Si Kakak diam-diam, di belakangku, suka bilang—aku ini belakangan apatis sekali. Mau kabur, ya dia. Nggak pernah ngomong apa-apa lagi. Urusan keluarga pun, dia tampak tak peduli. Cemberut mulu. Gitulah kalau udah sok-sok berorganisasi itu. Sok aktif itu. Urusan di luar rumah, dikiranya lebih penting daripada yang ada di dalam rumah.
Aku apatis?
Damn right, kupikir. Aku berdiri, masuk ke dalam kamar. Dan tak ingin membayangkan apa yang terjadi di luar rumah, bahkan apa yang terjadi di luar kamar. Tapi aku ingin membuka gagang pintu ketika kudengar suara tertawa yang kencang sekali dari arah meja makan.
Aku memikirkan: apakah ada lelucon yang selucu itu, yang berhak ditertawakan sekencang itu?
2026

0 Komentar