Seperti Apa di Negara Tuhan?
Bukan kaki, tapi amarah yang berlarian di dalam tubuhmu. Di mana letak garis finish emosi? Pak Karso, ojol, 46 tahun, menikah (secara teori), dan dari caranya berbicara dan berpikir, berani mati, ketika sedang berusaha menemukan jalan-jalan tikus di ibukota yang ditinggal ayah. Sebab ada marathon. orang-orang berlari, seperti aliran darah, tapi jalan banyak yang ditutup. Lantas Pak Karso menderita penyakit jantung. Apa jadinya bila semua akses ditutup? Sarinah berbenah, mie ayam sudah habis. Kalori dibayar kalori. Diet sayur dibayar lontong. Pak Karso tiba-tiba takut mati. Akhirnya, semua patuh dengan palang pembatas antara jalanan dan rel.
Tentara mengusir kami dari selamat datang. Kami, monumen yang sedih. Polisi mencari buku-buku untuk dibakar, padahal kami sudah membakar diri sejak lama. Dan orang-orang bersenjata, yang berani sekali itu, ketakutan cuman karena asap. Intel mengira bisa mencuri gaya kami, tapi gaya tak bisa dicuri. Mereka tak pencipta seperti kami. Orang-orang dalam akuarium marah-marah, sebab kami keluar dari air, tidur di daratan, berenang di udara. Mereka tak paham, niat kami ingin meluaskan perairan. Tapi apa yang diketahui ikan-ikan soal langit?
Negara ini buruk sekali, sayang. Bagaimana negaramu? Bagaimana kehidupanmu di kota Tuhan? Apakah di sana juga ada demonstrasi? Jika iya, bagaimana Tuhan memperlakukan demonstran? Apakah ia masih mengizinkan air mata turun sebab gas-gas, dan bukan doa-doa yang terjawab? Apakah di sana orang-orang masih mempermasalahkan jalan-jalan yang tertutup, meski Tuhan sudah sedemikian sering memberikan bukti kalau jalan selalu ada?
Barry Kecil ingin ke Prancis. Kami menyebutnya kecil, bukan melulu perkara tubuh. Kecil, hanya kata itulah yang paling tepat menggambarkan Barry Kecil. Barry Kecil hanya ingin melihat kebudayaan Tuhan. Barry Kecil mengaku tahu bagaimana ia akan mati. Tapi bukan karena ini, kami juga menyebutnya kecil.
Kalau Pak Karso menjemput Barry Kecil, dan memboncengnya dalam helm-nya itu, mereka akan menerjang ibukota, tanpa takut mati, dan mereka jelas tak punya waktu untuk urusan mistis seperti takut kepada aparat. Mereka memilih untuk hidup secara vertikal di pembatas-pembatas besi bertuliskan POLISI. Presiden akan melihat hal ini, tapi malah membicarakan hal lain.
Kami menerka-nerka apakah kami akan mati dalam kondisi mencintai negara ini? Saat Tuhan menciptakan kami, seperti apa caranya mendeskripsikan negara tempat kami tinggal kelak? Bagus-bagusnya? Jelek-jeleknya? Entah. Tapi aku hari ini sangat ingin mati dengan keadaan mencintai negara. Sebab negara di balik dinding kematian itu indah sekali.
Halo, kamu bisa jemput aku di negara Tuhan? Aku datang tanpa apa-apa, dan aku memang tak punya apa-apa.
2026
Degirol untuk Negara
Tenggorokanku sakit sekali, aku tak bisa mengucapkan Negara tanpa merasa perih. Tapi ibu paling paham soal infeksi. Ia memberikanku sebutir degirol, untuk meredakan radang, terutama soal negara. Dan setelah sembuh, aku berharap aku tak usah repot-repot beli makanan makanan manis hanya untuk mengizinkan diriku jadi sedih sambil mikirin strategi hidup yang terbelah. Aku harus berbenah, meski negara seperti kamar kost yang berantakan. Aku bingung mulai darimana, tapi aku ingin hidup. Harus hidup. Aku ingin meminjam The Beatles dari caramu bilang i will, tanpa tahu apa yang perlu kau-will.
Menulis e-mail selalu menyenangkan. Fakta kalau aku akan mengirim sesuatu kepada seseorang, selalu menyenangkan dalam pikiran.
Send to: kakak <3
Sebuah foto: presiden lagi jajan ke warung. Beli roti dua ribuan, perisa kardus. Dan ia kemudian memajangnya di sebuah museum gizi.
Kakak, membalas: anddd iiii justtttt wisshhh peopleeeee ideallll ideologyyyyy issss commonnn fuckinggg senseee!!!!!
breaking news: A crisis, coming in hot!
Secara ababil?
Mari bung, rebut kembali.
“Rebut apa?”
“Dapur-dapur”
Ah, hari yang baik untuk menyatakan cinta!
Pak Presiden, will you parry me?
2026
Gapapa
“Kamu nggak mirip bapak, ah.”
“Lalu mirip siapa, holidey si kucing?”
“Kurang imut kalau itu. Kamu lebih kayak musang.”
“Wkwkwk. Pandan?”
“Pukis kali.”
“Terus mirip siapa dong, aku?”
“Nggak mirip bapak yang pasti. Tapi ibu juga nggak.”
“Tapi banyak yang bilang aku mirip paman.”
“Tapi pamanmu mati muda. Aku lupa wajahnya.”
“Sebenarnya aku juga …”
“Nggak apa-apa, lah, mukamu nggak mirip bapak dan ibumu. Toh, kamu nggak suka mereka.”
“…”
“Kok diem doang?”
“Aku bener-bener nggak bawa apa-apa, ya, dari mereka.”
“Emang mereka pernah kasih kamu sesuatu?”
“Apa, ya, hmmm, cuman ini?”
“Tubuhmu?”
“Luar dan dalam.”
“Itumah aku juga bisa kasih.”
“Gimana tuh maksudnya?”
“Tutup matamu.”
“Gelap …”
“Sim salabim, jadilah!”
“Wow …”
“Nah, mukamu mirip siapa sekarang?”
“Kayak kehidupan itu sendiri.”
“Alay, njirr …”
“Ternyata mukaku bisa juga dibentuk olehmu, ya.”
“Apa aja bisa kalau sama yang kamu sayang.”
“Bakal kupakai setiap hari.”
“Jangan lupa dicuci.”
“Tapi nanti bapak ibu bakal bilang apa?”
“Bakal bilang kamu berubah.
“Dan gapapa.”
“Iya … gapapa.”
“Gapapa.”
“Aku cuman bawa rasa takut dan kebodohan, ya, dari bapak dan ibu.”
“Gapapa.”
“Aku pengen mati gara-gara mereka.”
“Gapapa.”
“Aku nggak mau pulang malam ini.”
“Gapapa, kok.”
“Jangan bilang gapapa terus.”
2026

0 Komentar