Bulan Berkeping-keping

Bulan Berkeping-keping

Mo. Adim
10 min read

Aku menepuk kepala beberapa kali. Tangan kananku menggenggam kuas, sehingga pangkalnya menusuk dahiku. Rasa sakit di sana bisa kurasakan dengan jelas. Namun, ia tak cukup mampu mengalihkan rasa sakit yang mendekam di dada, begitu dalam.

Kini aku memukul dada. Masih dengan kuas di tanganku. Kurasakan pangkal kuas menusuk tulang rusuk, yang kuharapkan rasa sakitnya bisa menembus ke jantung. Menghilangkan apa pun yang menyumbat di sana. Debar tak beraturan yang selalu kurasakan tiap kali aku menghadap kanvas. Putih. Bersih.

Aku mendekat.

Pupil mataku menari mengikuti alur serat-serat kasar di lembaran putih lebar itu. Lalu jemari tangan kiriku merentang. Ujung lima jariku menyentuh kanvas begitu pelan. Kupejamkan mata, kini ujung lima jariku jadi mata yang menelisik tiap bagian. Seperti meraba peta, sementara gelap yang diciptakan kelopak mataku menampilkan potongan adegan-adegan.

Debar jantungku makin tak beraturan. Hingga saat semua potongan adegan itu selesai bergulir, tanpa sadar air mataku hampir tumpah, jika tak segera kuusap dengan lengan baju. Kini, pandanganku ke arah kanvas buram karena mata yang belum kering benar. Namun itu tak menghalangiku untuk meraih palet. Tanpa perlu melihat ke arah palet, tangan kananku mengayun kuas ke sana, lalu ke kanvas.

Bahkan dengan buramnya pandangan mataku, karena berkali-kali aku seka di sela-sela ayunan kuas, tak butuh waktu lama untuk kanvas putih itu jadi sepenuhnya hitam. Aku berhenti, mencelupkan kuas ke kaleng penuh cairan pembersih. Duduk di pojok kamar. Perlahan pupil mataku menyusuri tiap jengkal kamar ini. Di pojok dekat pintu, sebaris lukisan kecil bermacam-macam objek, tapi dominan warna hitam. Di pojok yang lain, meja kayu menanggung beban buku-buku. Di meja itu, tergeletak satu kalung yang tak pernah ingin aku kenakan lagi, tapi Mama selalu memintaku.

Pupil mataku naik. Kulihat tepat di atas meja itu, sebuah sketsa wajah terbingkai rapi, menggantung di dinding.

Aku memandangi skesta wajah itu lekat-lekat. Masih bisa kuingat hampir tiap goresan pensil yang aku toreh sampai sketsa itu terbentuk. Friedrich Nietzsche. Seorang bule Jerman berjas rapi dengan dasi kupu-kupu. Kumis tebal laki-laki itu adalah bagian tersulit yang paling menghabiskan waktu.

Lalu pupil mataku bergeser menuju kanvas yang kini hitam. Aku termangu.

Kini tanpa perlu memejamkan mata, pekat gelap dari kanvas itu mampu memutar potongan-potongan adegan itu kembali. Adegan yang bahkan aku sendiri menerka, seberapa banyak yang luntur dari  memori, juga seberapa banyak yang dilukis imajinasi. Tiap-tiap adegan yang kemudian menjelma jadi objek-objek dalam kanvas. Aku bisa melihat segalanya di sana, dan aku siap melukiskannya.

Kuraih palet, kutuang cat merah untuk darah, kucampur cat coklat, kuning, dan putih sampai menyerupai warna kulit cerah, lalu kutuang cat coklat, cat putih, lalu….

“Mama,” gumamku.

Nyeri kembali hinggap di jantung. Entah takut, atau khawatir, aku bahkan tak pernah yakin. Namun aku merasa, Mama tak boleh melihat lukisan yang akan kubuat. Aku tak akan mampu menjawab pertanyaan apa pun yang mungkin keluar dari bibir Mama, jika ia melihat lukisanku nanti. Aku takut pada entah pengaruh apa yang mungkin diberikan lukisan ini, pada mental Mama. Juga pada entah apa yang mungkin akan Mama lakukan jika ia memahami apa yang telah bercokol di pikirkanku beberapa waktu terakhir.

“Aku perlu metafora,” gumamku lagi.

Maka aku ambil palet lain, kembali mencampur cat dengan pilihan warna yang sama sekali lain. Adegan-adegan yang sudah tersusun jelas di kepalaku kurombak habis. Kini, di palet yang aku pegang, tak ada lagi warna merah, karena kuganti abu-abu. Warna yang kubayangkan akan muncul dari remah dan serpihan, jika Bulan jadi debu.

Kini, aku berdiri menghadap kanvas lagi. Dari hitam kanvas yang pekat, sinema terbuka di kepalaku, sementara tanganku siap untuk mulai mengayun kuas.

***

“Masa makan malamku cuma tempe sambel begini? Uangnya kamu kemanain?”

Bentakan Papa selalu jadi tamu tiap kali laki-laki bermuka seram itu pulang. Ia memang seperti tamu. Pulang tak pernah tentu. Tapi jika tamu setidaknya tidak akan menyakiti Mama, Papa pulang selalu menggores luka. Nada bicara tinggi yang sangat jarang terdengar di rumah ini. Tidak pernah ada amarah di keluarga ini. Bagiku, Papa sudah tak lagi jadi bagian dari kami sejak kali pertama ia memukul Mama.

Entah apa yang Papa permasalahkan kali ini. Di kamar, dekat ruang makan, aku terus menerus berusaha menyumpal telinga dengan bantal. Tak ingin sedikit pun ingin kudengar suara Papa. Tapi teriakan laki-laki dewasa macam dia masih mampu menembus bantal tebal yang menutupi telingaku. Memang, tak jelas apa yang ia ucap. Tapi jelas, tidak ada satu pun kata-kata yang menyenangkan.

Kedua bantal itu baru lepas dari telingaku saat suara Mama tiba-tiba berhasil menembus tebal bantal. Mama marah balik? Seluruh tubuhku gemetar. Beberapa potong ingatan berceceran di kepala. Setiap kali Mama memberanikan diri untuk bicara, akhirnya tak pernah baik.

Aku tergopoh-gopoh keluar dari kamar. Memeluk Mama. Tapi mungkin amarah Mama tetap tak bisa reda. Mama seperti tak menyadari kehadiranku dan terus membentak Papa.

“Uang yang kamu kasih itu enggak seberapa, Mas. Enggak pernah cukup. Sisa gajimu itu ke mana? Aku tahu kamu punya uang yang entah kamu pake buat apa!”

Papa diam. Aku tak melihat wajah Papa. Tapi aku bisa membayangkan seperti apa muka seram itu. Dan diamnya Papa juga tidak pernah berakhir baik. Mungkin ia merasa dilawan, dan aku rasa Papa tahu betul, Mama hanya mampu melawan dengan kata-kata. Itu sudah sering terjadi. Aku takut akan terjadi lagi.

Ketakutanku terbukti. Kedua pundakku tetiba nyeri karena cengkeraman tangan-tangan kasar Papa. Dengan mudah tubuhku ia hempaskan, lepas dari pelukan Mama. Saat belum sempat aku kembali berdiri dan melindungi Mama, tangan-tangan kasar itu mendarat pada tubuh Mama. Pada lengan, pada dahi, pada pipi.

Aku berusaha kembali pada pelukan Mama, aku ingin melindungi Mama. Tapi dua perempuan seperti kami bukan tandingan amarah laki-laki itu. Tubuhku bisa dengan mudah ia hempaskan lagi. Tangan itu dengan ringan mengayun lagi. Mataku buram penuh air mata. Telingaku seperti tuli, penuh oleh jeritan kesakitan Mama.

Sampai-sampai aku tak sadar. Entah dari mana aku merasakan pelukan hangat. Tangan lembut mengusap mataku sampai pandangan kembali jernih. Jeritan-jeritan Mama berhenti. Aku menatap wanita tua yang memelukku dengan penuh kasih.

“Bu Wulan?”

Mataku segera mencari Mama. Jantungku yang sempat berdebar tak keruan bisa sedikit lega melihat Mama rebah lemah, tapi masih membuka mata. Papa ditahan oleh suami Bu Wulan. Tetanggaku itu terus-terusan menasehati Papa.

“Ingat sama yang di atas! Ingat sama yang di atas!”

Kalimat itu terus ia ulang-ulang, sembari ia elus-elus liontin bulan sabit yang menggantung di kalung Papa. Liontin yang juga dikenakan Bu Wulan, suaminya, bahkan Mama. Tapi aku tidak.

***

Aku masih diam. Belum ada satu pun coretan yang aku torehkan di kanvas.

***

Aku terbangun. Saat aku lirik jam dinding, masih pukul tiga pagi. Namun Mama tak sedang memelukku. Panik, aku melihat ke sekeliling kamar, dan Mama tak ada. Tubuhku mencelat dari kasur. Tergopoh-gopoh melewati pintu kamar yang telah entah sejak kapan, terbuka. Mataku menyusuri sudut demi sudut rumah, sementara kakiku membawa tubuhku berlarian sempoyongan, tak ada Mama di kamar mana pun. Pikiranku tertuju ke dapur.

Betapa lemas lututku saat tetesan darah adalah hal pertama yang kulihat di dapur. Kedua kakiku tak lagi mampu menyangga tubuh, aku terjatuh. Merangkak pelan menuju Mama yang menggenggam pergelangan tangannya di dada.

“Mama,” rintihku.

Aku melihat pisau dapur yang berlumur darah. Pergelangan tangan Mama yang gemetar dan terus mengalirkan darah. Genggaman tangan Mama sendiri tak mampu menghentikan aliran darah itu. Maka segera aku membuka baju, untuk kugunakan mengikat dan menghentikan pendarahan di pergelangan tangan Mama.

“Mama ngapain?” ucapku samar oleh tangis.

Tapi Mama tak menjawab. Ia terus menangis sembari kembali menangkupkan kedua tangan pada liontin bulat sabit di dada. Liontin itu berubah merah.

“Ia tak menyukai ini kan, Sayang? Ia tak akan menerima Mama, jika Mama mati seperti ini, kan?”

“Ia?” gumamku.

Aku tatap mata Mama, tapi Mama tak menatapku. Pandangannya lurus ke arah kaca jendela. Aku menengok, di sana, purnama terang. Aku paham.

Tanganku menggenggam tangan Mama, kutempelkan pada liontin bulan sabit yang Mama kenakan. Dan di tengah tangisku sendiri, aku berusaha meredakan tangis Mama.

“Ia sayang Mama. Jadi Mama juga harus sayang sama diri Mama sendiri.”

***

Kanvas hitamku masih kosong. Potongan-potongan adegan itu tak membuat tanganku menggoreskan apa pun. Hanya air mata yang kini membasahi kantung mataku yang gelap. Sinema di kepalaku masih berlanjut.

***

Hampir seharian Mama tidur lelap. Aku berdiri di samping ranjang Mama. Menggenggam tangan Mama. Pergelangan tangan Mama terbungkus kain kasa. Kupandangi wajah Mama yang begitu pucat. Tubuh lemasnya layu dalam balutan baju hijau rumah sakit. Bahkan kalung yang Mama kenakan, masih kusam karena belum bersih benar dari noda darah.

Mama masih terus lelap. Namun tak ada tanda apa pun yang mengkhawatirkan. Monitor yang terpasang di samping ranjang Mama menunjukkan Mama stabil. Tak ada peringatan apa pun.

Aku bisa lega. Kuedarkan pandangan pada kamar luas berisi enam orang. Cuma gorden yang menjadi sekat masing-masing ranjang. Tapi di semua bilik, menggantung di atas ranjang, ornamen bulan sabit yang sama terpajang. 

Ornamen itu memantik ingatanku. Aku keluar dari kamar. Langit telah petang. Aku raih ponsel dan melihat layar. Mataku terbelalak.

“Hari ini?” gumamku.

Masih tak yakin, aku membuka media sosial. Pada kolom komunitas dengan nama ‘Penghancur Bulan’, dan mulutku menganga. Aku nyaris tak percaya. Masalah yang datang ke rumah dua hari kemarin membuatku lupa pada rencana yang akan mengubah peradaban manusia. Rencana yang sudah sejak lama aku ikuti melalui komunitas di media sosial itu, hari ini akan terlaksana.

Aku melirik Mama dari jendela. Ia masih lelap dalam tidur. Maka tanpa pikir panjang, aku berlari keluar dari rumah sakit. 

Jalan raya depan rumah sakit macet. Aku berlarian di sela mobil dan motor, menuju alun-alun di pusat kota yang telah penuh lautan manusia. Rombongan orang-orang bahkan penuh sesak sampai ke jalan raya. Mereka semua berlutut, menggenggam liontin bulan sabit di dada masing-masing.

Lonceng berdentum dari gedung di sisi alun-alun. Gedung besar megah yang punya ornamen bulan sabit di puncaknya. Kulihat, beberapa orang sibuk menyiapkan speaker besar sementara satu orang laki-laki naik ke mimbar yang baru saja dibawa keluar. Laki-laki itu meraih mikrofon dan memberikan pidato dengan nada tenang. Namun aku bisa merasakan gusar dari cara dia bicara.

“Manusia tak akan mampu menghancurkan Ia,” tutup laki-laki itu. Orang-orang kembali mendengungkan doa-doa. Mereka semua menunduk, tak berani menatap angkasa.

Sementara kepalaku menengadah. Menatap purnama. Tak lama, satu garis cahaya panjang seperti membelah cakrawala. Garis cahaya itu bergerak cepat sampai berhenti di purnama. Dan selang beberapa menit saja, retakan muncul di muka Bulan. Banyak dan makin banyak, sampai tiba-tiba cahaya menyala terang. Langit malam sejenak seperti siang. Sebagian besar orang yang menunduk sontak menengadahkan kepala.

Lalu, setelah cahaya terang itu sirna. Langit jadi gelap gulita. Purnama telah tiada.

Mulutku menganga. Aku terpesona. Namun debar jantungku segera berubah, seperti tak berirama. Ada ketakutan di sudut pikiranku yang muncul dari kejadian dua hari lalu. Aku takut, pada apa yang mungkin terjadi pada Mama, saat setelah bangun nanti, ia tahu kenyataannya.

***

Aku lemparkan kuas ke arah kaleng penuh cairan pembersih. Aku lemparkan palet ke meja. Entah apakah dua benda itu mendarat dengan tepat. Karena mataku masih terpaku pada kanvas yang kini sudah penuh. Mataku tak bisa lepas dari tiap retakan yang aku goreskan pada Bulan purnama di jantung kanvas itu.

“Sayang, bangun, udah pagi loh ini. Kamu inget kan kalau ini hari Minggu? Ayo bangun, siap-siap.”

Bisa kudengar jelas suara Mama yang makin mendekat. Lalu suara pintu terbuka. Aku membalikkan badan mendekat ke Mama.

“Wah kamu ngelukis lagi? Ngelukis apa?” tanya Mama. Senyum muncul di bibirnya.

Aku genggam kedua tangan Mama. Kulihat, bekas luka panjang masih tersisa di tangan cantik itu. Padahal sudah berlalu lama. Lalu aku menarik pelan tangan Mama untuk mendekat ke kanvas.

Mama sejenak memandang lukisan itu. Kemudian melihat ke sisi sebelah kanan kanvas yang masih putih di bagian aku biasa menuliskan judul lukisan.

“Belum ada judulnya?” tanya Mama.

“Udah kok, Ma. Belum kutulis aja.”

Tanpa berkata apa pun Mama meraih spidol di meja, membuka tutupnya lalu bersiap menulis di sisi lukisan.

“Apa judulnya?”

“Bulan Berkeping-keping,” ucapku.

Saat Mama menuliskan judul itu, dalam hati, aku melanjutkan, “dan kita menghancurkannya.”

Mo. Adim
Contributor

Mo. Adim

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top