Detik pada jam kecil di meja mulai menarik langit menuju waktu. Petang, detik-detik yang berjalan itu seperti krayon dengan serba-serbi warna kuning. Namun tetap saja, dalam semua hal, setiap akhir selalu ditandai dengan warna hitam. Gelap.
Kopi pahit tinggal ampas, dan kumpulan rokok tak bernyawa tergeletak di atas asbak kayu yang semua sisinya mulai menghitam. Hanya terdengar satu kali helaan napas untuk mengakhiri sibuk hari ini. Di ruang yang sepi itu.
Irwan tahu kapan harus pulang, selalu. Bukan malas. Bukan karena pekerjaannya sudah tidak penting. Ia cuma tahu kapan pekerjaannya selesai. Ia cuma tahu kapan ia akan menemui kucing yang berlarian di pinggir jalan, atau embusan angin di sekitar tukang gorengan, batagor, telur gulung, senyuman pedagang hingga senyuman ibu, sebelum akhirnya pulang ke kamarnya sendiri.
Jam lima pas, layar laptopnya sudah hitam. Berkas-berkas yang harus dikirim sudah terkirim. Pesan-pesan yang perlu dijawab sudah dibalas. Jaket andalan zaman penjajahan terpasang rapi meski sudah apek.
Irwan berdiri, memasukkan laptop ke dalam tas, lalu memakai sepatu.
“Pulang, Wan?”
Ia menoleh.
Joseph sudah berdiri di samping mejanya.
“Pulang dong. Saatnya nikmatin hari, boy. Work life kudu balance.”
Joseph melihat jam tangannya.
“Lima lewat satu.”
“Yoi.”
Joseph tertawa kecil.
“Gila. Konsisten bet lu teng go.”
Irwan mengangkat bahu.
“Kalau kerjaan kelar, pulanglah. Ngapain nunggu?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun di kantor itu, pertanyaan kecil kerap dianggap sebagai bentuk pemberontakan, seperti harapan seorang pimpinan yang sering kali ditafsirkan menjadi titah. Padahal ucapannya hanya sepereletan lalu lupa.
Beberapa kepala menoleh.
Ada yang tersenyum miring. Ada yang pura-pura sibuk menatap layar. Ada pula yang, sengaja, menghela napas panjang.
Irwan sudah terbiasa. Sejak bekerja di sana, ia sering mendengar sindiran tentang kebiasaannya pulang tepat waktu.
“Enak ya, anak muda sekarang.”
“Baru jam segini udah pulang.”
“Ngapain sih di rumah?”
“HRD-nya aja belum balik.”
Irwan tidak pernah menjawab.
Ia tahu, sebagian orang memang bekerja lebih lama. Ada pekerjaan yang menuntut demikian. Ada keadaan yang tidak bisa diprediksi. Tetapi menurutnya, bekerja sampai malam tidak otomatis membuat seseorang lebih berdedikasi.
Yang membuatnya tidak betah justru hal lain.
Orang-orang di sekelilingnya seperti menganggap waktu pulang sebagai sebuah kemewahan yang harus diperjuangkan. Seolah, pulang tepat waktu adalah dosa. Seolah, orang yang dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat patut dicurigai.
Dan yang paling membuat Irwan heran, sebagian orang tidak sekadar merasa terganggu.
Mereka iri.
Irwan bisa bekerja santai.
Ia tidak terburu-buru. Tidak banyak mengeluh. Tidak ikut percakapan panjang tentang betapa beratnya pekerjaan. Namun pekerjaannya selesai. Bahkan, sering kali lebih cepat daripada mereka.
—
“Wan.”
Joseph memanggilnya dari kantin suatu sore.
“Hm?”
“Lo sadar nggak, kita ini termasuk golongan Gen Z paling awal.”
Irwan menyeruput kopi.
“Terus?”
“Nasib kita sial.”
Irwan tertawa.
“Kenapa?”
“Kita masuk dunia kerja, pas orang-orang masih banyak yang nganggep budaya kerja itu harus kayak zaman mereka.”
Joseph berhenti sebentar.
“Begini nasib menjadi Gen Z awal. Kita kerja bareng milenial yang budayanya berbenturan sama kita.”
Irwan menatap Joseph.
Joseph melanjutkan.
“Semoga aja Gen Z di bawah kita sudah meninggalkan budaya-budaya feodal macam begitu.”
“Misalnya?”
“Misalnya, menganggap senior selalu benar.”
Joseph menghitung dengan jarinya.
“Yang kedua, nganggep pulang tepat waktu berarti nggak loyal. Yang ketiga, merasa atasan harus selalu dituruti meskipun salah. Yang keempat…”
“Kerja sampe malem biar keliatan rajin?”
“Nah.”
Mereka tertawa.
Tetapi tawa itu cepat hilang. Seperti angin ribut yang berhenti disambar petir. Karena, mereka sama-sama tahu, obrolan itu bukan cuma lelucon. Mereka tengah membicarakan kehidupan mereka sendiri.
Irwan memandang ke luar jendela kantin. Di luar, orang-orang berlalu-lalang dengan wajah lelah. Ia tiba-tiba merasa seperti berada di tempat yang salah.
—
Beberapa bulan kemudian, Irwan mulai mencari pekerjaan baru. Ia tidak mengumumkannya kepada siapa pun. Bahkan Joseph baru tahu ketika mereka sedang makan.
“Gue mau keluar.”
Joseph terdiam.
“Serius?”
Irwan mengangguk.
“Mau ke mana?”
“Media.”
Joseph tersenyum.
“Jadi wartawan?”
“Mungkin. Atau editor. Apa aja yang berhubungan sama berita.”
“Kenapa media?”
Irwan berpikir sebentar.
“Karena gue pengen kerja yang hasilnya keliatan.”
Ia menatap meja.
“Gue mau nulis sesuatu yang dibaca orang. Ngolah informasi. Bikin sesuatu yang menurut gue berguna buat banyak orang.”
Joseph mengangguk.
“Semoga cepet ketemu deh tempat yang cocok buat lo, boy.”
“Amin. Doain, ya.”
—
Dua bulan kemudian, Irwan benar-benar pergi.
Tidak ada hal dramatis. Tidak ada tangisan. Tidak juga perpisahan besar. Beberapa orang hanya mengangguk. Seseorang bahkan berkata, “Semoga di tempat baru nggak bisa pulang teng go lagi.”
Irwan cuma senyum. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa bebas. Ia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan media berita.
Hari-hari pertamanya terasa menyenangkan. Cepat. Berisik. Melelahkan. Tetapi berbeda.
Di sana, waktu bukan lagi soal siapa yang pulang paling akhir. Yang dihitung adalah berita siapa yang paling cepat, paling akurat, dan paling menarik.
Irwan menyukai itu. Ia belajar menulis lebih tajam. Belajar memeriksa data. Belajar mewawancarai orang. Belajar bahwa sebuah kalimat dapat mengubah cara orang melihat suatu peristiwa, bahwa kalimat yang berputar-putar dan panjang lima paragraf ternyata bisa diwakilkan oleh satu paragraf. Tentang kalimat-kalimat pendek. Tentang judul yang menampar dan straight to the point.
Ia mulai merasa menemukan tempatnya. Tetapi semakin lama bekerja di sana, Irwan menyadari satu hal.
Dunia kerja ternyata bukan hanya tentang pekerjaan. Ada kepentingan. Ada kelompok. Ada orang yang ingin namanya muncul. Ada juga, orang yang ingin namanya hilang.
Ada fakta yang tiba-tiba menjadi “belum layak tayang”. Dan, ada orang-orang yang bekerja bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk memastikan kebenaran tidak mengganggu kepentingannya.
Irwan mulai mempertanyakan semuanya.
“Joseph,” katanya suatu malam melalui telepon.
“Hm?”
“Ternyata di sini juga sama.”
“Apanya?”
“Politiknya.”
Joseph tertawa pelan.
“Lo kira dunia kerja berubah cuma karena lo pindah kantor?”
Irwan ikut tertawa.
Tetapi kali ini ia tidak benar-benar merasa lucu.
—
Suatu malam, Irwan mendapatkan sebuah dokumen. Isinya tentang sebuah proyek besar. Angkanya tidak masuk akal. Ada nama-nama pejabat, perusahaan aliran uang.
Irwan membaca dokumen itu berkali-kali. Ia kemudian melakukan pengecekan.
Satu per satu.
Semakin diperiksa, semakin banyak hal yang tidak beres.
Ia mulai menulis. Bukan berita biasa. Sebuah laporan panjang. Beberapa orang memperingatkannya.
“Jangan terlalu jauh.”
Irwan bertanya,
“Kenapa?”
“Karena ini bukan perkara kecil.”
“Justru berarti harus diberitain.”
Orang itu diam.
“Wan, kadang-kadang menjadi jurnalis bukan cuma soal berani menulis.”
“Terus?”
“Berani nanggung akibatnya.”
Malam itu Irwan pulang lebih lambat dari biasanya. Di kamar kosnya, ia membuka laptop. Ia membaca kembali tulisannya. Kemudian menekan tombol simpan.
Nama berkasnya sederhana:
DRAFT_FINAL.docx
Ia mengirimkannya kepada Joseph.
“Kalau besok gue nggak bisa dihubungi, simpen ini.”
Joseph membalas beberapa menit kemudian.
“Jangan bercanda.”
Irwan tersenyum.
—
Pagi berikutnya, Joseph menelepon. Tidak diangkat. Ia menelepon lagi. Tidak diangkat. Pesan-pesannya hanya dibaca beberapa jam kemudian. Lalu tidak ada apa-apa.
Sore harinya, Joseph mendatangi kos Irwan. Pintu kamar tertutup. Ia mengetuk. Tidak ada jawaban. Pemilik kos akhirnya membuka pintu.
Joseph berdiri di ambang. Dan dunia seperti berhenti. Irwan terbaring di lantai. Tidak ada percakapan, perpisahan, atau kesempatan untuk bertanya mengapa. Yang ada hanya sayatan benang pada leher dada yang lebam.
Polisi datang.
Orang-orang berdatangan.
Kabar kematian Irwan menyebar perlahan. Penyebabnya disebut sebagai pembunuhan, tetapi siapa pelakunya tidak pernah segera jelas, dan tidak akan pernah jelas.
Laptop Irwan hilang. Teleponnya juga. Namun satu hal masih tersisa. Sebuah salinan dokumen yang pernah ia kirim kepada Joseph.
—
Beberapa hari setelah pemakaman, Joseph duduk sendirian di kantin kantor. Ia membuka kembali percakapan terakhir mereka.
Kalimat Irwan masih ada.
“Kalau besok gue nggak bisa dihubungi, simpen ini.”
Joseph menatap layar lama sekali. Ia teringat percakapan mereka bertahun-tahun lalu.
Tentang Gen Z. Tentang milenial. Tentang pulang tepat waktu. Tentang budaya kerja. Tentang harapan bahwa generasi setelah mereka akan bekerja di dunia yang lebih manusiawi.
Lalu harapan-harapan itu buyar seperti tepung terigu yang dihamburkan anak-anak kecil.
Joseph sadar.
Masalahnya adalah manusia yang merasa berkuasa di atas manusia lain. Masalahnya, budaya yang menganggap kepatuhan lebih penting daripada keberanian.
Dan yang paling berbahaya adalah ketika kepentingan membuat seseorang merasa berhak menghilangkan orang lain.
Joseph membuka laptopnya. Ia menemukan dokumen Irwan.
Judulnya:
Siapa yang Diuntungkan?
Joseph membacanya dari awal sampai akhir. Lalu ia menghela napas. Untuk pertama kalinya sejak Irwan pergi, Joseph merasa sahabatnya belum benar-benar selesai bekerja.
Ia membuka dokumen itu. Membacanya sekali lagi. Kemudian menekan tombol kirim, kepada banyak orang.
Sebab, Joseph akhirnya mengerti, bahwa Irwan memang sudah mati, tetapi berita yang ia perjuangkan tidak ikut mati. Dan mungkin, pikir Joseph, itulah satu-satunya cara seorang pekerja yang sepanjang hidupnya hanya ingin pulang tepat waktu bisa mendapatkan lembur terakhirnya:
sebuah pekerjaan yang diteruskan orang lain setelah ia tidak lagi ada.
—
Detik-detik pada jam dinding di kamar Joseph mengantarkan waktu pada keheningan. Setiap akhir, dan akhirnya semua orang bisa setuju, warnanya adalah gelap.

0 Komentar