Kepala untuk Kepala

Kepala untuk Kepala

cagar
9 min read

Dalam kerentaan ranting oleh pendar sungut matahari kemarau, pohon itu meluruh. Ranggas daun jatuh pada tanah. Di kejauhan seekor dubuk sedang termangu dan seekor karakal sedang memakan kelinci buruannya.

Tepat tengah hari, rombongan yang dipimpin Jasper de Witt melewati padang ilalang kering yang membelah hutan raya Afrika Barat. Tujuan mereka adalah sebuah tambang emas milik kongsi dagang Belanda. Sudah dua jam perjalanan berlalu, semenjak mereka meninggalkan desa suku setempat untuk beristirahat. Pagi-pagi buta, kapal De Beatrix Oranje yang mengangkut rombongan Jasper de Witt telah melempar sauh di pesisir Pantai Emas Afrika.

Daerah itu merupakan koloni Belanda yang paling berharga di tanah Afrika. Semua orang Belanda tau bagaimana mereka merebut wilayah itu dari tangan Portugis 3 tahun yang lalu. Pada 1637 kongsi dagang Belanda di Hindia Barat, Geoctroyeerde Westindische Compagnie, dibawah arahan Kolonel Hans Coine menembaki Kastil Elmina milik Portugis dengan meriam. Dibekali 9 buah kapal dan 1300 prajurit Belanda yang sigap hanya butuh 5 hari bagi Hans Coine mengambil alih tempat itu sekaligus menjadikannya koloni Belanda di Afrika dengan sebutan Pantai Emas.

Cerita itu masih terngiang di benak Jasper de Witt sampai sekarang, ketika ia ditugaskan oleh kongsi dagang Belanda untuk membawa hasil tambang mereka.

Ini adalah tugas pertamanya di Afrika. Di negerinya, ia tergolong sebagai seorang kapten yang cakap namun sedikit arogan. Jasperr juga dibesarkan di lingkungan keluarga yang sepenuhnya percaya pada pendidikan modern barat. Sebab itu Jasperr sangat rasional dan tak sedikitpun percaya dengan takhayul. Mungkin ia tak membayangkan bahwa sikapnya itulah yang nanti akan membawa petaka bagirombongan tersebut.

Jauhnya lokasi tambang dengan pelabuhan mengharuskan emas mentah hasil tambang dibawa dari pedalaman sungai Pantai Emas dengan berjalan kaki. Rel kereta angkut baru dibangun setengah jalan. Panas Afrika membuat pipi Jasperr dan anak buahnya terlihat merah sepanjang perjalanan. Persis seperti pipi roti manusia jahe.

Langit siang itu memang nampak biru bersih. Bebas dari koloni awan. Sudah tak terhitung lagi, berapa kali Jasperr meneguk air dari botol minum yang ia kalungkan di leher. Berbanding terbalik dengan para pekerja angkut yang diambil dari suku setempat, mereka terlihat biasa saja dengan rimba alam Afrika yang ganas bagi orang orang Eropa ini.

Jasperr sedang menghilangkan dahaga untuk kesekian kali ketika tiba-tiba ditengah perjalanan ia menjumpai seekor kudu jantan tengah berdiri diam. Seketika terlintas pesan kepala desa tempat rombongan mereka singgah tadi. Dibantu dengan seorang awak kapal mestizo, kepala desa itu mengatakan bahwa apabila bertemu seekor kudu ditengah perjalanan jangan mengganggunya karena bisa mengakibatkan tulah.

Bagi beberapa suku di Afrika, kudu adalah hewan keramat. Kudu itu masih berdiri tegap ketika dengan segera Jasper mengangkat senapannya. Para pekerja kulit hitam yang melihat itu langsung mundur ketakutan dan berdoa. Meminta dewa untuk mejauhkan tulah bagi mereka. Anak buah Jasperr bernama Joseph langsung mengingatkan Jasperr tentang perkataan kepala desa tadi.

“Kapten apakah kapten lupa dengan pesan kapala desa tadi?” tanya Joseph lirih disertai rasa takut

Seakan tidak mendengar rengekan Joseph, Jesperr memicingkan mata dan memasang kuda-kuda membidik dan siap menembak.

Dibelakang, para pekerja tadi masih merapal doa-doa meminta dewa untuk tidak memberi sial pada mereka dan desa mereka.

Seketika semua terdiam ketika secara tiba-tiba terdengar suara letupan senapan. Entah untuk beberapa detik semuanya menjadi senyap. Angin menghilang, udara mengering, yang ada hanya bunyi detak jantung masing masing. Di depan, kudu yang tadi berdiri gagah telah roboh. Di badannya bersarang sebuah peluru milik senapan Jasperr. Setelah memastikan bahwa hewan tersebut tak bergerak Jasperr mendekat dan berteriak pada anak buahnya

“Lihat betapa indah sepasang tanduk ini. Bergelombang seperti ombak yang kita temui sepanjang perjalanan kemarin,” celoteh Jasperr

Dengan parang yang tergantung dipahanya, ia menebas kepala kudu itu. Meninggalkan tubuhnya tergeletak untuk menjadi santapan kuduk atau karakal yang sempat ia jumpai tadi.

“Aku akan menyimpannya sebagai cinderamata khas rimba raya Afrika, akan kugantung pada dinding diatas perapian pondok musim dinginku,” lanjut Jasperr sambil menenteng kepala itu dengan tanduk sebagai pegangannya.

Para pekerja pribumi tadi masih dalam posisi berlutut dan tak henti hentinya merapalkan sesuatu dimulut mereka. Mungkin sebuah mantra penolak tulah yang secara turun-temurun telah diajarkan pada mereka. Tidak jauh berbeda, para anak buah Jasperr de With yang sedari tadi wajahnya memerah terkena panas sekarang menjadi pucat. Seperti seorang gelandangan kota Haarlem pada musim dingin.

Darah segar masih menetes dari pangkal kepala kudu. Melihat hal tersebut Jasperr cepat cepat membalutnya dengan sebuah kain.

“Apakah kau yakin dengan apa yang kau lakukan, Kapten?” suara Joseph terdengar gemetar. Mungkin sekarang ia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya.

“Apa yang sebenarnya kalian takutkan. Hewan ini tidak ada bedanya dengan hewan-hewan lain yang kita temui sepanjang perjalanan tadi. Kalian adalah orang Eropa. Kalian dididik untuk berpikir secara rasional”

“Ta..ta..tapi kapten, kepala desa….”

“Takhayul tetaplah takhayul! Peradaban barat telah lama membuang hal semacam itu. Tidak usah takut. Ayo segera kita lanjutkan perjalanan. Suruh para pekerja itu berjalan,” sergah Jesperr

Setelah kejadian itu, perjalanan terasa sedikit mencekam. Tidak ada nyanyian, siulan, atau candaan seperti pada awal perjalanan. Para pekerjapun terlihat lebih lesu dari sebelumnya.

Sekitar 1 jam kemudian akhirnya mereka sampai di lokasi tambang emas. Tambang itu berada di tepi sungai. Terbilang cukup besar dengan 5 buah alat tambang dengan katrol untuk mengeruk tanah.

Di pinggiran hutan, pondok-pondok berjejer rapi. Tempat para pekerja eropa untuk sekadar berteduh dari panasnya matahari khatulistiwa dan untuk tidur pada malam harinya.

Agak terpisah dengan pondok pondok tadi, terlihat sebuah bangunan kayu yang cukup besar. Bangunan itu adalah kantor kepala pengawas tambang. Para pekerja pribumi sendiri lebih memilih menempuh perjalanan satu jam untung pulang-pergi dari desa mereka.

Terlihat seorang Belanda bertubuh tambun, berkumis lebat yang ujungnya sengaja dilengkungkan ke atas sedang mengulum cerutu didekat alat tambang ketika Jasperr dan rombongannya sampai.

“Selamat datang di tempat di mana sumber kehidupan Belanda bermuara, perkenalkan aku pengawas tambang di sini. Namaku Dedrick Barend,” sambut Dedrick sambil berbalik badan dan mengulurkan tangannya pada Jasperr

“Salam kenal tuan, aku Jasperr de Witt. Aku ditugaskan untuk mengawal pemindahan hasil tambang kali ini”

“Baru kali ini aku melihatmu. Dan apa yang kau bawa itu prajurit. Apakah aku tidak salah lihat bahwa benda yang kau bawa itu adalah kepala seekor kudu?” tanya Dedrick dengan nada kaget

“Benar tuan Dedrick, sebagai cinderamata untuk pondok musim dinginku,” jawab Jasperr dengan sedikit menyeringai

“Hati-hati nak, binatang itu bisa membawa tulah bagimu. Setidaknya begitulah menurut suku-suku setempat.”

“Tuan juga percaya takhayul itu? Tidak apa-apa tuan. Semuanya aman ketika aku masih memiliki ini,” sambil menunjuk senapannya.

Dedrick mempersilakan rombongan Jasperr untuk beristirahat di pondoknya sembari menunggu peti-peti besar pengangkut terisi penuh dengan emas hasil tambang. Mereka tengah asik menghisap rokok dan minum alkohol ketika terdengar bunyi runtuhan tanah dari luar. Dedrick dan Jasperr seketika meloncat dari kursi masing-masing. Ternyata salah satu mesin galian emas rubuh. Setelah diperiksa untung saja tidak memakan korban jiwa.

“Apakah hal ini sering terjadi Tuan Dedrick?

“Tidak, baru kali ini. Pertanda buruk tentunya. Itu berarti hasil tambang akan sedikit berkurang pada pengiriman yang akan datang.”

Dalam benaknya, Jasperr mulai bertanya-tanya. Apakah benar bila kepala kudu itu memang membawa tulah. Namun pikiran rasionalnya menolak untuk mempercayai hal tersebut.

Setidaknya butuh waktu satu jam untuk mengisi peti-peti besar dengan hasil tambang emas ini. Kali ini mereka akan membawa sembilan peti berisi bongkahan emas dari dalam tanah Afrika. Waktu menunjukkan pukul lima sore ketika Jasperr berpamitan dengan Tuan Dedrick.

“Berhati-hatilah, Tuan. Banyak binatang buas berkeliaraan disaat sore hari. Gunakan obor untuk menakut- nakuti mereka.”

“Baik, Tuan, terimakasih atas sarannya.”

Perjalanan kembali itu seharusnya menjadi sebuah perjalan yang cukup mudah dengan dibantu para pekerja dari suku setempat yang mengenal lingkungan sekitar pada saat gelap. Hal buruk mulai terjadi ketika salah satu obor yang dibawa anak buah Jasperr tiba-tiba saja padam.

Dari kejauhan rombongan mereka nampak seperti kunang-kunang yang kebingungan. Jasperr memerintahkan semua orang untuk saling berdekatan.

Tidak terasa sudah dua jam mereka berjalan dan hampir sampai di desa untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum pagi harinya melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan tempat kapal De Beatrix Oranje berlabuh menunggu mereka.

Langit mulai gelap. Langit malam Afrika terlihat lebih bersih dari langit manapaun yang pernah Jasperr jumpai. Bintang terlihat sangat jelas, sampai-sampai ia merasa bisa menyentuhnya dan menyimpannya dalam saku sebagai cinderamata tambahan.

Ternyata tidak hanya langit Afrika saja yang mengejutkan Jesperr dengan rombongannya. Ketika ia melewati tempat tubuh kudu tadi dibiarkan tergelatak, Jasperr tidak mampu menjumpainya. Tubuh kudu itu menghilang dan bahkan tidak ada sepercikpun noda darah tertinggal pada tanah dan ilalang. Pasti tubuh itu telah habis dimakan kuduk tadi atau bahkan sekelompok singa pikirnya. Para anak buah Jesperr terlihat memucat ketakutan.

Dari kejauhan, di balik tingginya ilalang seketika Jasperr mendengar bunyi gemerisik yang mecurigakan. Kepekaannya yang telah lama dilatih dalam dinas militer, membuatnya langsung memasang posisi siaga dan memerintahkan anak buahnya untuk melakukan hal serupa. Para pekerja hanya mampu menunduk di tanah.

Suara tiba-tiba menjadi barang langka dan membuat situasi berubah mencekam. Mereka tidak tahu apa yang ada diluar sana. Obor tidak terlalu memberikan bantuan pada mereka. Jasperr membuat satu kali tembakan ke langit. Jika suara itu berasal dari hewan, seharusnya itu membuat mereka takut.

Tidak ada suara atau gerakan balasan. Bahkan suasana semakin menakutkan. Jasperr sedang bersiap untuk menarik pelatuknya untuk yang kedua kali saat dari balik ilalang muncul beberapa wujud manusia dengan membawa tombak, pisau batu, dan busur panah. Sembari mengeluarkan suara teriakan khas seperti suku-suku kulit merah di benua Amerika, mereka berlarian menyasar rombongan Jasperr.

Dalam pertempuran jarak dekat dan gelap gulita, senapan-senapan hasil peradaban maju Eropa tidak dapat berbicara banyak. Sejurus kemudian mulai terdengar lentingan dan rintih kesakitan dari anak buah Jasperr. Para suku ini bergerak seperti iblis yang haus darah. Mereka tidak memiliki rasa takut dan tidak pandang bulu. Saat Jasperr melihat sekeliling ternyata anak buah dan para pekerja tadi telah bersimbah darah.

Joseph yang dari awal memperingatkan Jasperr telah telentang dengan usus terburai, Bars salah seorang anak buahnya dari Gravenhage terbelah menjadi dua bagian seperti roti lapis, sisa pasukannya beserta para pekerja mendapat sayatan di leher dan tertembus anak panah. Sedang peti berisi emas itu masih tergeletak begitu saja ditanah. Suku-suku itu sepertinya tidak datang untuk menjarahnya.

Untuk kesekian kalinya, Jasperr berusaha untuk mencari sebuah sasaran Namun percuma saja, mereka terlalu gesit. Kertak giginya semakin mengeras. Layaknya seorang anak kecil yang terkena demam tinggi pada awal musim gugur.

Alih-alih mendapat sasaran justru dari bagian belakang, Jasperr merasa seperti terkena tebasan. Tebasan itu mampu merubuhkannya seketika itu juga. Pada saat itulah, sosok yang dari tadi dicari Jasperr untuk dibidik menampakkan batang hidungnya.

Perawakan mereka sama seperti para pekerja tadi. Berkulit hitam dan terdapat lukisan garis-garis berwarna putih di wajah serta tubuh mereka. Di tangan salah satu mereka telah menenteng kepala kudu hasil buruan Jasperr. Ia merasai bahwa ada sebilah pedang menempel di lehernya. Dengan berteriak dan mengucapkan rentetan kalimat yang Jasperr tidak ketahui artinya sama sekali, ia merasai bahwa dinginnya pedang mulai bergerak untuk mengiris lehernya.

cagar
Contributor

cagar

Tulisan lain dari cagar

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top