(untuk cerpen Jezebel karya Seno G.A)
I
Konon, Jezebel (atau Izabel) hidup di sekitar abad 9 SM. Dalam hidupnya, ia menyandang dua predikat sekaligus: putri raja dan permaisuri. Ia adalah putri seorang raja Penisia (sekitar Lebanon), bernama Raja Etbaal, dan suaminya merupakan Raja Ahab, seorang penguasa Israel. Dengan dua predikat kerajaan itu, barang tentu ia punya kekuasaan lebih. Namun, menurut cerita, kekuasaan itu menjadikannya perempuan yang paling jahat, paling berdosa.
Alkitab menggambarkannya sebagai (1) pembunuh nabi-nabi, (2) tukang fitnah, dan (3) telah mengembangkan ajaran “tuhan palsu” kepada bangsa Israel. Untuk poin yang belakangan itu, ia melakukannya dengan memanfaatkan kekuasaan Raja Ahab. Ia membujuk sang suami untuk “memperkenalkan” ajaran itu di tengah-tengah rakyat Israel[1].
Kronologinya begini: setelah keduanya menikah, Jezebel meminta Raja Ahab untuk mengembangkan ajaran baru di Israel (ajaran itu menyembah seorang dewa benama Baal). Jezebel juga meminta dibangunkan fasilitas untuk peribadatannya. Sang suami menyanggupi. Maka, Raja Ahab membangun sebuah kuil sebagai fasilitas bagi istrinya untuk menyembah Baal. Kuil itu berlokasi di Samaria.
Namun, lama-kelamaan terjadilah konflik agama. Pada akhirnya, Jezebel ingin membunuh musuh-musuhnya: para nabi[2]
Jezebel, Fitnah, dan Kematian Naboth
Naboth cuma rakyat biasa. Ia punya sebuah kebun anggur warisan keluarga di dekat istana Raja Ahab. Suatu ketika, Ahab ingin memiliki kebun itu. Ia bermaksud untuk membelinya. Namun, Naboth menolak. Ahab kesal dan marah, tapi tak melakukan apa pun.
Jezebel, sebenarnya punya siasat untuk mendapatkan kebun itu. Dan ia benar-benar menjalankannya. Siasatnya begini: ia menuduh Naboth telah menista Tuhan. Tuduhan itu membuat Naboth dijatuhi hukuman rajam sampai mati[3]. Akhirnya, kebun itu berhasil menjadi kepunyaannya dan sang suami.
II
Cerita di atas adalah cerita dalam Alkitab. Ribuan tahun Jezebel dikenal sebagai perempuan yang berperan sebagai aktor di balik pembunuhan-pembunuhan dan kesesatan. Namun, siapakah Jezebel dalam cerita pendek karangan Seno Gumira Ajidarma? Seno memang menampilkan mayat-mayat dan panorama kematian, tapi tidak jelas siapa yang telah melakukan pembunuhan itu. Apakah Jezebel?
Jezebel dalam cerpen Seno adalah seorang perempuan bergaun putih, yang sedang berjalan di pantai sendirian. Ia berjalan melewati mayat-mayat yang bergelimpangan. Mayat-mayat itu tergeletak begitu saja: terkapar di atas pasir, tergolek di terumbu karang, tersandar di batang-batang pohon nyiur, ada yang terseret ke lautan lepas, dan ada yang tertancap tombak. Jezebel satu-satunya yang hidup di sana, berjalan di antara mayat-mayat itu. Namun, semua citraan yang memberi kesan “setelah tragedi” itu sudah terjadi begitu saja sejak permulaan cerpen. Entah bagaimana mulanya sehingga mereka mati dengan darah masih mengalir.
Secara alur, cerpen ini hanya menampilkan Jezebel yang berjalan di sepanjang pantai yang penuh mayat. Tak ada dialog dan hanya sedikit monolog. Monolog itu berasal dari angin dan Jezebel sendiri. Jezebel hanya berjalan sampai pelahan-lahan melesak ke balik cakrawala[4].
Apakah Jezebel dalam cerita pendek Seno Gumira Ajidarma adalah Jezebel yang sama dengan yang diceritakan di bagian I? Pertanyaan itu mungkin bisa dijawab seadanya dengan keterangan yang sengaja dibubuhkan Seno di akhir cerpen. Seno menulis sendiri bahwa ia mengembangkan cerpen inidari dua lagu berjudul Jezebel. Lagu pertama diciptakan Wayne Shanklin[5] dan Charles Aznavour, sedangkan yang kedua oleh Stuart Matthewman dan Sade Adu. Jika mencermati kedua lirik lagu itu, akan tampak bahwa lagu yang pertama, kemungkinan besar, memang terinspirasi dari kisah Jezebel dalam Alkitab, tetapi lagu kedua lebih seperti alternatif yang lain.
Jezebel, Jezebel If ever the devil was born without a pair of horns
It was you, Jezebel, it was you
If ever an angel fell, Jezebel, it was you
Jezebel, it was you If ever a pair of eyes promised paradise
Deceiving me, grieving me, leavin’ me blue
Lirik di atas adalah kutipan dari lagu karya Wayne Shanklin (1951). Kalau diterjemahkan, kira-kira begini: Jezebel, Jezebel jika iblis terlahir tanpa sepasang tanduk / Itulah kau, Jezebel, itu kau / jika malaikat terjatuh, Jezebel, itu pasti kau / Jezebel, itulah kau, jika ada sepasang mata mengimingi surga / menipuku, membuatku berduka, meninggalkanku dalam kesedihan.
Lirik itu secara harfiah menyalahkan Jezebel. Jezebel dicitrakan seperti iblis yang lahir dalam bentuk manusia, tanpa sepasang tanduk. Dan apabila ada malaikat jatuh, itu pasti Jezebel. Malaikat jatuh adalah malaikat yang diusir, kehilangan sayap, karena membangkang. Serta seperti Iblis, Jezebel mengimingi surga yang palsu.
Namun, penggambaran Jezebel yang agak lain terdapat pada lagu kedua. Dilihat dari tahun diciptakannya (1985), bisa diasumsikan bahwa lagu ini memang bermaksud memberikan cara pandang lain atas lagu pertama. Jezebel tampil sebagai perempuan miskin, yang karenanya punya ambisi yang “kejam”. Namun, ada intensi untuk membela Jezebel di sini.
Jezebel wasn’t born with a silver spoon in her mouth
She probably had less than every one of us
But when she knew how to walk she knew
How to bring the house down
Can’t blame her for her beauty
She wins with her hands down
Lirik lagu itu secara fundamental bertentangan dengan Jezebel versi Alkitab. Jezebel dalam Alkitab adalah Jezebel yang kaya, ia putri raja Etbaal. Ia pun menikah dengan seorang raja. Berkebalikan dengan itu, lirik lagu karangan Sade Adu ini menyatakan bahwa Jezebel berasal dari keluarga yang miskin. Ia bahkan gapunya sendok silver! Dan karena itulah, ia berambisi untuk meruntuhkan, “memberontak”.
Pertanyaan berikutnya adalah, apa yang membuat Seno mengembangkan cerita dari dua lagu yang agak bertentangan? Kenapa ngga milih satu lagu aja? Keputusan itu seperti sebuah rencana sintesis *asik “sintesis”. Untuk menjawab itu, kita perlu kembali kepada teks.
Ada satu paragraf yang patut diperhatikan.
“Tapak kakinya yang mungil dan mulus membentuk jejak di pantai basah. Angin terus menerus menjalin kata-kata di antara rambutnya antara bisikan dan teriakan, antara anjuran dan larangan, antara kecintaan dan kejahatan, jalin menjalin menghembus angin, berhamburan di belantara makna. Mayat-mayat bagaikan gundukan serba kelabu, Jezebel berjalan di antara mayat-mayat yang berkisah.”[6]
Dalam kutipan itu, Seno memberikan oposisi-oposisi. Bisikan dengan teriakan, anjuran dengan larangan, kecintaan dengan kejahatan. Selain itu, ia juga menambah kata “kelabu”. Dalam signifikasi sekunder Barthes, semua itu dapat dimaknai.
Kelabu dapat memiliki makna “tidak jelas”, “samar-samar”. Jika bergabung dengan “mayat”, maka bisa berarti bahwa penyebab terbunuhnya orang-orang itu tidak jelas, tidak diketahui bagaimana aslinya. Tidak ada versi yang benar tentang mayat-mayat tersebut tentang siapa yang telah membunuh mereka.
Dari dua lagu tadi, Seno –kayaknya—berada di antara dua perspektif yang sama kuat: Jezebel bersalah dan Jezebel tidak bersalah. Hal itu menemukan basis tekstual yang lain. Misalnya, di satu sisi ada keterangan yang menggambarkan seolah-olah mayat itu berkata kepada Jezebel:
“Jezebel, lihatlah bagaimana aku ditombak, demi apa? Apakah demi sebuah pemandangan untukmu agar engkau bisa berkata: lihatlah bumi yang penuh duka?”[7]
Sedang di sisi lain:
“angin menyapu wajah Jezebel yang sendu.”[8]
Kutipan pertama seperti menyalahkan Jezebel, sedangkan yang kedua memperlihatkan kesedihan Jezebel atas terjadinya tragedi. Kesedihan Jezebel diulang-ulang dalam cerpen itu. Jika memang Jezebel penjahat, mengapa ia bersedih? Oposisi-oposisi itu memang bukan menghadirkan ketidakjelasan makna, melainkan menghadirkan pertentangan yang sengaja ditampilkan.
III
Tetapi Jezebel seorang perempuan, bukan?
Kehadiran tokoh perempuan di dalam karya sastra selalu mengundang analisis yang menantang. Di sana dapat dipertanyakan, misalnya, apakah karya itu mengandung bias gender? Apa ada perlawanan terhadap ideologi patriarki yang ditunjukkan di dalam cerpen itu? Kalau ada, gimana cara si penulis menghadirkannya?
Untuk menjawabnya, kita mesti kembali pada teks. Memaknai teks. Dan kutipan di bawah ini barangkali adalah kuncinya:
“Seorang penata letak telah mengaturnya sedemikian rupa sehingga batang tombak yang menancap di perut itu menjulang agak miring dengan selera seni yang canggih dalam siluet tumpukan mayat itu. Cara bagaimana tiang bendera terpasang dan kantong pengukur angin berkibar dan cara mayat-mayat itu berserak atawa diserakkan telah menimbulkan kecurigaan bahwa tidak ada apa pun yang alami dalam pertumpahan darah yang telah membuat pantai itu menjadi merah.”[9]
Kutipan itu mengasumsikan seolah ada tokoh “pengatur sejarah” di balik kisah Jezebel. Dengan kata lain, Jezebel –bisa jadi— hanyalah kambing hitam atas terjadinya banyak pertumpahan darah. Siapa yang tahu bahwa di belakang pembunuhan itu, ada hal yang lebih kompleks ketimbang buru-buru mengajukan simpulan bahwa Jezebel bersalah. “Tidak ada apa pun yang alami dalam pertumpahan darah”. Hipotesis itu barangkali cukup mendapat dukungan kalau hal-hal di bawah ini mau dipikirkan:
Pertama, ketimbang berasumsi bahwa Jezebel telah mengembangkan ajaran dari “tuhan palsu”, kenapa tidak mengasumsikan bahwa Jezebel adalah sosok yang teguh keimanannya? Bukankah ajaran Baal adalah native religion-nya Jezebel yang ia bawa dari Penisia? Ajaran itu menjadi “baru” bagi orang Israel, tetapi tidak bagi Jezebel. Itu adalah agama aslinya. Apakah salah meminta kepada suami –yang pernikahannya pun barangkali berasal dari hubungan politik kedua kerajaan: Penisia dan Israel— agar ia dibebaskan menganut kepercayaannya? Bukankah wajar bila dia bersetia pada keteguhan imannya? Dengan asumsi begitu, maka konflik agama yang terjadi di kemudian hari hanyalah dampak dari orang-orang yang, sebut aja, intoleran.
Kedua, soal Naboth. Memang tidak ditemukan (oleh gue) ada basis tekstual yang menunjukkan bahwa Jezebel tidak memfitnah Naboth. Artinya, Jezebel memang memfitnah Naboth. Tetapi untuk siapa dia memfitnah? Bukankah untuk Ahab? Bukankah ia melakukannya sebagai tanda kesetiaan pada Ahab yang menginginkan kebun anggur? Jika memang Jezebel disalahkan, lalu siapa yang menyalahkan Ahab?
Soal-soal di atas memang mengandung banyak perdebatan. Karena itu, perlu kajian lebih jauh.
Yang pasti, Seno telah mengajukan cara pandang yang baru tentang Jezebel. Boleh jadi ada ideologi tertentu yang telah membuat Jezebel berada dalam posisi “bersalah”, padahal tidak.
Pada akhir cerpen pun, Seno (kayak) ngasih tantangan. Ia menantang siapa yang berani untuk mengecek kebenaran sejarah. Hal itu disiratkan dalam kutipan berikut.
“Harus ada yang setidaknya melihat mayat-mayat itu. Harus ada yang sekadar menghormatinya. Kalau tidak, siapa yang akan melakukannya? Tiada lagi manusia yang masih tersisa di muka bumi ini. Aku sendirian tak mungkin mengubur mereka semua, bahkan untuk menengoknya pun barangkali seluruh waktu hidupku tidak akan pernah cukup. Pantai ini tidak ada ujungnya dan mayat-mayat bertebaran sepanjang pantai tak terbilang. Harus ada yang sekadar menengoknya meski tidak bisa berbuat apa-apa, meskipun semuanya sudah punah.”[10]
*artikel rekomendasi: https://www.biblicalarchaeology.org/daily/people-cultures-in-the-bible/people-in-the-bible/how-bad-was-jezebel/
[1] Napier, C. (2019, Juni 12). Who Was Jezebel in the Bible? What Was She Really Like? Retrieved from Christianity.com: christianity.com/wiki/people/who-was-jezebel-in-the-bible-what-was-she-really-like.html
[2] ibid
[3] Britannica. Jezebel (queen of Israel). Retrieved from Britannica: https://www.britannica.com/biography/Jezebel-queen-of-Israel
[4] Ajidarma, S. G. (2016). Jezebel. In S. G. Ajidarma, Sepotong Senja untuk Pacarku. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hlm 55
[5] Seno sebenarnya menulis W. Shanvelin, tetapi nama tersebut tidak ditemukan. Nama yang ditemukan adalah Wayne Shanklin, dan ia memang menciptakan lagu Jezebel. Apakah itu kesalahan dari Seno? Sangat mungkin.
[6] Ajidarma, S. G. (2016). Jezebel. In S. G. Ajidarma, Sepotong Senja untuk Pacarku. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hlm 50
[7] Ibid. hlm 50
[8] Ibid. hlm 51
[9] Ibid. hlm 50
[10] Ibid. hlm 54

0 Komentar