Turah: Hegemoni Sempurna ala Juragan

Turah: Hegemoni Sempurna ala Juragan

Fajar Hanif Mubarok
4 min read

Malam. Setelah menyalakan mesin pembangkit listrik tenaga diesel, Turah menenteng petromaks menelusuri jalan setapak menuju pekuburan baru. Itu adalah kuburan Slamet, bocah 9 tahun yang berpulang sore tadi. Diamatinya dalam nuansa gelap itu, orang tua Slamet tengah merunduk, merapal doa di depan gundukan tanah yang tidak seberapa luasnya.

Adegan berpindah ke rumah. Dalam pelukan Kanti, istrinya, Turah bertanya, “kamu masih belum mau punya anak?” Pertanyaan itu bersambut jawaban menohok, ngilu yang sekaligus realistis: Kanti tidak mau kelak anaknya tumbuh dalam hidup yang penuh kemiskinan.

Kematian, kemiskinan, dan ketergantungan pada juragan Darso adalah keseharian hidup masyarakat kampung Tirang dalam Turah. Film garapan sutradara muda Wicaksono Wisnu Legowo ini menyajikan pengalaman hidup –yang kelihatan begitu realistis— masyarakat kelas bawah di pesisir pantai utara Tegal. Film yang sederhana, tanpa backsound, dan tanpa akting berlebihan para aktor ini juga telah mewakili Indonesia dalam kompetisi di kategori film Berbahasa Asing Terbaik, Oscar 2018 lalu. Para aktor seperti Ubaidillah (Turah), almarhum Slamet Ambari (Jadag), dan Narti Diono (Kanti) berhasil memainkan perannya bukan hanya dengan kuat, tetapi juga dengan penuh kewajaran.

Turah adalah satu dari sekian film yang mengangkat kehidupan lokal masyarakat Indonesia. Dengan dialog yang seluruhnya berbahasa Jawa ngapak, penonton disuguhkan umpatan lokal yang tajam, yang sekaligus menunjukkan bahwa pelontarnya ialah orang yang tak berpendidikan. Ialah Jadag, yang tercatat meraih gelar sebagai pelontar umpatan terbanyak. Jadag memang tidak berpendidikan. Berbeda dengan Pakel, sarjana licik tangan kanan juragan Darso, yang dianggap musuh oleh Jadag. Dengan gelar sarjananya, Pakel meledek Jadag dalam sebuah perkelahian di tepi sungai.

Dalam film bertema kesenjangan sosial, kita dapat melihat bahwa Jadag adalah tipe pejuang yang asal-asalan, yang jika melihat kelakuannya kita bakal tahu, bahwa perubahan tidak akan pernah terjadi di tangannya. Jadag memang pejuang, mengatakan suara hatinya langsung kepada penguasa. Tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa, dan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mengeluh panjang tentang hidup. Itu karena Jadag bukan hanya tidak punya power massa, tetapi juga tidak didukung dengan pengetahuan yang cukup.

Keinginan Jadag untuk terbebas dari kemelaratan hidup tidak didukung oleh masyarakat kampung Tirang. Alasannya sederhana, masyarakat juga tidak berpendidikan. Di antara orang-orang yang tidak berpendidikan itu, hanya Jadag yang mampu melihat relasi kuasa dalam praktik hegemoni Juragan Darso. Namun, kemampuan untuk melihat relasi itu tidak lantas membuat Jadag berhasil membujuk masyarakatnya untuk melawan. Mungkin kelakuan Jadag yang keblinger membuat masyarakat antipati terhadapnya, terhadap gagasannya.

Turah sendiri, si penjaga kampung yang nrimo, tiada bersikap kecuali melarikan diri di akhir cerita. Turah adalah pengamat yang tidak melakukan apa-apa. Prinsip hidupnya yang harus mengikuti alur agar aman membuat Jadag bahkan menuduh Turah seorang penjilat. Namun, hal itu karena Turah adalah seorang yang berpikir seimbang, mempertimbangkan baik-buruk dengan matang. Turah menilai bahwa sikap Jadag yang terkesan emosional adalah penyebab semakin melaratnya masyarakat Tirang di kemudian hari.
Jika memakai sebuah analogi, kolaborasi Darso-Pakel adalah pemerintah yang bebas melakukan apa pun, Turah adalah rakyat yang manut, sementara Jadag adalah rakyat yang menyuarakan pendapatnya namun sedikit kontribusi.

Juragan Darso, sebagai penguasa yang melakukan praktik hegemoni secara sistematis, membuat masyarakat merasa bahwa ia adalah penyelamat hidup, tempat bergantung, dan wadah pengharapan. Masyarakat tidak tahu, bahwa praktik relasi kuasa itu lebih banyak menguntungkan Darso ketimbang mereka. ‘Sedekah’ dan dokter yang disediakan Darso sebetulnya hanya upah dan fasilitas lumrah yang disediakan pembuat lapangan pekerjaan. Tetapi dengan strategi yang apik, Darso berhasil membuat masyarakat merasa bahwa ia adalah dewa penyelamat nan baik hati.

Dalam kondisi seperti ini, warga benar-benar bungkam. Bukan karena tidak berani, melainkan karena tidak tahu bahwa mereka hanya dijadikan alat penghasil keuntungan Darso-Pakel. Pada akhirnya penonton tahu, melalui kekuasaan yang dimiliki, Darso adalah brengsek yang menutup beragam akses ke kampung Tirang, hanya karena ungkapan suara rakyat yang diwakili oleh Jadag. Dan Turah serta istrinya melarikan diri dalam hujan malam hari. Esok paginya, Jadag telah tewas, tubuhnya tergantung di atas pohon.

Meski film hanya berlokasi di sebuah tempat terisolasi, Turah sebetulnya juga mengajak penonton untuk menengok sesuatu yang lebih luas dari sekadar kampung Tirang. Praktik politis masyarakat kelas atas, yang dilakukan dengan memanfaatkan segala kelebihan yang dimiliki seperti kekayaan dan pengetahuan, telah terjadi dari zaman ke zaman, di mana-mana. Satu-satunya jalan untuk keluar dari jerat kekuasaan yang merugikan salah satu pihak itu, mungkin, hanya seperti yang dicontohkan Turah dan Kanti: melarikan diri. Atau justru seperti Jadag, berjuang sampai mati?

Fajar Hanif Mubarok

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top