Sketsa Layu

Sketsa Layu

Fajar Hanif Mubarok
1 min read

Sunyi melekat pada udara kotor, daun-daun layu

angin sore merintih,
dan hanya lewat jendela ituaku bisa memandanginya

“Dengan bagaimanakah aku boleh
mendatangimu?” Sesaat sebelum matahari
meninggalkan kita
dalam kesepian yang jauh


Sementara siapa pun berubah menjadi puing-puing
Tenggelamlah dalam kenyataan yang tak terukur
Gelap menyapu atap-atap, tiang, tangga beton,
sungai yang tersembunyi

Lalu dengan kata apakah aku harus mendatangimu;
kegelapan senantiasa
menyembunyikan makna-makna
dan bulan kuning mendesah sambil berkata,

“Kapan lagi, kapan lagi.”

Aku masih sempat melihat
sketsa terakhir
dalam gurat awan
tapi di bawah sini begitu ramai                                                     
dan aku merasa

menatapi lalu lalang: suara bising pinggir jalan
kendaraan-kendaraan terparkir, sesuatu yang kau pegang
Aku merasa makin sepi
seperti pada mimpi yang jauh

22 Januari 2022

Fajar Hanif Mubarok

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top