Sunyi melekat pada udara kotor, daun-daun layu
angin sore merintih,
dan hanya lewat jendela ituaku bisa memandanginya
“Dengan bagaimanakah aku boleh
mendatangimu?” Sesaat sebelum matahari
meninggalkan kita
dalam kesepian yang jauh
…
Sementara siapa pun berubah menjadi puing-puing
Tenggelamlah dalam kenyataan yang tak terukur
Gelap menyapu atap-atap, tiang, tangga beton,
sungai yang tersembunyi
Lalu dengan kata apakah aku harus mendatangimu;
kegelapan senantiasa
menyembunyikan makna-makna
dan bulan kuning mendesah sambil berkata,
“Kapan lagi, kapan lagi.”
…
Aku masih sempat melihat
sketsa terakhir
dalam gurat awan
tapi di bawah sini begitu ramai
dan aku merasa
menatapi lalu lalang: suara bising pinggir jalan
kendaraan-kendaraan terparkir, sesuatu yang kau pegang
Aku merasa makin sepi
seperti pada mimpi yang jauh
22 Januari 2022

0 Komentar