Sebuah Keyakinan

Sebuah Keyakinan

chrystalmoon
3 min read

Langit malam memancarkan sinar rembulannya. Angin berhembus lembut di antara kita berdua yang kala itu sedang duduk berdampingan di sebuah kursi kayu yang sudah mulai reyot. Asap rokok kita bersatu, menciptakan semburat putih di udara yang menguap hingga langit-langit.

Aku bertanya padamu, “apa yang membuatmu datang kemari, meninggalkan keluarga dan teman-temanmu untuk menempuh hidup baru yang diawali dengan kesendirian yang menyesakkan?”

Saat itu kamu hanya tersenyum, dan aku pun tahu kalau inilah jalan yang ingin kau tempuh. Keyakinanmu itulah juga yang membuatku bisa berdiri hingga kini, di tengah kesendirian yang juga baru aku rasakan setelah sekian lama memenuhi kehidupan dengan familiarisme yang nyaman.

Hidup memang aneh. Di menit pertama aku merasa bahwa aku akan kembali ke kenyamanan yang sudah aku pelihara di masa lalu, namun di menit kedua aku merasa bahwa aku akan bisa menaklukkan kesesakan yang aku rasakan saat aku hadir di sisi lain samudra yang akan membawaku entah ke mana.

Di kemudian hari, aku kembali menanyakan kepadamu, “kenapa kamu sangat menarik?” Aku ingat sekali kamu terkejut mendengar perkataanku. Dan kamu pun tak bisa menjawab pertanyaanku. Dan aku semakin menganggapmu menarik.

Di kemudian hari aku ingin kembali berbincang singkat denganmu, tapi aku melihat kamu mulai masuk ke lingkaran yang tidak bisa aku masuki, dan hanya diam menunggumu rehat dari lingkaran itu. Namun aku tetap teringat akan keyakinanmu di saat pertama kali kita berbincang, dan terus melanjutkan hidup sebagaimana aku bisa melanjutkan.

Sebagaimana hari terus berganti, kita mulai hidup di lingkaran masing-masing, dan ingatan akan hari itu terus mengikis, mencoba menghilangkan bayangannya dari memori yang tersimpan di sudut kepalaku. Kesendirian yang menyesakkan itu perlahan mulai diisi dengan orang-orang baru, kegiatan baru, dan rutinitas baru. Aku tak lagi berharap akan perbincangan kecil itu, dan mencari perbincangan lain dengan keakraban yang lain.

Namun pada dasarnya hati seorang insan, suatu hari pasti akan merindukan kehadiran yang pernah mampir. Aku pun melangkah mendekatimu, bertanya, “apa yang sedang kamu lakukan?” Sebuah pertanyaan basa-basi yang sebenarnya aku pun tidak memerlukan jawaban. Hanya dengan satu kalimat pertanyaan, dan aku sudah cukup puas dengan hari itu.

Kamu menatapku saat aku berbicara, memberikan jawaban atas segala pertanyaanku, juga menyalurkan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah aku mengerti apa itu karena kamu tidak pernah mau mengeluarkan apa yang ada di dalam rongga batinmu itu. Jiwaku berteriak, ‘BICARALAH!’ Namun mungkin itu untuk di kemudian hari saja.

Dari matamu, aku melihat secercah kegundahan yang hanya kulihat saat kamu sedang ada di dekatku. Dari situ rasa frustrasi juga menghampiriku, membangunkan gejolak dari dalam diriku untuk mengeluarkan kegundahan yang kamu pendam.

Lama setelah hari itu, aku menghampiri tempat yang mungkin akan kamu singgahi, hanya untuk melihat apa yang ada di sana. Tak berharap apa pun, tak berdoa barang sekata pun. Detik itulah kamu datang, dan dari mulutmu terucap sebuah kata yang tertancap di batinku hingga kini, tanpa pernah sedikit pun tercabut.

Matamu memandangku sekali lagi, berusaha mengeluarkan beberapa patah kata, yang kuyakin penuh dengan makna. Sebuah keyakinan.

“Kamu sangat menarik.”

Penyunting: Rachmad Hidayatullah
Ilustrasi: Fajar Hanif Mubarok

chrystalmoon
Contributor

chrystalmoon

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top