Ambisi Zevana

Ambisi Zevana

Muhamad Ramdhan
3 min read

Ambisi Zevana

Bukankah ini seperti jebakan?
Kami terdampar
di antara jam tujuh dan delapan.
Menuju Jakarta dengan
serba-serbi kutukan,
juga beribu godaan.

Kini ia terduduk di bawah pandanganku.
Matanya terlelap di balik kaca mata.
Dan lengkung hidungnya
terpantul sinar mentari
yang menembus jendela.

Di keningnya aku bisa melihat kenangan.

Di keningnya, tersimpan segenggam hujan
yang pernah membasahi
kita sepanjang jalan.
Di keningnya, juga tersimpan manis es krim
yang mengobati perjalanan
jauh dan jenuh.

Di keningnya, selalu tersimpan
selembar daun dan bebatuan bukit
yang membuat kita terduduk
pada siang yang berkecamuk.

Namun tubuhku terpaku,
sebab inilah masa depan itu.

Pernah kutawarkan kepadanya
segelas kehidupan.
“kehidupan tak sesempit air dalam gelas,” katanya.
Kuajak dia menyaksikan pertunjukan.
Namun ia hanya bersedia duduk
di meja makan melahap katsu,
serta bercerita ini dan itu.

Lalu ia memintaku,
“antar aku ke atas bukit itu.”
Namun rasaku telah luruh
dan melebur menyerah.
Tak mengerti.

Kuraih tangannya pertama kali,
dan kubertanya dalam hati,
“kenapa baru kini?”

Ambisi Zevana, aku mengerti.
Tapi aku tidak mengerti diriku sendiri.
Ia ingin meraih bebuah yang tersembunyi
di balik rindang daun.
Sementara buah yang kukantongi
ingin meledak bertahun-tahun.

Dan Zevana masih berambisi.
Namun masihkah ia terkesan
dengan hal-hal kecil
dari tangan dan mulutku?

Kini ia terlelap
tepat di bawah mataku.
Di keningnya, bergulat.
Berbagai macam nama
yang bentrok.

Sudahkah ia,
menemukan kenyamanannya?
Sudahkah ia,
menemukan dirinya sendiri?

Pertanyaan itu muncul
saat punggungnya mulai
menjauh di atas tangga berjalan.
Sudah sampaikah ia
pada kata selesai dalam versinya?
Atau ada ambisi lain yang ingin ia kejar?

Ah, ambisi Zevana.
Ia akan tenggelam
dalam genggaman seseorang.
Di mana keriuhan akan
terjadi di masa depan.
Namun semoga, ia tidak mengalami
nasib seperti ibunya.

Ia perempuan.
Namun temannya menganggapnya
kurang perempuan.
Mungkin karena terbiasa
menangkap sepi sendiri,
dan menelan tantangan
bulat-bulat seperti roti.
Dalam jelaga memendam emosi.
Namun di sanalah ia mulai berambisi.

Anak perempuan pertama.
Di pundaknya menumpuk
berbagai rencana
dan harapan
dari keluarga.

Namun kini pada siapa
ia menyampaikan cerita?
Pada siapa ia tumpahkan
patah hati dan kecewa
yang mendarat di dadanya?
Karena ia masih berjalan
seperti layaknya Zevana.

Ia selalu percaya diri dan
ragu di waktu bersamaan.
Ia selalu ceria dan
malu di waktu yang sama.

Kini telinga siapa yang
mampu mendengar setiap
ragu dan yakinnya?
Setiap malu dan
senangnya?

Ingatan tentang Zevana
menembus gemeresik angin
dan gemercik hujan.
Masih ada kata yang
belum sempat terucapkan.
Di mana dunia kita
ternyata penuh kemiripan.
Ada takdir lain yang terbayang.
Jika seandainya ada lain kemungkinan

Mungkin saja kita akan
menyanyikan satu lagu bersama.
Dengan sesak dan bangga
yang menyatu dalam satu irama.
Mungkin saja kita akan
menyaksikan pertandingan sepak bola,
dan saling menangkap ekspresi
pada sepasang bola mata.

Ia kasar
sekaligus lembut
seperti cermin yang retak.
Dan aku akan berdiri
sekali lagi
di depannya.

Hanya untuk merasakan atmosfer itu:
Ketika luka menyatukan kita.
Dan yang tersisa:
hanya bisikan kata-kata.

Zukhruf

Nanti kita akan saling bertanya:

Tentang angsa-angsa
yang berenang di sungai susu,
hendak ke mana mereka menyusur?

Dan kita melupa
lalu bergegas menuju istana,
yang mengapung
namun kokoh di atas awan.

Mandi dengan air yang
lebih jernih dari matamu.
Di kolam yang
dilapisi serat-serat do’a.
Dengan ukiran yang
dilukis tinta emas.

Kita memetik apel
sambil menikmati kecipak air.
Pada pohon yang tumbuh
seperti sihir, usah kaupeduli
pada debu panas di jalanan.

Jika pulang kau dapatkan
kemenangan,
yang abadi,
dan zukhruf.

Kuhitung Senyummu Tiga Kali

Kuhitung senyummu
tiga kali.

Pertama:
Ketika udara dingin
merasuk pada pagi
di Bogor, sebelum
riuh malam Jakarta.

Kedua:
Ketika kututup mataku
dengan buku
“Tak Mau Dirayu Bulan”,
dan bersandar pada
bean bag perpustakaan.

Ketiga:
Ketika menunggu
hujan di bawah gedung.

Dan ketiga senyum itu,
kutangkap dalam
samar-samar
bisik
rayu
setan.

Senen

Pagi-pagi sekali
kita terbangun, dan
melintasi jalan
Bogor-Jakarta.

Kau mengantarku
ke stasiun kereta.
Melalui subuh
yang sepi
dan menusuk.

Di tasku, kausiapkan
berbagai baju
untuk tiga hari.

Dan saat itu
aku tahu:
Yang kausiapkan
bukan hanya
pakaian-pakaian ini,
tetapi tameng
untuk berperang.

Kalau Motor
Bisa Ngomong

Kalau motor bisa ngomong,
pasti dia akan ngomong:

“Kapan ganti kampas rem?”
“Kapan saya dicuci?”
“Kapan ganti oli?”

Dan dengan kesadaran penuh,
aku akan balik bertanya,
“Dari mana uangnya?”

Penyunting: Ashrofa
Ilustrasi: Shanya Putri

Muhamad Ramdhan
Contributor

Muhamad Ramdhan

Tulisan lain dari Muhamad Ramdhan

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top