Ketika AI Masuk ke Dunia Film: Ancaman atau Babak Baru Kreativitas?

Ketika AI Masuk ke Dunia Film: Ancaman atau Babak Baru Kreativitas?

MOVIEBOX21
7 min read

AI seharusnya menjadi alat, bukan alasan untuk menghilangkan manusia dari proses kreatif.

Dunia perfilman selalu berkembang mengikuti perubahan teknologi. Dari kamera analog hingga kamera digital, dari efek visual sederhana hingga teknologi CGI yang mampu menciptakan dunia yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasi, teknologi telah menjadi bagian penting dari perjalanan sinema. Kini, industri film kembali menghadapi perubahan besar dengan hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kehadiran AI dalam dunia film menimbulkan dua reaksi yang berbeda. Di satu sisi, teknologi ini dianggap mampu membantu sineas bekerja lebih cepat, murah, dan efisien. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa AI dapat menggantikan pekerjaan manusia, mengurangi nilai kreativitas, bahkan mengubah cara kita memahami sebuah karya seni.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah AI akan masuk ke industri film, melainkan bagaimana manusia akan menggunakan teknologi tersebut tanpa kehilangan sisi manusiawi dari sebuah film.

AI dan Cara Baru Membuat Film

Dalam proses produksi film, pekerjaan tidak hanya dilakukan ketika kamera mulai merekam. Ada proses panjang sebelum dan sesudah produksi. Mulai dari mencari ide, menulis naskah, membuat storyboard, memilih lokasi, menyusun jadwal, melakukan penyuntingan, hingga mengembangkan efek visual.

AI dapat membantu sejumlah pekerjaan tersebut. Teknologi generatif, misalnya, dapat digunakan untuk membuat gambaran visual awal dari sebuah adegan atau membantu pengembangan konsep. Dalam proses pascaproduksi, teknologi berbasis AI juga dapat membantu pekerjaan seperti transkripsi, penyuntingan tertentu, pengolahan suara, hingga berbagai kebutuhan visual.

Hal ini tentu menarik bagi pembuat film dengan sumber daya terbatas. Film independen yang sebelumnya membutuhkan biaya besar untuk menghasilkan visual tertentu mungkin memiliki lebih banyak alternatif dengan bantuan teknologi.

Namun, efisiensi tidak selalu berarti kreativitas.

Sebuah gambar yang dapat dibuat dalam hitungan detik belum tentu memiliki makna yang sama dengan gambar yang lahir dari proses panjang seorang seniman. Teknologi mungkin mampu menghasilkan sesuatu yang terlihat indah, tetapi pertanyaan mengenai alasan di balik keindahan tersebut tetap berada pada manusia.

Ketika Kreativitas Manusia Dipertanyakan

Salah satu kekhawatiran terbesar dari perkembangan AI adalah kemungkinan berkurangnya peran pekerja kreatif.

Penulis skenario, ilustrator, animator, editor, aktor, pengisi suara, hingga pekerja efek visual dapat melihat AI sebagai teknologi yang berpotensi mengubah lapangan pekerjaan mereka. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan karena perusahaan tentu memiliki pertimbangan mengenai biaya dan efisiensi produksi.

Jika suatu pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat dengan bantuan mesin, perusahaan mungkin akan mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah tenaga manusia yang terlibat.

Namun, film bukan hanya persoalan menghasilkan gambar dan suara. Film adalah cara manusia bercerita.

Pengalaman hidup seorang penulis dapat memengaruhi karakter yang ia ciptakan. Kenangan seorang sutradara dapat memengaruhi cara ia mengambil gambar. Bahkan pengalaman seorang aktor dapat memberikan emosi tertentu pada sebuah adegan.

Hal-hal tersebut tidak dapat dengan mudah diukur hanya berdasarkan jumlah data.

AI dapat mempelajari pola dari karya yang sudah ada. Manusia memiliki kemampuan untuk mengalami kehidupan secara langsung dan kemudian mengubah pengalaman tersebut menjadi cerita.

Di sinilah perbedaan penting antara teknologi dan kreativitas manusia.

Munculnya Persoalan Etika

Selain persoalan pekerjaan, penggunaan AI dalam perfilman juga membawa pertanyaan etis.

Salah satu persoalan yang banyak dibicarakan adalah data yang digunakan untuk melatih sistem AI. Jika sebuah sistem mempelajari karya manusia dalam jumlah besar, muncul pertanyaan mengenai hak pencipta atas karya tersebut.

Persoalan lain adalah penggunaan wajah dan suara seseorang tanpa persetujuan. Teknologi saat ini semakin memungkinkan seseorang untuk dibuat seolah-olah mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan.

Dalam industri film, teknologi seperti ini dapat memiliki manfaat tertentu, tetapi juga dapat disalahgunakan.

Bayangkan, seorang aktor yang wajah atau suaranya digunakan untuk sebuah adegan tanpa persetujuan yang jelas. Secara teknis mungkin hal tersebut dapat dilakukan, tetapi secara etis belum tentu dapat dibenarkan.

Karena itu, perkembangan teknologi membutuhkan aturan dan kesepakatan yang mampu melindungi manusia yang berada di balik karya.

Apakah Film yang Dibuat dengan AI Masih Bisa Disebut Seni?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak mudah.

Jika seseorang menggunakan AI untuk membantu membuat gambar, apakah hasil akhirnya masih merupakan karya manusia?

Menurut saya, jawabannya bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Kamera adalah teknologi. Software editing juga teknologi. CGI merupakan teknologi. Tidak ada yang mempertanyakan nilai sebuah film hanya karena sutradaranya menggunakan kamera digital atau efek visual komputer.

Masalahnya bukan terletak pada penggunaan teknologi, melainkan pada siapa yang memiliki kendali kreatif atas teknologi tersebut.

Jika AI digunakan sebagai alat untuk membantu manusia mewujudkan gagasan, maka teknologi tersebut dapat menjadi bagian dari proses kreatif. Sebaliknya, jika manusia hanya memberikan sedikit perintah kemudian menyerahkan seluruh proses penciptaan kepada mesin tanpa memahami atau mempertanggungjawabkan hasilnya, perdebatan mengenai kepengarangan menjadi jauh lebih kompleks.

Dengan kata lain, AI seharusnya menjadi alat, bukan alasan untuk menghilangkan manusia dari proses kreatif.

Masa Depan Perfilman Tidak Harus Menjadi Pertarungan Manusia Melawan Mesin

Perdebatan mengenai AI sering kali dibingkai sebagai pertarungan antara manusia dan mesin. Padahal, kemungkinan terbesar yang terjadi justru adalah kolaborasi.

Seorang sutradara dapat menggunakan AI untuk mengeksplorasi konsep visual sebelum proses produksi. Penulis dapat menggunakannya sebagai alat brainstorming, kemudian mengembangkan kembali gagasan tersebut dengan pengalaman dan perspektif pribadi. Editor dapat menggunakan teknologi untuk mempercepat pekerjaan teknis sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk mempertimbangkan aspek artistik.

Dengan pendekatan tersebut, AI tidak harus menjadi pengganti manusia.

Teknologi dapat mengambil sebagian pekerjaan yang bersifat repetitif, sementara manusia tetap menentukan arah cerita, karakter, emosi, dan pesan yang ingin disampaikan.

Bahkan, bagi sineas pemula, teknologi tersebut dapat membuka kesempatan baru. Hambatan biaya yang sebelumnya membuat seseorang sulit memproduksi karya visual mungkin dapat dikurangi dengan bantuan perangkat digital dan AI.

Tetapi kemudahan juga membawa tanggung jawab.

Ketika siapa pun dapat membuat gambar, suara, bahkan video dengan cepat, kemampuan untuk membedakan karya yang memiliki gagasan dengan karya yang hanya dibuat untuk mengikuti tren menjadi semakin penting.

Penonton Juga Akan Mengalami Perubahan

Perubahan akibat AI tidak hanya terjadi di balik layar. Penonton juga akan menghadapi pengalaman baru.

Suatu saat, batas antara film yang sepenuhnya dibuat manusia, film yang menggunakan AI sebagai alat bantu, dan film yang sebagian besar dihasilkan oleh AI mungkin semakin sulit dibedakan.

Pada kondisi tersebut, penonton mungkin tidak lagi hanya bertanya, “Bagaimana film ini dibuat?”

Mereka juga akan bertanya, “Siapa yang membuatnya, dengan data apa, dan apakah prosesnya dapat dipertanggungjawabkan?”

Transparansi kemungkinan menjadi semakin penting. Penonton berhak mengetahui ketika teknologi tertentu digunakan secara signifikan dalam sebuah produksi, terutama apabila menyangkut wajah, suara, atau karya orang lain.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi tidak dapat dihentikan hanya karena kita merasa takut terhadapnya. Yang dapat dilakukan adalah memastikan bahwa perkembangan tersebut berjalan bersama dengan etika.

Menjaga Manusia di Tengah Perkembangan Teknologi

AI mungkin mampu menghasilkan gambar dalam hitungan detik, menyusun suara, membantu menulis dialog, atau mempercepat proses penyuntingan. Namun, film tetap membutuhkan sesuatu yang lebih sulit untuk dibuat oleh mesin: alasan mengapa sebuah cerita perlu diceritakan.

Manusia membuat film karena memiliki pengalaman, konflik, harapan, ketakutan, cinta, kehilangan, dan berbagai emosi lainnya.

Itulah yang membuat film memiliki hubungan dengan penontonnya.

Karena itu, masa depan perfilman tidak seharusnya dipandang sebagai pilihan antara menggunakan AI atau mempertahankan kreativitas manusia. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana manusia menggunakan teknologi tanpa menyerahkan seluruh proses kreatif kepadanya.

AI mungkin akan mengubah cara film dibuat. Namun, selama manusia masih menjadi pihak yang menentukan cerita, makna, dan alasan di balik sebuah karya, teknologi tersebut tidak harus menjadi akhir dari kreativitas.

Justru sebaliknya, AI dapat menjadi salah satu babak baru dalam perjalanan panjang sinema—sebuah babak ketika manusia memiliki alat yang semakin kuat, tetapi tetap harus menentukan untuk apa alat tersebut digunakan.

Penyunting: Ashrafa
Ilustrasi: Shanya Putri

MOVIEBOX21
Contributor

MOVIEBOX21

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top