Minggu sore ia datang ke restoran Padang di bawah flyover. Tempat yang terjepit di antara reklame iklan kopi kalengan dan kantor partai berlogo kapas. Ratingnya 4,8. Seseorang memuji nasinya pulen dan ayam goreng kuningnya enak. Seseorang lain bilang sambal ijonya kurang pedas. Ada yang mengeluh karena seekor lalat berhasil masuk ke bakul nasi yang sudah ditutup plastic wrap. Belum ada yang mereview rendangnya.
Belum lama pacarnya mengirim daftar menu restoran itu. “Coba yang ini. Kayaknya masuk bujet.”
Selama tiga minggu terakhir ia sudah menyimpan tujuh restoran untuk acara lamaran. Restoran, bukan rumah makan—ia tidak tahu mulai kapan perbedaan itu penting. Dua terlalu mahal. Satu terlalu bagus sampai ibu pacarnya bilang tempat seperti itu cocoknya untuk orang yang mau pamer. Satu punya ruang parkir minim. Tempat ini cukup.
Lelaki yang mengaku dari marketing mengajaknya naik ke lantai dua. Ada empat meja panjang, sekitar tiga puluh kursi, tiga AC berdiri dan satu AC dinding yang kesusahan membantu, lalu sebuah speaker di pojok yang tampaknya sudah berdamai dengan nasibnya sebagai benda mati
Dari jendela utara ia bisa menerawang ke pangkal jalan tol, apartemen, lalu lapangan padel yang entah datang dari mana, mengerubungi Jakarta seperti hama ganas yang menggerogoti kebun. Ia merekam ruang beberapa kali dari beberapa sudut, sesekali membuka catatan di ponselnya: cincin, bunga, dekorasi, memory card, jahit baju, seserahan, menghubungi keluarga dari bapak, menghubungi keluarga dari ibu, dan satu kata yang sudah tiga kali ia hapus lalu tulis lagi: makeup. Soal yang terakhir itu, ibu pacarnya bilang perlu. Pacarnya juga bilang perlu. Ia tidak mau ambil pusing selagi harganya tidak lebih dari tiga ratus ribu.
Ternyata melamar anak orang butuh jauh lebih banyak usaha daripada yang dibayangkan. Selama tiga minggu ia rajin membandingkan harga bunga, menghubungi fotografer yang direkomendasikan teman kantor, memesan seserahan, hingga menanyakan apakah hidangan ayam bisa di-mix; dibagi dalam sepuluh porsi ayam pop, sepuluh ayam bakar, sepuluh ayam gulai, dan lima ayam goreng.
“Bisa,” kata marketing itu dengan logat Sunda, seperti hampir semua pegawai yang ditemuinya sejak masuk ke restoran.
“DP-nya berapa?”
Marketing itu menyebut angka.
Ia tak bisa menahan diri untuk mengecek saldo mobile banking.
Tak ada yang bertanya siapa yang akan dilamar. Mereka hanya membicarakan susunan kursi, pembagian jumlah ayam, dekorasi, lalu berapa dus air mineral yang bisa dibawa dari luar. Ia merasa nyaman. Tidak perlu menjelaskan bahwa pacarnya belum bisa memastikan apakah keluarganya yang sedikit itu akan datang dari Solo dan Bandung. Juga tidak perlu mengatakan bahwa bapaknya sendiri sudah dua kali bertanya apakah keluarga perempuan itu akan menerima lamarannya.
Dua bulan lagi ia akan berdiri di lantai dua restoran itu di depan dua keluarga. Akan ada bunga, fotografer, pantun sambutan, dan cincin yang sampai hari ini belum ia beli. Di depannya akan berdiri perempuan yang selama dua tahun tahu bagaimana ia mengorok, lupa minum obat, dan pernah semalaman kalang kabut mencari kacamata yang ketinggalan. Setiap kali ada sesuatu yang sulit dibicarakan, ia selalu mengatakan, “Nanti saja.”
Ia sudah sampai di parkiran ketika ada pesan dari sang pacar: “Malam ini mau makan di mana?”
Ia mengetik: terserah kamu. Menghapusnya.
Aku cari dulu. Lalu mengirimnya.
Dari dalam restoran sayup-sayup suara piring beling beradu, bercampur aroma kecut ikan asam padeh. Para pelayan beratraksi menumpuk piring hampir setinggi kepala mereka. Ia teringat akrobat sirkus Tiongkok yang pernah ia tonton di Bogor waktu belia. Kali ini ia tidak terkesan.
Ia menyelah motor bebeknya. Logo Rumah Gadang di depan restoran menyusut di spion kiri ketika ia membelah garis pembatas jalan, lalu hilang di antara lampu merah, trotoar ompong, dan reklame iklan kopi kalengan itu lagi. Malam itu ia belum tahu mau makan apa, dan di mana.
***
Waktu anak ketujuhnya lahir, ia sedang mendekam di bui. Pagi itu sipir memanggil namanya dari ujung koridor. Ia menekan dadanya ke jeruji besi, menjulurkan tangan dan menerima selembar kertas, lalu kembali ke tempat tidurnya yang cuma matras. Teman sesel bertanya apakah anak itu laki-laki atau perempuan.
“Cowok.”
Berminggu-minggu ia tak ketemu keluarga, hingga beberapa waktu setelahnya ia dibebaskan, atau lebih tepatnya, diselamatkan sesama Marhaen yang pemilik hotel mewah di Tugu Tani.
Setiba di rumahnya di Senen, anak bayi ketujuh sudah tidak merah lagi. Bisa menangis keras dan menggenggam telunjuk ibunya. Ia menatap wajah kecil nan bodoh itu lama. Alisnya tebal seperti orang Soviet. Sang istri menyisipkan nama bayi mereka dalam senandung nina bobo. Ia mendengarkan lagu itu lama. Lebih lama lagi senyumnya. Sebab tak ada namanya di nama anak itu.
Ia kembali aktif menulis di koran. Tentang yang ia lihat di kolong jembatan dan di pinggir kali di Pulo Gundul. Mungkin tentang orang-orang yang tetap bekerja meski harga beras naik drastis. Atau tentang apa pun. Kita tidak tahu. Ia melipat lembar tulisan dan memasukkannya ke dalam amplop cokelat, meminta anaknya yang kelima mengirim via kantor pos Kalipasir.
“Timbang di kantor pos terus kirim ke redaksi,” titahnya.
Si anak kelima belum mengerti apa-apa tentang redaksi, tentang politik, tentang kumpul-kumpul bersama pemberontak yang bisa bikin tujuh turunan melarat. Ia hanya tahu bapaknya menyuruh, kemudian lekas menghilang di ujung gang.
Untuk kesekian kalinya, ia melihat anaknya membawa sesuatu dalam namanya. Untuk sementara, itulah satu-satunya yang ia punya untuk dititipkan. Ia kira namanya lebih baik dipakai untuk menulis daripada diberikan kepada anak sendiri. Sebab namanya pernah dibawa ke sebuah ruangan yang tidak punya jendela, dingin menggema di lorong penjara.
Besok pagi ia akan menemukan tulisannya di koran merah itu. Namanya tetap akan ada di halaman tengah edisi awal pekan, meskipun tidak ditemukan di antara nama anak-anaknya.
***
“Suddenly I hearing calling by telepon. 16 Feb(ruari) big brother has gone to inalillahi. I’m shock very sangat and then wake up dari tidur. I dont think so, to meet him go bicycle motor with my wife to see them.”
Itu tertulis sedemikian rupa di belakang buku Yasin ketika ia sedang mencari sesuatu di laci lemari lama. Tulisan sambung dengan tekanan bolpoin yang miring, beberapa kata dicoret lalu ditimpa lagi. Itu catatan om keempatnya, yang beberapa tahun setelah menulis catatan itu juga mati karena serangan jantung.
Catatan konyol. Tapi setelah dibaca berkali-kali, ia tahu tidak ada kalimat yang lebih pas untuk kematian om tertuanya.
Dini hari itu ia ada di rumah, bersama bapak, ibu, kakak, dan adiknya.
Om tertua sedang menginap di ruang tamu ketika sekitar jam empat pagi tiba-tiba memegang dada dan berteriak karena sesak. Bapak terbangun, memergoki sang kakak yang berdiri sudah mengompol, napasnya tinggal selang sedikit. Bapak sigap menumpu ketika tenaga di tubuh om mulai hilang. Ibunya berlari mengambil obat. Sedang ia hanya berdiri di dekat meja makan, mencoba menelepon sepupu yang dokter, sementara ruang tamu mendadak jadi terlalu kecil untuk semua orang yang panik.
Tangan bapak memegang tubuh sakaratul itu erat, memeluk dan mengelus punggung sang kakak sambil menangis. Ia ingat kepala omnya yang jatuh sebahu, seperti tetiba terlalu lelah untuk menegakkan kepala. Ia juga ingat seseorang—tidak tahu keluar dari mulut siapa—berkata, “Bawa ke rumah sakit!”
Tapi tidak ada yang membawanya ke mana-mana.
Ia tidak ingat kapan tepatnya orang-orang sadar bahwa omnya sudah tak bernyawa. Tidak ada aba-aba. Tidak ada bunyi bel. Apalagi gong. Tubuh itu saja yang berubah.
Beberapa tahun kemudian ia baru sadar bahwa itulah pertama kalinya ia melihat seseorang mati dengan mata kepalanya sendiri.
Waktu kecil ia mengira orang mati akan terlihat seperti orang tidur. Ternyata tidak. Orang mati tetap punya berat. Badannya masih hangat dalam beberapa waktu. Punya wajah yang tetap bisa dikenali. Yang hilang adalah sesuatu yang tidak kelihatan dan karena itulah sulit sekali dijelaskan kepada anak kecil. Seperti ada satu barang penting yang diambil dari kamar, tetapi tidak ada yang tahu bentuk barangnya.
Ia selalu mencoba mengingat apa yang terakhir dikatakan omnya. Tidak pernah berhasil. Yang ia ingat hanya suara napas. Pendek. Berat. Kasar. Seperti orang menggaruk karat dari besi. Lalu berhenti.
Om keempatnya tidak melihat kejadian itu. Ia cuma menerima telepon, yang datang serba telat.
Suddenly I hearing calling by telepon….
Ia membayangkan om keempat terbangun panik mendengar kabar duka, lalu menyalakan sepeda motor pagi buta untuk melihat jenazah sang kakak. Mungkin masih mengantuk. Belum sempat cuci muka. Mungkin istrinya asal-asalan mengambil kerudung hingga warnanya nabrak. Mungkin sepanjang jalan mereka belum bisa sepenuhnya percaya bahwa sang kakak benar-benar sudah tidak ada.
I dont think so, to meet him go bicycle motor with my wife to see them. Bak kematian adalah sebuah janji nongkrong yang batal, tetapi orang tetap harus datang untuk memastikan.
Ia suka bagian itu. Karena lucu.
Memang ada yang lucu dari kalimat yang ditulis dalam keadaan sedih, ketika bahasa yang tersedia tak cukup untuk menampung apa yang terjadi. I’m shock very sangat. Satu bahasa tidak cukup, sehingga bahasa lain harus ikut membantu.
Ya, begitulah menulis pada dasarnya bekerja. Sesuatu terjadi lebih dulu. Baru setelahnya orang sibuk mencari kata yang sanggup mengejarnya. Bahasa yang biasanya cukup untuk membeli rokok, memesan kopi, mengisi formulir, atau bertanya harga gula pasir mendadak tidak berguna ketika seseorang mati. Akhirnya satu bahasa memanggil bahasa lain. Inggris meminjam dari Indonesia. Indonesia meminjam dari Inggris. Keduanya sama-sama tidak tahu harus berkata apa.
Ia membayangkan om keempatnya duduk suatu malam dan menulis catatan di belakang buku Yasin itu. Mungkin ia baru pulang dari kuburan. Mungkin istrinya sedang tidur. Mungkin anak-anaknya masih bermata sembap. Mungkin jenazah om tertua baru saja ditenggelamkan ke tanah. Kuburannya masih gembur. Tapi ia tidak tahu. Tidak ada keterangan tambahan. Tidak ada tanggal selain 16 Februari. Setelah itu, toh, hidup keluarga mereka kembali berjalan.
Kematian, rupanya, tidak peduli soal agenda dunia. Besoknya orang masih harus membeli beras. Masih harus buka toko. Anak-anak masih harus sekolah. Tagihan listrik tetap datang. Orang yang kemarin menangis masih harus mandi pagi-pagi. Orang hidup jarang tahu kapan mereka akan jadi sebatas kenangan untuk orang lain. Mereka biasanya hanya sedang duduk. Makan. Merokok. Mengeluh. Pulang terlambat. Bertanya kapan menikah. Lalu suatu hari, mati.
Satu momen lain saat sedang kuliah di Jogja, telepon datang lagi. Tengah malam juga. Kali ini tentang si om keempat, yang menulis catatan di buku Yasin itu. Serangan jantung juga.
Ia sedang di kamar kos ketika kabar itu sampai. Kipas angin berputar di atas kepala, pakaian kotor menumpuk di sudut, dan seorang teman kos bertanya apakah ia baik-baik saja. Ia bilang iya, hanya tidak bisa pulang ke Jakarta.
Di video kiriman grup WhatsApp keluarga, bendera kuning menancap di pagar, kursi plastik merah mulai memenuhi teras, gelas teh dan kardus air mineral berserakan, sementara orang-orang bicara dalam nada lebih rendah dari biasanya, seolah-olah orang mati bisa otomatis masuk neraka kalau mereka terlalu berisik.
Ia memandangi foto om keempatnya dalam kafan. Dan untuk sesaat ia tidak melihat om keempatnya. Ia melihat om tertuanya. Tangan yang melipat di atas perut. Kepala di atas bahu. Pelukan bapak yang sama yang memeluknya sejak kecil.
Dua saudara. Dua serangan jantung. Satu mati di depan matanya. Satu mati ketika ia berada ratusan kilometer jauhnya. Yang satu meninggalkan catatan tentang kematian sang kakak. Yang satu kemudian menjadi isi catatan orang lain.
Dulu ia mengira bahwa keluarga adalah sesuatu yang terus bertambah. Orang menikah. Punya anak. Menantu datang. Cucu lahir. Nama keluarga bertambah panjang. Tapi tak ada yang istimewa dalam urutan itu. Kematian tetap terasa mengerikan. Ia tak selalu datang dalam bentuk malaikat seram berjubah hitam dengan arit menjulang seperti badan Yao Ming. Kadang seperti rasa nyeri di dada yang tak tertahankan. Kadang ia datang lewat telepon.
Ia menutup buku Yasin. Dari dapur terdengar suara piring beling beradu. Ibunya memanggil. Ia menyaut, Bayk. Bergegas menaruh kembali buku Yasin itu ke dalam laci, tertutup dan bertumpuk dengan kuitansi, jam tangan mati, surat-surat lama, dan benda-benda yang rasanya belum cukup tidak berguna untuk dibuang.
Ia membiarkannya di sana.
***
Hari ini aku akan melamar seorang gadis yatim.
Aku menulis kalimat itu di ponsel, lalu menghapusnya. Bukan karena salah. Hanya terdengar seperti kalimat pembuka cerpen yang terlalu pengin menjadi penting. Pretensius.
Aku coba lagi.
Hari ini aku akan melamar seorang gadis.
Lebih aman.
Aku memerhatikan kata itu beberapa detik. Melamar. Tujuh huruf yang ternyata membutuhkan restoran, bunga, fotografer, seserahan, ayam pop, ayam gulai, makeup tiga ratus ribu, dua keluarga yang belum tentu datang semua, dan cincin yang harus dibeli. Benakku mengawang, Apakah Raymond Carver pernah punya masalah seperti ini? Apakah Umar Kayam pernah harus mengurus DP restoran sambil mengecek saldo mobile banking?
Mungkin tidak.
Atau mungkin mereka juga pernah berdiri di hadapan sesuatu yang sederhana lalu tidak tahu harus menuliskannya dengan kata apa.
Aku mengetik satu kata: maksud. Menghapusnya. Menulis lagi.
Maksudku, hari ini aku akan melamar seorang perempuan yang selama dua tahun tahu bagaimana aku mengorok, lupa minum obat, dan menyimpan kacamata di tempat yang selalu kucari terakhir.
Aku berhenti.
Di lantai dua restoran, orang-orang mulai berdatangan dari tangga. Kursi digeser. Piring disusun. Gelas dikeluarkan dari kardus. Seorang sepupu membetulkan jilbabnya di pantulan kaca jendela. Dari bawah terdengar suara klakson berbalasan, lalu seseorang memanggil nama orang lain.
Andai saja bapak pacarku ada di sini, aku belum tahu harus memanggilnya apa. Pak? Om? Calon mertua terdengar seperti jabatan yang belum resmi.
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Kakek dan nenekku sudah meninggal jauh sebelum aku lahir. Aku mengenalnya dari foto yang mulai menguning dan cerita sejarah yang selalu terhenti persis di bagian yang tak boleh aku ketahui. Nama Enjid (kakek) pernah dicetak berkali-kali di koran. Tetapi nama itu tidak pernah diberikan kepada anaknya sendiri. Sekarang, nama itu, entah bagaimana, kubawa di acara lamaran.
Sayangnya, aku tidak kebagian warisan apa-apa. Tidak ada rumah. Tidak ada tanah. Tidak ada jam tangan yang sengaja dihentikan pada menit dan detik spesifik. Hanya dongeng bahwa Enjid pernah kerja di RRI dan daftar anggota keluarga yang kalau ditelusuri ternyata lebih banyak yang mati dibanding yang hidup.
Aku mengintip cincin perak dalam kotak krem. Cincin sialan! Akhirnya kebeli. Nekat juga, pikirku sambil tertawa kecil.
Dari lantai dasar restoran, terdengar suara piring beling beradu.
Di keluargaku, telepon punya fungsi lain selain permintaan kiriman uang. Nada dering. Layar biru menyala. Nama orang muncul. Kadang nomornya belum disimpan. Lalu ada suara halo, dan beberapa detik kemudian, rumah, kamar kos, atau hari yang sedang dijalani mendadak tidak lagi sama.
Aku paham kabar buruk tidak pernah datang dengan upacara, tidak menunggu antrean, dan hampir selalu datang ketika seseorang sedang melakukan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan kematian. Orang tidak pernah dilahirkan untuk merasa siap. Gelombang longitudinal membawa kabar duka cuma-cuma, lalu meninggalkan satu kursi kosong yang entah berapa lama akan tetap dibiarkan di meja makan.
Om tertua mati di ruang tamu. Om keempat menerima kabarnya lewat telepon, lalu menulis I’m shock very sangat di belakang buku Yasin. Bertahun-tahun kemudian, telepon serupa datang ke kamar kosku di Jogja ketika aku tidak sedang melakukan sesuatu yang pantas dikenang. Hanya duduk, kipas angin berputar, pakaian kotor menunggu dicuci. Kabar buruk tetap akan tiba besok maupun lusa. Dan operator seluler tetap akan memotong pulsa.
Aku melihat perempuan itu dari kejauhan. Pacarku. Calon istriku. Kemungkinan besar, aku tahu. Namun predikat semacam itu selalu terdengar lebih pasti sebelum dikenakan seumur hidup. Perempuan itu balik melihatku. Tersenyum. Aku membalas. Tidak ada yang perlu dikatakan. Sekali ini aku tidak mengatakan, “Nanti saja.”
Di luar, Jakarta tetap berjalan seperti biasa. Taksi dan bajaj berhenti sembarangan. Pedagang membuka terpal. Orang-orang pulang membawa plastik belanjaan. Di suatu tempat, seseorang mungkin sedang menerima telepon yang akan mengubah keluarganya selamanya.
Aku akan membacakan tulisan berisi maksudku melamar gadis itu. Aku tidak tahu apakah aku bisa menulis sebagus Raymond Carver. Tidak tahu apakah aku bisa menghangatkan orang-orang seperti Umar Kayam. Tidak tahu apakah semua nama yang sudah mati di keluargaku pernah benar-benar habis saat mereka dikuburkan.
Hari ini aku cuma akan melamar seorang gadis yatim.
Setelah itu aku akan kembali ke Senen, sebagai anak lelaki biasa.
Suntingan dan ilustrasi: Adim
Menarik sekali