Kamu dan Si Manusia Seperempat Abad

Kamu dan Si Manusia Seperempat Abad

Gondez
2 min read

Pada suatu hari yang cerah, secerah hari minggu, tapi tidak melebihi cerahnya pijar cengirmu. Nun jauh di Nusadwipa, hiduplah seonggok Manusia Seperempat Abad bersama berhelai-helai bulu dagu yang setia menggelayutinya. Orang-orang sekitar merasa ketakutan dan bingung pada bulu dagu itu, sebab jika hidup tapi tidak bisa bergerak, dibilang mati tapi terus tumbuh panjang.

Konon, Manusia Seperempat Abad itu cukup kuat untuk menahan berapa pun beratnya tawa, namun sangatlah lemah jika harus menahan ringannya sedih. Warga lokal merasa sangat terganggu akan raungan cengengnya yang sangatlah nyaring hingga membuat kaca jendela rumah mereka bergetar bahkan ada beberapa yang pecah. Pak Legi kebanjiran orderan dan setiap Selasa Kliwon harus bolak-balik kulakan ke kota, sebab banyaknya permintaan untuk pemasangan kaca jendela baru.

“Kalau begini terus keuangan keluaga kami bisa boncos Pak Kades!” Protes Mbok Cangik di depan pendopo desa bersama warga lainnya.

“Yasudah begini saja, saya akan berikan hadiah yang tak dapat dibeli oleh siapa pun di dunia khayal ini, yaitu pusaka Jempol Apresiasi bagi siapa saja yang mampu membuat Manusia Seperempat Abad itu tertawa. Bagaimana, Setuju?” Tanya Pak Kades.

“Setujuuuuuu!!” Layaknya paduan suara mereka menjawab.

Secepat buroq kabar itu tersebar. Seluruh pelawak seantero negeri dari muda sampai yang sudah tidak bisa dikatakan tua lagi (re: tuanya tua) mencobanya, namun seperti yang sudah temen-temen sekalian tebak. Mereka semua gagal.

Ujug-ujug datang lah gadis pendekar yang kalau dibilang jelek ngga, dibilang cantik, banget, dengan gagah perkasa menemui Si Manusia Seperempat Abad dan menantangnya.

“Hai ganteng, mari kita main adu tahan tawa. Jika aku kalah, aku akan menjadi pacarmu, tapi jika sampai kamu kalah mau tidak mau, kamu harus mau untuk menjadi pacarku.” Lantang gadis pendekar itu.

Adu tawa pun dimulai, mereka berdua beradu dengan sengit. Para hadirin dan pengadil lapangan pun tegang dibuatnya. Mereka saling jual-beli kerlingan dan dagelan.

Akhirnya Si Manusia Seperempat Abad dapat dikalahkan oleh jurus pamungkas sang pendekar yaitu Mata Genit dan mereka pun berpacaran.

Gondez
Contributor

Gondez

Tulisan lain dari Gondez

2 Komentar

  1. Peri Hutan Tropis

    Padahal sudah berharap sad ending, Kak. 🙁

    1. Gondez

      Endingnya sedih kok. Jadi setelah berpacaran selama 3 hari mereka ternyata ngerasa gak cocok. Apa yang diharapkan dari pacaran sama orang yang baru dikenal?

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top