Ini adalah sore di awal bulan kemerdekaan. Agar dianggap menjadi warga negara yang baik dan tidak dicap antek komunis, Sahasra yang baru 3 bulan menjadi kepala rumah tangga mau tak mau harus memasang bendera Gula-Kelapa di depan rumah, dibantu istri tercintanya Kundalini.
Seberes bendera itu berkibar, mereka duduk di teras sembari nyeruput teh manis kental kesukaan Sahasra yang memang tidak bisa meminum kopi. Acara minum bersama juga dimeriahkan oleh cerita-cerita masa lalu.
“Mas, kamu tau gak kalo dulu aku juara lomba masukin belut ke dalam botol?”
“Oh iya? Pantes aja kamu….”
“Hmm, masih sore loh mas…”
“HAHAHAHA…..”
Tetiba hening datang. Masing-masing dari mereka dihampiri rasa penyesalannya sendiri. Dingin semerbak.
Sahasra menyesali dirinya sendiri yang pernah menjadi tolol dan menangisi perempuan yang ternyata sama sekali tidak membalas perasaannya. Sedih. Sepatutnya tak perlu ia segundah itu di masa lalu, Kundalini istrinya pasti merasa sedih tatkala ada di masa itu.
Kundalini teringat cerita sahabat karib suaminya. Suaminya pernah terjun ke jurang kesedihan yang amat dalam karena seorang perempuan yang pernah hadir dalam hidupnya. Andai ia berada saat itu, suaminya pasti tak akan merasakan sakit akut dan mungkin tak ada rasa penyesalan ini.
Hampir bersamaan mereka berdua menghela nafas.
“Huft…”
“Mas, apa arti merdeka sebenarnya buat kamu?”
“Duduk di teras rumah di sore awal bulan kemerdekaan, sambil meminum teh manis kental ditemani perempuan tercantik sejagad raya.”
“Gombal. Belutmu minta dimasukin ke botol?”
“Heh… Ngawur…. HAHAHAHA”

0 Komentar