Doa untuk Negeri yang Terlalu Sibuk Berdandan
Saban hari rakyat belajar tersenyum dengan gigi yang tanggal satu-satu,
merintis hidup di jalan yang tiap musim dipersempit oleh papan proyek dan pidato.
Di alun-alun, orang-orang masih bertepuk tangan.
Entah untuk siapa.
Mungkin untuk sulap yang berhasil mengubah cemas menjadi statistik,
lapar menjadi angka pertumbuhan,
dan luka menjadi bahan presentasi.
Negeri ini gemar berdandan.
Pipinya dipoles warna-warni,
matanya diberi sorot lampu,
sementara tulang punggung yang memikulnya
dibiarkan retak tanpa kabar.
Kita tak lagi menonton badut.
Badut setidaknya tahu dirinya sedang melucu.
Yang kita saksikan kini adalah singgasana yang percaya dirinya cermin,
hingga setiap kritik dianggap noda yang harus segera dibersihkan.
Saban hari kepala kita dielus oleh pelik yang tak pernah selesai.
Harga naik seperti doa yang terburu-buru menuju langit,
sementara upah berjalan tertatih seperti peziarah kehilangan sandal.
Orang-orang disuruh bersabar.
Lalu bersabar lagi.
Lalu bersabar sampai lupa bahwa sabar bukan berarti diam.
Raja Alim Raja disembah
Raja Zalim Raja disanggah
Sebab pujian yang terlalu lama dipelihara
sering berubah menjadi kandang bagi kesewenang-wenangan.
Maka jika suatu malam ada yang bertanya dalam lirih,
“Apakah dosa berharap negeri ini runtuh?”
barangkali yang ia maksud bukan tanah, sungai, gunung, atau rumah-rumah.
Barangkali yang ingin ia kuburkan hanyalah meja-meja yang terlalu rakus,
kursi-kursi yang tumbuh dari punggung rakyat,
serta kebiasaan lama yang menganggap kekuasaan lebih suci daripada manusia.
Sebab bukankah jauh sebelum ada istana,
orang-orang telah hidup dengan saling menjaga?
Menanak harapan di dapur tetangga,
mengangkat beban dengan bahu bersama,
dan menyebut itu kehidupan.
Jadi bila doa-doa mulai terdengar ganjil,
jangan buru-buru menuduhnya durhaka.
Mungkin yang sedang dimohonkan bukan kehancuran negeri,
melainkan lahirnya kembali keberanian
untuk hidup tanpa terus-menerus diperah
oleh mereka yang mengaku mewakili,
namun lupa bagaimana rasanya menjadi rakyat.
September Hitam
September kali ini datang
membawa duka pekat,
meninggalkan luka
di punggung negara.
Perlawanan bukan hanya milik lelaki,
bukan milik sekat yang kaku.
Ia meniti jalan yang terjal,
lintas batas,
dengan warna-warna cerah
sebagai tanda
bahwa melawan
juga milik mereka yang tertawa,
yang ceria,
yang menyimpan amarah
sampai ubun-ubun kepala.
Beristirahatlah dengan tenang,
wahai jiwa-jiwa pemberani.
Maafkan kami,
yang gagal menjagamu
dari negara yang sudah bungkuk
padahal usianya masih muda.
Gema Ketakutan
ke pada awan
ke pada hujan
kusembahkan ingatan buruk ini sebagai pengampunan
siangi kepalaku dengan suka cita
biar yang tinggal hanya gema ringan tanpa nama
tanpa luka yang menuntut diingat
dan jika esok masih datang dengan bayang
ajari aku lagi
cara pulang tanpa takut
Sebatas Manusia
Hooman gaboet yang senang bercuap-cuap dan pembaca pemula.

0 Komentar