Bila Badai Itu Datang Lagi dan Puisi Lainnya

Bila Badai Itu Datang Lagi dan Puisi Lainnya

Sebatas Manusia
2 min read

Ibadah Sunyi

Aku ingin jatuh
dalam cinta yang hening,
seperti doa tengah malam
yang kupanjatkan dengan dada kosong

Rasanya semuram anak kecil yang menunggu ibunya
tak kunjung pulang
di bawah hujan sore

Dunia Kata-Kata

Aku terlalu jengah dengan perputaran dunia yang penuh sesak dengan kata-kata
Setiap saat terjerembab dalam kubangan kata-kata yang lengket dan menjuntai dari kaki sampai kepala

Semua orang berdesakan untuk berkata-kata
walau hanya sepenggal kata
Barangkali dunia akan lebih damai ketika semua berdiam di dalam sunyi menyendiri 
Aku si buruk rupa yang senang berkata-kata,
dan menjadi rupawan ketika berhenti berkata-kata 

Terlalu banyak kata yang hadir setiap detiknya di dunia,
bahkan kita tak pernah tahu berakhir di pembuangan mana
semua kata-kata itu 


Bila Badai Itu Datang Lagi

Kelak
jika gemuruh badai itu kembali datang tatkala diriku berada jauh dari kamar yang penuh coretan dan bekas napas dalam
besar kemungkinan badai itu akan menggulungku sampai tak bersisa. 

Jika
kelak rayuan mengakhiri itu menghampiri lebih lembut, ketika aku jauh dari rumah-rumah hangat di pulau ini.
aku pastikan akan terhanyut dalam rayuan memabukkan itu. 

Jika
suatu saat nanti, aku terjebak dalam kekalutan,
semoga ada tangan dan telinga yang mendekap dengan hangat. 

Setidaknya menahanku untuk bertahan sedikit lebih lama,
sekurang-kurangnya ketika tulang rusuk ibuku kembali ke pinggang bapak,
dan bapak kembali jadi tanah
dan aku sendirian benar,

itulah waktuku untuk berangkat. 

Menanti Puan di Selasar Tua

Dunia ini kian renta,
Bedebah menggasak isi semesta.
Aku berdiri di ambang senja,
Ingin melawan mereka-
tapi sebelum itu,
biarkan aku menaklukan sepi yang menua di dada

Aku, manusia kesepian
dengan kasih sederas samudera,
mengeja cinta di rimbanya,
berkelana dari puan ke puan,
menghitung sunyi dalam langkah yang gemetar di tanah fana

Di ujung selasar,
kularung doa pada angin yang hangat,
kutitipkan rindu pada langit yang kelu.
Barangkali Kau lupa jalan pulang
barangkali labirin tua masih mengurung langkahmu
Tapi aku di sini
merakit rumah dari kata,
menautkan prosa sekuat baja
mengukir dindingnya dengan majas selentik bunga.

Aku ingin bercinta dengan guyub
MELAWAN tirani dengan serupa cinta yang kita simpan di genggaman
Maka… mendekatlah puan tanpa nama,
dekap aku dalam keyakinan,
bahwa kita masih bisa berdiri di negara bedebah ini

Aku ingin bercinta lebih lama,
dengan bibir manis dan paras senja,
dengan luka yang menjelma puisi
dan cinta yang abadi dalam derita

Sebatas Manusia
Contributor

Sebatas Manusia

Hooman gaboet yang senang bercuap-cuap dan pembaca pemula.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top