Di Bawah Naungan Samudra Nusantara

Di Bawah Naungan Samudra Nusantara

Aditiya Widodo Putra
10 min read

Tidak seorang pun dari mereka yang tahu warna langit di atas Selat Madura saat itu. Pandangan mata mereka mendatar, terpaku pada ombak-ombak besar bergulung yang menyapu ke arah mereka. Ombak-ombak ini berwarna kelabu timah, kecuali di bagian puncaknya yang berbusa putih, dan semua pria itu amat paham akan ganasnya Laut Jawa.

Garis cakrawala menyempit dan melebar, merunduk dan bangkit, dan pada setiap detik ujungnya bergerigi dengan ombak yang tampak menjulang lancip bagaikan karang karcis.

Seharusnya banyak orang memiliki sebuah gentong mandi yang jauh lebih besar daripada perahu lesung (jukung) yang kini mengarungi amukan samudra ini. Ombak-ombak tersebut begitu curam, tinggi, dan keji, serta setiap puncak berbusa merupakan sebuah masalah pelik dalam navigasi perahu kecil.

Pak Karto, sang juru masak, berjongkok di bagian dasar perahu dan menatap tajam dengan kedua matanya pada enam inci lambung perahu yang memisahkannya dari maut. Lengan bajunya disingsingkan menutupi lengan bawahnya yang kokoh, dan dua ujung rompi luriknya yang tidak dikancingkan menjuntai saat ia membungkuk untuk mencedok air keluar dari jukung.

Sering kali ia berucap: “Ya Allah! Nyaris celaka tadi.”

Saat mengatakannya, ia selalu menatap ke arah timur melintasi hamparan laut yang pecah.

Mang Dasuki, sang juru mudi, mengendalikan perahu menggunakan sebatang dayung bambu panjang, kadang-kadang mengangkat tubuhnya secara tiba-tiba untuk menghindari air yang berputar masuk melewati buritan. Dayung tipis itu tampak rapuh dan nyaris siap patah kapan saja.

R.M. Panji Sosrokartono, sang wartawan dan penulis pergerakan, menarik dayung di sebelahnya, mengamati ombak-ombak tersebut sambil merenungkan takdir keberadaannya di tempat itu.

Raden Mas Aryo Kusumo, sang kapten kapal yang terluka, berbaring di bagian haluan perahu. Ia saat itu tengah tenggelam dalam keputusasaan dan ketidakpedulian mendalam yang kerap datang—bahkan kepada prajurit dan pelaut paling berani sekalipun—ketika perusahaan pelayaran gagal, bala tentara mundur, atau kapal kebanggaan tenggelam ke dasar laut.

Pikiran seorang nakhoda kapal tertanam kuat di dalam kerangka kayu kapalnya, dan kapten ini membawa kesan yang suram dari sebuah pemandangan di temaram fajar ketika tujuh wajah awak kapal menatapnya sebelum kapal mereka tersedot ke dasar laut. Suaranya terdengar berat dalam penuh duka, melampaui ratapan biasa.

“Pertahankan haluan sedikit ke selatan, Dasuki,” ujar sang kapten pelan.

“‘Sedikit ke selatan, dalem,” jawab juru mudi di buritan.

Duduk di dalam jukung ini bagaikan menunggangi seekor kuda jantan liar yang sedang memberontak (kuda lumping yang mengamuk). Perahu itu melompat, meronta, dan menerjang. Saat setiap ombak datang dan jukung terangkat menyambutnya, perahu itu tampak seperti kuda yang melompati pagar pembatas yang sangat tinggi.

Cara jukung itu merangkak melewati dinding-dinding air ini adalah sebuah misteri alam; dan di puncaknya terdapat buih yang meluncur deras, menuntut lompatan baru dari udara.

Kerugian unik dari lautan adalah kenyataan bahwa setelah berhasil mengatasi satu ombak, Anda akan mendapati ombak lain di belakangnya yang sama cemasnya untuk menenggelamkan perahu.

Di dalam sekoci kecil selebar sepuluh kaki, seseorang mendapatkan gambaran tentang kedahsyatan laut yang tidak mungkin disaksikan oleh orang daratan. Saat dinding air abu-abu itu mendekati, ia menutup segala pemandangan, seolah itu adalah letusan terakhir dari samudra. Ada keindahan yang mengerikan dalam gerakan ombak-ombak itu, yang datang dalam keheningan kecuali suara geraman di puncak air.

Dalam cahaya fajar yang suram, wajah para pria itu tampak kelabu. Mata mereka berbinar aneh. Matahari perlahan naik, dan warna laut berubah dari kelabu menjadi hijau zamrud, bergaris-garis cahaya kuning kemerahan, sementara buihnya bagaikan salju yang berhamburan.

Dalam kalimat-kalimat terputus, Pak Karto dan Panji Sosrokartono berdebat mengenai perbedaan antara sebuah tempat peristirahatan darurat (pasanggrahan suaka) dan pos penjagaan pandu laut di dekat Tanjung Sedayu.

“Ada pasanggrahan suaka tepat di sebelah utara Mercusuar Sedayu,” kata Pak Karto. “Begitu mereka melihat kita, mereka akan datang dengan perahu penolong.”

“Rumah suaka tidak memiliki awak penjaga,” sangkal Panji Sosrokartono. “Itu hanya tempat peristirahatan berisi persediaan sandang dan pangan untuk korban karam.”

“Ah, sudahlah, kita bahkan belum tiba di sana,” potong Mang Dasuki singkat dari buritan.

Saat perahu terlempar dari puncak ombak, angin menerpa rambut mereka yang tanpa penutup kepala, dan percikan air menyembur melewati lambung. Puncak dari setiap ombak adalah sebuah bukit air, dari mana mereka sempat memandangi bentangan laut yang liar dan berkilauan dalam nuansa zamrud dan putih.

“Untung sekali anginnya bertiup ke daratan,” ujar Pak Karto. “Jika tidak, di mana nasib kita sekarang?”

“Betul sekali,” sahut Panji Sosrokartono.

Mang Dasuki mengangguk setuju.

Kemudian sang kapten di haluan terkekeh; tawa yang mencerminkan humor, kepedihan, sekaligus tragedi.

“Apakah kalian pikir kita masih punya banyak peluang sekarang, anak-anak?” ucapnya.

Ketiganya terdiam. Menyatakan optimisme dianggap kekanak-kanakan, namun etika keputusasaan melarang mereka untuk menyerah secara terang-terangan.

“Ah, tenanglah,” kata sang kapten menenangkan, “kita pasti akan sampai di daratan.” Namun nada suaranya menyiratkan ketegangan.

Mang Dasuki bergumam, “Ya! Asalkan angin ini bertahan!”

Pak Karto menimpali sembari mencedok air, “Ya! Asalkan kita tidak remuk dihantam ombak pantai (ombak bromo).”

Burung-burung camar laut beterbangan di dekat mereka, hinggap di atas gumpalan rumput laut cokelat yang terombang-ambing. Burung-burung itu duduk dengan tenang, membuat para awak jukung merasa iri karena amarah samudra sama sekali tidak berarti bagi kawanan unggas tersebut.

Seekor burung bahkan terbang sejajar dan tampak hendak hinggap di kepala sang kapten.

“Burung jelek,” gerutu Mang Dasuki. “Kau tampak seperti diukir menggunakan pisau raut.”

Sementara itu, Mang Dasuki dan Panji Sosrokartono bergantian mendayung dengan tingkat kehati-hatian yang luar biasa. Bertukar posisi duduk di dalam jukung yang terombang-ambing ini terasa jauh lebih sulit daripada memindahkan telur dari sarang burung merpati. Setiap gerakan dilakukan dengan presisi tinggi demi menjaga keseimbangan agar jukung tidak terbalik.

Sang kapten, dengan mengintip secara berhati-hati dari haluan, menyatakan bahwa ia dapat melihat menara mercusuar Tanjung Sedayu di kejauhan.

Tak lama kemudian, Pak Karto dan Panji Sosrokartono pun berhasil menangkap pandangan serupa—sebuah titik hitam sekecil kepala jarum di ujung cakrawala barat.

“Kira-kira kita berhasil selamat, Kapten?” tanya Panji.

“Jika angin ini bertahan dan perahu tidak tenggelam, kita hanya bisa terus berusaha,” jawab Sang Kapten tenang.

Sebuah persaudaraan batin yang halus terjalin di antara keempat lelaki di tengah lautan ini. Tidak ada yang mengucapkannya dengan kata-kata, tetapi ikatan itu meresap ke dalam jiwa.

Mereka adalah seorang kapten, seorang juru mudi, seorang juru masak, dan seorang sastrawan-wartawan; mereka bersahabat dalam tingkat yang amat erat.

Sang Kapten yang terluka berbicara dengan tenang, namun perintahnya dipatuhi dengan kecepatan dan ketulusan yang luar biasa.

Bagi Panji Sosrokartono, yang terbiasa hidup dalam lingkaran intelektual yang sinis, persahabatan di atas jukung ini disadarinya sebagai pengalaman batin paling berharga dalam hidupnya.

“Kukira kita bisa menggunakan mantel tebal milikku sebagai layar darurat di ujung dayung,” usul Sang Kapten.

Pak Karto dan Panji memegang tiang dayung dan membentangkan mantel wol tersebut. Mang Dasuki mengarahkan kemudi, dan jukung melaju dengan lebih stabil.

Mercusuar di kejauhan perlahan-lahan semakin membesar, tampak seperti bayangan abu-abu di langit. Garis pantai mulai terlihat samar bagai bayangan hitam tipis di atas air.

“Kita pasti berada di sekitar perairan Tuban atau Sedayu,” ujar Pak Karto yang berpengalaman melayarkan perahu dagang tradisional nusantara di pesisir utara Jawa.

Angin perlahan mereda. Namun ombak tetap menghantam jukung dengan ganas. Keempat pria itu kelelahan; tak seorang pun di antara mereka yang tidur selama dua hari dua malam sejak kapal uap mereka menubruk karam. Mendayung terasa bagaikan hukuman fisik yang paling menyiksa bagi otot punggung.

“Bawalah perahu ini dengan santai, kawan-kawan,” pesan Sang Kapten. “Jangan memforsir tenaga. Nanti saat kita harus menerobos ombak pantai, kalian butuh seluruh sisa kekuatan untuk berenang.”

Bentangan pantai berbukit pasir rendah kini tampak jelas di depan mata. Suara gemuruh ombak pantai terdengar menggelegar bagaikan Gamelan Kiai Sekati yang ditabuh keras. Namun, tidak terlihat tanda-tanda aktivitas manusia di pos penjagaan pantai.

“Aneh sekali mereka tidak melihat kita,” gerutu Pak Karto dengan nada jengkel.

Di dalam benak mereka yang kelelahan, timbul rasa geram terhadap ketidakpedulian dunia luar. Sang Kapten akhirnya mengambil keputusan, “Kita harus mencoba menerobos sendiri ke darat. Jika kita terlalu lama di sini, tenaga kita akan habis.”

Mang Dasuki mengarahkan jukung lurus menuju gulungan ombak pantai yang besar. Suasana menjadi sangat tegang.

“Jika kita tidak semuanya selamat sampai di daratan…,” kata Sang Kapten menggantungkan kalimatnya. Mereka saling bertukar pesan singkat dan alamat keluarga di tanah Jawa.

Gelombang air laut yang datang semakin mengerikan. Mang Dasuki, seorang pelaut pantai yang lihai, menyadari bahaya besar.

“Kawan-kawan, perahu ini tidak akan sanggup menahan hantaman surf dalam tiga menit ke depan. Kita terlalu jauh di tengah untuk sekadar berenang. Haruskah kita berbalik ke laut lepas, Kapten?”

“Ya! Lanjutkan!” seru Sang Kapten.

Melalui keajaiban ketrampilan dayung dan keberanian luar biasa, Mang Dasuki memutar jukung di tengah gulungan ombak raksasa dan membawanya kembali ke zona aman di laut lepas.

Hari berjalan sangat panjang. Perubahan arus pasang mencoba menyeret mereka ke selatan, sementara angin mendorong ke utara. Di kejauhan, bayangan titik-titik kota pesisir mulai tampak. Mereka terus mendayung secara bergantian dalam kelelahan yang luar biasa, hingga malam kembali turun menyelimuti samudra.

Malam di laut lepas dalam sebuah perahu terbuka terasa bagaikan keabadian. Dua cahaya tampak di kejauhan—kilau kuning keemasan dari mercusuar selatan dan pijar kebiruan redup di ufuk utara.

Para pria itu bergiliran tidur di dasar jukung yang tergenang air laut yang dingin, sementara yang lain berjaga memegang kendali dayung. Dalam kesunyian malam, Panji Sosrokartono merasakan keheningan mistis alam semesta.

Sesekali, bayangan sirip ikan hiu besar melesat di samping perahu, meninggalkan jejak pendar fosfor biru di atas air hitam. Namun rasa lelah membuat mereka mati rasa terhadap ketakutan; mereka hanya mendesah pasrah di bawah perlindungan Sang Pencipta.

Pak Karto yang setengah tidur sempat meracau pelan tentang kelezatan makanan tradisional Jawa seperti sate lilit dan nasi liwet hangat, yang langsung disambut tawa kecil bercampur gerutu dari rekan-rekannya sesama pelaut yang kelaparan.

Menjelang dini hari, perenungan filosofis merasuki batin Panji Sosrokartono. Ia teringat akan bait-bait tembang macapat klasik tentang kesatria yang gugur di medan laga.

Alam semesta, dalam perenungannya, bukanlah entitas yang kejam atau welas asih—alam sepenuhnya bersikap netral dan acuh tak acuh terhadap eksistensi manusia. Kesadaran ini justru memunculkan kejernihan batin; ia berjanji dalam hati, jika diberi kesempatan hidup kedua, ia akan memperbaiki budi pekerti, laku lampah, dan tutur katanya kepada sesama.

Kapten Aryo Kusumo terbangun, lalu membagi-bagikan sedikit air tawar dan tetesan jamu beras kencur hangat dari kendi pusaka perahu untuk menghangatkan tubuh para pendayung yang menggigil kedinginan. Jamu tradisional nusantara ini mengembalikan sedikit tenaga dan mengusir ngilu di persendian mereka.

Ketika fajar menyingsing di hari kedua, langit Selat Madura memancarkan warna merah karmin dan emas yang menawan. Di atas bukit pasir pantai kejauhan, tampak deretan rumah penduduk desa nelayan tradisional dan sebuah kincir angin kayu tradisional peninggalan pesisir.

“Baiklah, kawan-kawan,” ujar Kapten Aryo Kusumo tegas. “Bantuan tidak akan datang tepat waktu. Kita harus mencoba menerobos ombak pantai sekarang juga. Siapkan diri kalian untuk melompat begitu perahu karam.”

Mang Dasuki memutar haluan jukung dan mengarahkannya mundur langsung menghantam dinding ombak pantai. Gulungan ombak raksasa pertama berhasil dilewati. Namun, ombak kedua dan ketiga yang ganas menghantam jukung hingga hancur berkeping-keping. Keempat pria itu terlempar ke dalam pusaran air laut.

Panji Sosrokartono berhasil meraih sepotong sabuk gabus pelampung. Air laut pantai Jawa di bulan Januari terasa sangat dingin, namun ia berenang sekuat tenaga. Dari kejauhan, ia melihat Mang Dasuki berenang paling depan dengan perkasa. Pak Karto terombang-ambing di sebelah kiri dengan punggung pelampungnya, sementara Kapten Aryo Kusumo yang terluka tetap berpegangan erat pada lunas jukung yang terbalik.

Sebuah arus kuat sempat menjebak Panji, namun gelombang besar berikutnya melemparkannya hingga mendekati garis pantai berpasir putih.

Tiba-tiba, seorang penduduk desa pesisir—seorang pemuda setempat—terlihat berlari kencang menyambut di tepi pantai sambil menanggalkan baju surjan luarnya. Dengan sigap, pemuda itu menerobos terjangan ombak, menarik Pak Karto ke darat, lalu membantu Kapten Aryo Kusumo dan Panji Sosrokartono keluar dari amukan air.

Namun, di perairan dangkal dekat bibir pantai, tubuh Mang Dasuki terbaring tak bergerak dengan dahi menyentuh pasir pantai yang tersapu buih ombak. Sang juru mudi yang setia telah gugur dalam menunaikan darma baktinya.

Ketika malam tiba, ombak putih berkejaran di bawah sinar bulan purnama, dan angin pesisir membawa suara gemuruh samudra kepada warga di daratan. Mereka yang selamat merasakan bahwa pengalaman di ambang maut tersebut telah mengubah cara pandang mereka selamanya—menjadikan mereka saksi hidup dari kedahsyatan alam Nusantara dan arti sejati dari persaudaraan manusia.

Aditiya Widodo Putra
Contributor

Aditiya Widodo Putra

Tulisan lain dari Aditiya Widodo Putra

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top