Pintu di Ujung Derita
Di batas akhir deritaku,
terkuak sebuah pintu.
Dengar dulu: apa yang kau sebut mati,
masih lekat kuingat dalam hati.
Di atasku, risik dahan pinus bergoyang.
Lalu hampa. Surya kian remang,
berkedip lesu di tanah yang gersang.
Alangkah getir melintasi masa,
tetap terjaga sebagai kesadaran jiwa,
terkubur dalam gelapnya lempung dunia.
Lalu sirna sudah yang kau cemaskan:
menjadi sukma tanpa daya tutur kata,
berakhir seketika saat bumi melunak pasrah.
Dan di semak rendah,
kulihat kawanan burung melesat gembira.
Wahai kau yang alpa akan perjalanan
dari alam seberang yang penuh keraguan,
ketahuilah, aku telah kembali bersuara:
sebab tiap wujud yang bangkit dari ketiadaan,
pasti pulang membawa tutur dan sapa.
Dari pusat hidupku yang terdalam,
memancar air mancur yang megah dan tenteram,
mengalirkan bayang biru jelita
di atas samudra azure nan mempesona.
Gentar dan Mekar di Hujung Musim Dingin
Pernahkah kau tahu siapa aku, bagaimana kuusahakan hidupku?
Kau paham benar kelamnya rasa putus asa;
maka dinginnya musim salju mestinya menyimpan makna.
Tak pernah kubayangkan sanggup bertahan,
saat himpitan tanah pekat membelenggu tanpa ampunan.
Tak pernah kusangka ‘kan terjaga dari tidur yang panjang,
merasakan kembali dalam lempung basah yang tenang,
tubuhku perlahan bangkit dan menyapa fajar yang datang,
mengingat kembali setelah sekian lama bersembunyi—cara untuk mekar indah dalam dinginnya awal musim semi.
Gentar memang merayapi jiwa, namun kini aku kembali di sisimu,
meneriakkan kata pasrah: ya, beranikan diri memeluk bahagia itu,
di tengah hembusan angin sembilu pada alur dunia yang baru.
Takhta yang Ditelan Waktu
Kujumpai pengembara dari negeri purba,
Yang bertutur: Dua pilar kaki batu tanpa dada,
Tegak di gersangnya gurun sahara.
Tak jauh dari sana, terbaring dalam pasir yang membendung,
Sepenggal wajah arca yang hancur, dengan dahi berkerut murung,
Bibir mengatup serta seringai kejam yang tak lagi terhitung.
Sorot itu menandakan sang pemahat paham betul gejolak jiwa,
Yang tetap abadi terpatri pada batu tak bernyawa:
Tangan yang menirukannya, dan hati yang memberi rupa.
Dan pada alasnya, terukir kalimat perkasa:
“Akulah sang Raja Diraja, penguasa jagat raya:
Tataplah megahnya karyaku, wahai Yang Mulia, dan berputus asalah!”
Kini tak ada lagi yang tersisa. Di balik keruntuhan
Puing raksasa yang sunyi dan terlupakan,
Hanya hamparan pasir gersang yang terbentang
tanpa batas hingga ujung pandangan.
Fajar Kebebasan Jiwa
Di mana budi bebas dari rasa gentar, dan kepala tegak menatap fajar,
Di mana ilmu mekar bebas bersemi, tanpa sekat pengekang diri.
Di mana dunia tak terbelah pecah, oleh dinding prasangka yang sempit picik,
Di mana kata lahir dari beningnya tekad, jujur, tulus, dan penuh makna.
Di mana asa terus merentang tangan, berjuang gigih mengejar kesempurnaan,
Di mana jernihnya nalar tak tersesat mati, ditelan gurun kelam tradisi usang.
Di mana jiwa Engkau bimbing melangkah, menuju pencerahan yang makin meluas,
Ke dalam surga kebebasan yang sejati, wahai Sang Pencipta, bangkitkanlah negeriku ini!
***
Penyunting: Sigit Pratama
Ilustrasi: Mo. Adhim
0 Komentar