“Ini harus jelas.”
Hanya ada satu kalimat yang terucap dari mulutnya, tapi entah kenapa matanya seperti menumpahkan setumpuk kalimat kepadaku. Tubuhku seolah lemah. Kesadaran terhadap orang-orang di sekitarku hilang. Aku seakan-akan berpindah ruang.
“Aku hanya ingin semuanya jelas,” dia beranjak dari duduknya di kursi. Menjauh dan berdiri memandang sembarang.
“Aku ingin ini tuntas.”
Tepat saat itu juga seluruh tubuhku seakan-akan mendorongku untuk melepaskan dialog saat itu juga.
“Bukankah ini sudah selesai?”
“Tidak. Atau belum, lebih tepatnya.” Dia berbalik menatapku dengan mata yang masih sama namun sedikit berkaca.
“Apalagi yang harus dijelaskan?!” aku terkejut pada suaraku yang terdengar sangat penuh kepasrahan.
“Perasaanmu” dia mendekat tepat di hadapan mukaku.
Mata cantik yang menakutkan itu seolah-olah sedang mencengkram seluruh diriku. Aku dalam kuasanya. Terpojokkan dan tak bisa berbuat apa-apa.
Aku tahu betul itu mata Lina, walaupun sekarang ia sedang bermain sebagai Marni. Aku paham betul bola mata itu. Bola mata yang biasanya tidak pernah seperti itu. Yang kutahu bola mata itu selalu lembut meskipun terlihat menyeramkan. Yang kukenal bola mata itu selalu dalam dan teduh meskipun tajam. Dan sekarang bola mata itu. Bola mata itu yang memantikku untuk memperpanjang jeda dialogku keluar.
Dengan perlahan.
“Aku tidak bisa memberikan kepastian, Mar.”
“Tidak”
“Itu bukan kebohongan”
“Kamu takut, Sar” seraya berkata dia berbalik hadap.
“Tidak!” dialogku keluar secepat dia memunggungiku.
“Iya. Kamu ketakutan, Sar”
“Bukan begitu, Mar”
“Lalu kenapa kamu tidak melangkah? Kenapa kamu masih terus berada di sana? Aku yang tertinggal atau kamu yang jauh di belakang? Kenapa, Sar? Kenapa? Kenapa seakan-akan kamu seperti enggan berada di dekatku. Tapi perlakuanmu dan matamu. Semuanya itu seolah mengatakan kamu cinta kepadaku”
Kalian pernah sendirian dalam sebuah ruangan asing? Kau disinari lampu dan tidak untuk sekitarmu. Semua orang dapat melihatmu dari segala penjuru. Namun dirimu sendiri tidak bisa melihat siapa pun yang melihatmu.
“Kamu pengecut.” ucapnya lirih namun masih bisa didengar.
“Ya, itu kebenaran. Tapi bukan itu aku tidak bisa bersamamu.”
“Kamu takut.”
“Sudah kubilang bukan karena takut. Tapi ini musti disudahi sebelum ayah dan ibumu menyadari bahwa ini sudah terjadi. Aku tidak ingin memberikan harapan padamu maupun keluargamu, Mar. Itu sebabnya.”
Matanya semakin menyala usai aku mengatakan yang sebenarnya. Napasnya yang awalnya masih bisa diaturnya walaupun matanya merah padam kini mulai tak bisa dikendalikan. Tatapan mata dan hembusan nafasnya seperti dialog-dialog yang tak tertulis pada naskah.
“Baiklah. Tapi jangan pernah kau tuliskan kisah kita berdua ini dengan aku sebagai antagonisnya. Jangan kau tuliskan ini sebagai hikayat tentang kesakitan seorang lelaki karena perempuan yang meninggalkan. Jangan sekali-kali kau ceritakan bahwa kau seorang laki-laki yang rela melepaskan perempuan untuk kebahagiaan.”
“Tidak akan.”
“Belum akan. Tapi nanti kau pasti akan berpikir demikian,” sanggah Marni dengan memalingkan matanya dariku.
“Tidak, Mar. Tidak setelah kau memperingatkan.”
“Ya, itu bagus. Karena memang bukan aku atau kau yang meninggalkan. Hanya salah satu di antara kita saja terlalu pengecut dan takut untuk melawan.”
CUTTTT!!!
***
Sebelum aku menuntaskan dialog terakhirku dan Marni benar-benar meninggalkan panggung, Mas Nun berdiri diam dan melihat kami bergantian. Kemudian mendekat dengan perlahan.
“Itu tadi namanya teater,” katanya lirih dengan tatapan menghadap lantai panggung.
Aku dan Lina berjalan lirih mendekat.
“Rasanya ada yang bergetar, Lin? Iya?” Tanyanya pada Lina dengan senyum tipis. Jika saja aku lebih jauh setengah langkah saja senyum itu pasti tak kentara.
Tanpa kata, Lina hanya mengangguk.
“Kamu juga sama kan, Man?”
Aku pun mengangguk seperti Lina. Karena memang begitu adanya.
“Rekam itu dengan baik. Mungkin besok, jika diulang adegan ini tidak seperti tadi. Tapi tak apa, yang terpenting kalian sudah pernah mengalami dan merasakan titik ini. Karena aktor itu sebenarnya merekam dan menyimpan peristiwa-peristiwa kemudian mencoba mengekspresikan dengan dirimu, tubuhmu, segala apa pun yang kamu miliki.”
Setelah mengakhiri kalimatnya dia berbalik dan menjauh dari kami berdua.
“Dah, hari ini sampai di sini dulu. Sudah malam, besok dilanjutkan. Jaga kesehatan, karena tubuh kalian sekarang memiliki tanggung jawab besar.”
***
Biasanya semua orang yang terlibat tidak langsung meninggalkan sanggar selepas latihan. Kalaupun iya, pasti ada sesuatu yang mendesak. Dan di situ akan ada percakapan panjang nun tinggi ke angkasa ataupun sekedar percakapan ringan nun menghibur. Yang dua-duanya sangat mungkin membuat pertunjukan lebih berkembang.
Tapi kali ini berbeda seperti biasanya, aku tak segera beranjak karena ada maksud terselubung. Mata Lina tadi sangat menarik perhatian untuk diperbincangkan.
Satu per satu orang berpamitan. Dan hanya tinggal aku dan Mas Nun.
“Satu batang ya, Man.”
“Selain aku siapa yang cocok jadi Sarno, mas?”
“Tidak ada.”
“Tapi sepertinya aku cocok jadi Bagong.”
“Nggak cocok. Yang cocok jadi Bagong ya Rudi. Yang cocok jadi Sarno ya kamu.”
“Yang cocok jadi Marni, ya, Lina.”
“Iya, dong. Kita itu harus percaya bahwa yang cocok memerankan peran kita ya kita sendiri. Dan yang cocok memerankan lawan main kita ya teman kita sendiri. Bukan Reza Rahadian, Marlon Brando, atau Al Pacino sekalipun.”
“Lhawong yang nulis naskahnya itu kamu.”
“Nha … jadi yang paling tahu aku kan.”
“Jadi ketika proses menulis itu sudah membayangkan kalau aku akan jadi Sarno, Lina jadi Marni, Rudi jadi Bagong, gitu?”
“Entah kenapa, ya, kalau menulis itu aku kadang butuh hal-hal yang memang ada dan aku lihat. Untuk dasar penulisan karakter.”
“Jadi, ada adegan-adegan yang memang ada di dunia nyata, Mas?”
“Pasti, sih.” Tanpa pikir panjang ia menjawabnya, “Karena bagiku, bagiku ya, menulis itu sebuah respon terkait sebuah peristiwa. Aku melihat sebuah peristiwa kemudian aku tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya aku menulis.”
“Kalau di naskah ini ada peristiwa benerannya?”
“Di naskah ini? ada sepertinya. Beberapa.”
“Oke. Perlahan-lahan, Man. Dalam teori wawancara ataupun interogasi itu ada cara yang lembut sampai subjek mengatakan sebuah kebenaran tanpa sadar.”
“Tapi mengalami pengolahan kan, Mas?”
“Ya, pastinya. Namanya juga karya sastra. Apalagi fiksi. Tapi kan sebetulnya kalau menulis fiksi itu juga dasarnya dari kenyataan.”
“Mimesis,” tegasku sebagai mahasiswa sastra.
“Nha, itu dia … di sana kan ada aspek pengarang, kan? Konteks pengarang yang memengaruhi karyanya. Jadi, ya, lingkunganku, salah satunya kalian-kalian ini, ya mau tak mau pasti ikut memengaruhi.”
“Termasuk adeganku dengan Lina tadi, ya?”
“Oh, kalau itu buat dramatik saja. Kan perlu konflik, Man. Namanya juga drama.” Kali ini ada sebersit senyum sebelum ia menghisap rokoknya.
Kubalas dengan cengiran curiga dan menyalakan rokok kedua.
“Memang sama, ya?” Sebelum aku berhasil menanggapi, Mas Nun melanjutkan, “Tapi paling mudah memang begitu sih, Man. Menulis dengan memperhatikan aktor yang akan bermain dan kecenderungannya, bahkan permasalahannya. Kan di sisi lain mempermudah aktor juga, penggarapan ke depan juga.”
“Bener juga sih,” kataku mengiyakan.
“Kamu jadi lebih mudah mendekati permasalahan karakter, kan?”
“Iya, rasanya seperti dekat denganku.” Aku mengiyakan lagi.
“Nah, itu. Jadinya tidak cari-cari, kan. Tidak perlu pendalaman karakter sampai pada tahap tidak wajar bagi orang-orang normal, seorang aktor hanya perlu merasakan apa yang dialami karakter yang diperankan.”
“Tapi di sisi lain itu kan memanjakan aktornya.”
“Kemudian aktornya tidak berkembang? Ya, kalau itu urusan masing-masing. Memangnya kita tidak bisa berkembang dengan mengenal diri kita sendiri? Permasalahan yang dekat dengan kita? Atau konflik remeh temeh khas sehari-hari?”
“Iya juga sih. Toh aku juga belum tentu bisa kalau mau yang ndakik-ndakik.”
“Jadi, ya, dengan cara seperti ini, bisa dibilang kita menggali diri kita. Gitu aja pemaknaannya. Toh kalian juga jadi tidak repot. Tidak perlu melakukan yang ekstrim, kan? Cukup pahami saja teks dan melakukan pendalaman seperlunya. Melihat saja peristiwa sendiri, gali memori yang pernah direkam dan dialami. Dah, cukup.”
Seirama dengan hisapan rokok kedua, aku mengelaborasi dan mendalami apa yang dia katakan. Kemudian aku menyadari.
“Lah berarti kalau begitu, sama saja Sarno itu aku, mas? Dan Marni itu Lina? Seperti itu?”
Dia hanya tertawa, kemudian menghisap rokoknya yang masih panjang dan berkemas beranjak pulang.
“Dah, sudah dua batang rokok ini malahan. Mari kita pulang.”
“Lah, Mas, berarti mata itu tadi kejujuran dan memori pengalaman dari Lina benar-benar?” Kataku.
Aku masih melihat senyumnya, yang kemudian hilang karena ia tetap berjalan meninggalkan sanggar.
“Jadi, itu tadi memang potongan kenyataan yang kamu tangkap dari persinggunganku dengan Lina. Konflik dari Sarno dan Marni itu adalah fragmen hubunganku, dan Lina. Begitu?” Kataku dengan masih berusaha untuk mencari jawaban.
“Besok tanyakan saja langsung dengan Lina,” sembari berjalan menjauh.
“Mass … Mass … Masss ….”
7 Juli 2021, Karanganyar
Penyunting: Sigit Pratama
Ilustrator: Fajar Hanif Mubarok
0 Komentar