Salam (L)iterasi

Salam (L)iterasi

Sebatas Manusia
3 min read

Di sebuah kota yang selalu mengaku sedang belajar membaca dirinya sendiri, berdirilah banyak persimpangan literacy. Ada perpustakaan besar dengan tangga marmer, festival buku dengan spanduk cerah, dan diskusi-diskusi kecil di sudut cafe yang kursinya sering tak cukup.

Di antara persimpangan itu, berjalan seorang lelaki yang jengah melihat semuanya: buku dibaca, foto diunggah, tetapi dunia di sekitar tetap tak banyak berubah. Ia ingat sebuah gagasan tua yang pernah ia baca: membaca bukan sekadar menelan kata, melainkan membaca dunia. Namun, kota ini tampaknya lebih suka membaca poster daripada kenyataan.

Di salah satu gedung megah yang disebut pusat literasi, ada ritual yang hanya dilakukan pada hari-hari tertentu. Ketika para tokoh kota berkumpul, seseorang akan berdiri di tengah ruangan, mengenakan jubah kebesaran yang berat, kepala digunduli licin seperti lantai marmer.

Di hadapan para pejabat dan pemangku kuasa, ia mengangkat dua jari membentuk huruf L: salam literasi. Begitu pose itu tercipta, dari plafon gedung tiba-tiba turun lembar-lembar uang seperti hujan tipis yang teratur. Semua orang tahu keajaiban itu nyata, tetapi hanya sedikit yang tahu betapa mahal syarat untuk bisa melakukannya.

Ritual itu dipimpin oleh seorang tokoh yang terkenal di kota tersebut. Ia gemar berdiri di samping pejabat, senang difoto dengan senyum bijak, dan selalu berbicara tentang masa lalu yang konon berjaya: zaman ketika buku dihormati, katanya, ketika kota ini pernah menjadi pusat cahaya pengetahuan. Namun, lelaki yang jengah tadi tahu sesuatu yang lain. Tokoh itu pandai menunggangi literasi seperti pedagang menunggangi musim panen. Ia jarang bersuara ketika ada penindasan, tetapi selalu hadir ketika kamera dinyalakan.

Setiap kali salam literasi dilakukan, uang turun dari plafon seperti berkah yang salah alamat. Para hadirin bertepuk tangan, media memotret, dan cerita tentang kejayaan literasi kembali disebarkan seperti dongeng lama yang dipoles ulang. Sementara itu di sudut-sudut kota yang lain, anak-anak masih belajar membaca dunia dengan cara yang lebih keras: bekerja lebih dulu sebelum sempat mengenal perpustakaan.

Persimpangan literasi tetap ramai, tetapi banyak jalan di dalamnya berputar-putar tanpa benar-benar menuju ke mana pun.

Lelaki yang jengah itu berdiri di trotoar suatu sore, memandangi gedung tempat uang sering jatuh dari langit-langit.

Ia tahu ia tak punya jubah kebesaran, tak punya pejabat yang mau berdiri di sampingnya, dan tentu saja tak berniat menggunduli kepalanya demi keajaiban semacam itu.

Ia hanya punya satu keyakinan sederhana: jika literasi benar-benar hidup, ia seharusnya mampu membaca kota ini dengan jujur. Dan kota yang bisa membaca dirinya sendiri tak akan membutuhkan hujan uang dari plafon untuk terlihat berharga.

Sebatas Manusia

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top