Panduan Mendengarkan Syrian, Rock Padang Pasir dari Lereng Merbabu

Panduan Mendengarkan Syrian, Rock Padang Pasir dari Lereng Merbabu

Jinawi Rana
7 min read

Ada berapa banyak lagu yang mengisi daftar putar di aplikasi musik kamu? Jika terhitung hanya puluhan, kamu tentu tergolong sebagai orang yang menyedihkan.

Jangan salahkan aku jika aku ingin memberikan rekomendasi musik yang mungkin kamu belum tahu, tetapi kalau kamu sudah tahu aku masih akan tetap bersikeras untuk memberikan panduan yang tepat untuk mendengarkan beberapa lagu dari band independen asal kota Salatiga, Syrian.

Nah, apakah kamu bisa bayangkan secercah imajinasi kecil dari Salatiga, kota yang sejuk, pemandangan gunung Merbabu yang megah, pepohonan di tengah kota yang rindang, jajanan pasar yang sederhana dan murah meriah, hingga cimol goreng gerobak di depan kampus UKSW yang mantap?

Jika semua hal itu ada di dalam bayanganmu, tentu musik yang cocok menjadi latar belakang kota ini adalah musik balada dan lembut seperti Bernadya, atau folks seperti Figura Renata dan Soegi Bornean, atau mungkin sedikit sentuhan jazz dan retro ala Noh Saleh.

Tapi tidak dengan Syrian, dari kota yang ranum sejuk ini mereka justru membangun musik yang oleh sebagian besar pendengar disebut dengan “rock padang pasir” — pertemuan antara vokal tinggi, distorsi stoner, psychedelic, dan melodi dengan scale bernuansa ketimuran.

Mendengarkan lagu-lagu Syrian bukan perkara sepele, karena ada beberapa musik yang cukup didengarkan saja tanpa melakukan apa pun, namun untuk mendengarkan genre musik yang dibawakan Syrian, kamu perlu mencari tempat yang tepat.

Tak perlu jauh-jauh ke Gumuk Pasir di Bantul, Yogyakarta atau pergi ke distrik Kauman/Pekojan di kotamu untuk merasakan nuansa timur tengah, namun kamu cukup dengan suka rela membiarkan imajinasi padang pasir tumbuh di dalam kepala.

Aku akan memberikan sedikit panduan bagaimana cara mendengarkan Syrian yang bisa kamu ikuti:

1. Cari tempat yang cukup sepi.
Sebab telinga kamu tidak akan kuat mendengarkan lagu-lagu mereka di depan sound horeg. Jangan pula coba-coba mendengarkan lagu Syrian sambil menggoreng ikan mujair, ledakan minyak tidak akan membuat kamu fokus. Percayalah!

Musik seperti ini membutuhkan sedikit ruang, pasang perangkat terbaikmu (headphone, earbuds, atau audio monitor merek apa saja). Duduk. Kalau bisa malam hari saat sedang sepi. Tidak perlu ritual yang terlalu serius, cukup sedikit menarik diri dari keriuhan yang tidak perlu serta merelakan telinga untuk beberapa menit ke depan. Kemudian putar lagu dan biarkan suara gitar menyambut telinga terlebih dahulu.

2. Mulailah dengan Perjalanan, Annabelle dan 9th
Tidak ada alasan yang lebih spesifik selain karena ke tiga judul lagu ini adalah urutan lagu favoritku, tentu ini personal. Kemudian alasan selanjutnya mungkin karena lagu ini yang paling merepresentasikan bayangan tentang sebuah musik rock bernuansa gersang dengan pendar sinar matahari sebagai latar belakang. Ke tiga lagu inilah yang terlebih dahulu aku dengarkan saat pertama kali mengenal Syrian.

3. Jangan buru-buru mencari genre
Ketika kamu sudah memutuskan klik tombol putar dan mulai mendengarkan intro, mungkin kamu ingin segera mengatakan begini:
”Ini stoner.”
”Ini psychedelic.”
”Ini rock.”

Semua tebakan kamu mungkin bisa membantu, tapi bisa juga menjadi jebakan.

Syrian memang mempunyai unsur-unsur tersebut, namun kekuatan mereka justru terletak pada pertemuan dan perpaduan. Distorsi yang berat bisa berdampingan dengan melodi psychedelic, sementara beberapa lagu menggunakan scale bernuansa ketimuran. Hasilnya adalah suara yang terasa familiar sekaligus asing. Seperti masuk ke dalam salah satu adegan film Dune dan kita melihat adegan tersebut dari atas tebing, jauh sekaligus dekat.

Jadi, jangan buru-buru untuk memberi nama apa yang sedang kamu dengarkan, rasakan saja ke mana arah musik membawamu.

4. Dengarkan suara gitar dan drum sebagai lanskap
Bayangkan gitar bukan sebagai gitar dan drum bukan sebagai drum, namun mereka adalah sepasang kekasih yang saling beradu dan terbakar ke dalam api cinta sepanjang musik diputar.

Distorsi musik mereka tidak hanya menghasilkan bunyi yang keras, namun menciptakan tekstur— seperti permukaan tanah yang kering, batu, debu, atau sesuatu yang bergerak jauh di cakrawala. Sementara dentuman drum adalah objek gerak yang bernyawa dengan penuh wibawa—seperti derap langkah kuda, prajurit dengan perisai, atau mungkin seorang pengembara yang berjalan sendirian dengan jubah misterius dan membawa pedang.

Ada sesuatu yang terasa psychedelic tapi tidak sepenuhnya melayang, terasa ‘ketimuran’ tapi tidak sedang berusaha menjadi musik tradisional. Seperti diajak ke sebuah tempat dan kita menyaksikan sebuah drama megah dari masa lalu atau mungkin masa depan apokalips.

5. Cermati karakter vokal yang tinggi
Ini adalah bagian paling menyenangkan dari mendengarkan Syrian. Karakter vokal yang tinggi menjadi pintu masuk ke adegan berikutnya dengan nuansa yang dramatis. Ia tak hanya menjadi pembawa lirik, tapi menjadi bagian dari penutur sebuah kisah.

Cermati dengan seksama ketika vokal melayang di antara distorsi, di situlah karakter Syrian mulai terasa.

6. Simak pemilihan diksi dalam lirik yang bernuansa kosmik
Karakter musik Syrian tidak hanya kuat pada aransemen namun juga pada pemilihan diksi dalam lirik yang seolah penjadi sebuah penutur. Lagu berjudul Muasal yang dinyanyikan bersama Bonita ini memiliki penggalan lirik pembuka yang seperti ini:

“Dahulu kala terjadilah hembusan yang memulai segalanya.
Suatu yang padu, telah dipisahkan hingga terciptalah.
Gugusan bintang beredar pada langit.
Hari dibentang, matahari terbit.
Tanah tua berubah jadi raga,
darinya kau lahir, kau lenyap, kau lahir
dalam keabadian.”

Melalui lirik lagu semacam ini, mereka mencoba untuk membuat satu adegan yang belum pernah kita lihat langsung secara realistis, hal yang hanya bisa kita lihat melalui tahapan pancaindra yang kompleks. Imajinasi atau mungkin mimpi? Tapi kita tentu tahu dan tidak asing dengan imajinasi seperti ini.

7. Bayangkan sebuah film yang belum pernah dibuat
Kalau aku seorang sutradara film layar lebar sekelas Christopher Nolan atau Denis Villeneuve, aku akan meletakkan musik mereka ke dalam salah satu scene. Ada alasan mengapa musik Syrian terasa cocok untuk gambar-gambar besar.

8. Masuklah ke dalam album Rise of Majestic
Kalau kamu sudah memahami bagaimana cara masuk ke dalam musik Syrian, silahkan untuk melajutkan perjalanan ke dalam album mereka, Rise of Majestic.

Album yang dirilis pada 18 April 2026 ini berisi 11 lagu dengan durasi total sekitar 48 menit 44 detik. Di dalamnya ada “Muasal” bersama Bonita, “Perjalanan”, “Jagad”, “Rise of Majestic”, “Sun Lotus”, “Slow Song”, “Annabelle”, “Dosa Dunia”, “Ra”, “Blinded Eyes”, dan “9th”.

Sebenarnya, tak perlu buru-buru untuk menentukan genre dari sebuah karya musik karena ternyata banyak lapisan suasana yang mereka tawarkan. Ada lagu yang lebih panjang dan ada pula yang singkat, ada yang terasa sunyi dan ada yang terasa penuh gairah. Album ini seolah membiarkan pendengar memiliki ruang untuk melambat sebelum kembali pada tubuh rock mereka.

9. Setelah itu, dengarkan Salatiga
Sekarang mari kita kembali ke awal, ke kota kecil di bawah lereng Gunung Merbabu yang sejuk. Jangan lagi bayangkan gurun, bayangkan seperti apa nikmatnya kota Salatiga. Di sinilah paradoks Syrian menjadi menarik. Musik yang terdengar gersang ternyata tumbuh dari tanah yang subur.

Mereka dibentuk di kota Salatiga pada akhir 2018. Formasi mereka kini diisi Greg Sidharta (vokal), Doni Negara dan Josan Ramadhan (gitar), Andhika Latief (bass), serta Satria Ghifari (drum). Mungkin inilah yang sering dilupakan ketika membicarakan musik dari daerah, karena sebuah kota tidak harus menyerupai musik yang dilahirkan. Salatiga tidak perlu memiliki gurun untuk melahirkan karya yang terdengar seperti gurun. Imajinasi tidak mengenal batas geografis.

10. Datang dan dengarkanlah mereka secara langsung!
Tutorial terakhir ini adalah ritual yang sebenarnya. Mendengarkan Syrian tanpa datang dan melihat pertunjukan panggung mereka secara langsung bukanlah sebuah Dosa Dunia, namun di dalam kultus musik kamu tentu bukan seorang penikmat musik yang berakhlak baik.

Penyunting: Sigit Pratama
Ilustrasi: Mo. Adim

Jinawi Rana

1 Komentar

  1. josan

    damn !! thankyou

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top