Membaca Ulang V.Lestari, Penulis Roman Misteri Era 80-an

Membaca Ulang V.Lestari, Penulis Roman Misteri Era 80-an

Jinawi Rana
6 min read

Ada yang berbeda dengan isi rak buku novel, toko buku Gramedia Jalma Pandanaran, di kota Semarang, Jawa Tengah. Bukan karena di antara jejeran buku novel tiba-tiba terselip buku “Cara Paling Jitu Beternak Lele Jumbo dalam Galon Mineral”, namun aku menangkap satu genre yang sekarang sepertinya kian digandrungi, yakni novel misteri.

Di lantai dua, tepatnya di sudut rak novel yang berhadapan langsung dengan kaca, aku melihat jejeran novel misteri bertengger dengan rapi dan penuh gaya. Tampak dari pemilihan desain buku yang simpel dan pemilihan warna yang didominasi oleh tone monokrom seperti hitam, putih, abu-abu, dan aksen merah yang kontras, seolah memberikan kesan ‘teror’.

Sebetulnya tidak ada yang ganjil dengan novel misteri, baik itu novel misteri dari penulis kenamaan Jepang yang kini mendominasi rak buku seperti Uketsu, Keigo Higashino dan Soji Shimada, maupun penulis novel misteri kenamaan Eropa seperti Agatha Christie dan Sir Arthur Conan Doyle yang kini karyanya tampak bergeser ke rak yang paling jarang dilihat. Namun, yang menjadi sebuah pertanyaan ganjil di kepalaku saat melihat deretan buku yang berjejer di rak itu adalah, apakah tidak ada penulis kenamaan Indonesia yang sanggup menggeser deretan novel-novel tersebut?

Jika menilik dari daftar penulis novel Indonesia, sebetulnya ada beberapa pilihan novelis yang terbilang produktif dan konsisten untuk menulis cerita bergenre misteri, sebut saja seperti S.Mara.Gd, Mira W, dan V.Lestari. Ketiganya adalah penulis perempuan dan produktif menerbitkan novel dalam rentang tahun 1980-an hingga 2000-an awal.

Masing-masing dari mereka memiliki karakter yang menonjol meskipun mengusung genre yang sama, S.Mara.GD menekankan pada kisah detektif dengan teka-teki misteri yang harus dipecahkan, Mira W cenderung menonjolkan sisi psikologis dan romansa dalam hubungan antar tokoh, sementara V.Lestari intens memberikan nuansa bahaya dan rahasia dalam setiap karyanya. Meskipun memiliki permainan jalan cerita yang berbeda, mereka tetap memiliki benang merah yang sama, yang menempatkan posisi novel mereka berada di kategori populer, yakni ‘bumbu romansa’.

Mungkin memang romansa menjadi genre paling laris kala itu, namun memiliki keputusan untuk membumbui kisah romansa dengan misteri pembunuhan itu persoalan lain. Aku ambil contoh V.Lestari misalnya, dari 79 novel yang pernah ia terbitkan banyak didominasi dengan memainkan gambaran tentang kecemasan sosial, karyanya selalu mengajak pembaca masuk ke dalam situasi yang semakin mencurigakan dan menegangkan. Hal yang menjadi menarik adalah pemilihan tokoh utama yang seluruhnya perempuan, namun bukan sebagai seorang detektif tunggal, ia bisa jadi perempuan biasa, anak muda, anggota keluarga, kerabat, atau seorang yang punya hubungan emosional khusus, dengan begitu alur investigasi menjadi sangat personal. V.Lestari meletakkan romansa sebagai alat untuk membuka sebuah kasus misteri. Karakter inilah yang membuat dirinya menjadi menarik untuk diulik.

Agak susah sebetulnya untuk mencari siapa sebetulnya V.Lestari karena keterbatasan resensi dan artikel di Google dengan kata kunci namanya dan tentu karena ia menggunakan nama pena, namun dalam lima tahun terakhir ini aku menemukan salah satu unggahan di Instagram yang menceritakan dengan cukup informasi tentang siapa sosok V.Lestari sebenarnya. Ia adalah Verlie Lestari Winasuria, perempuan kelahiran Bogor yang mulai debut novel pertamanya pada tahun 1980, namanya mulai dikenal di kalangan publik pada tahun 1990-an hingga awal 2000-an.

Nama V.Lestari meledak saat ia menerbitkan novel berjudul “Cinta Seorang Psikopat” pada tahun 2003 dan novel tersebut dicetak ulang sebanyak delapan kali. Tak sedikit dari novelnya yang diadaptasi menjadi film dengan judul yang berbeda. Ia mengakhiri karir menulisnya pada tahun 2013 ditandai dengan terbitan novel yang berjudul “2 Menantu” yang terbit pada bulan Oktober 2013.

Bayangkan saja, sejak awal karirnya menulis novel di tahun 1990 hingga 2013 sudah tercatat 79 karya novel, menurutku itu hal yang gila. Waktu 33 tahun untuk mendedikasikan diri menulis novel sebanyak itu tentu dia bukan perempuan sembarangan, terlebih genre penulisan yang ia pilih membutuhkan kecermatan dan ketelitian yang dalam.

Sekarang kita coba membahas beberapa karya yang menurutku oke, tentu saja karya yang aku punya karena untuk bisa mendapatkan seluruh koleksi buku V.Lestari rasanya mustahil. Kita mulai dari “Rahasia Para Bunglon” dan “Belitan Memori”, yang dicetak dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, masing-masing pada tahun 1993 dan 2005.

Rahasia Para Bunglon (1993) — menceritakan tentang tokoh perempuan bernama Rosita yang memiliki trauma masa kecil sebagai anak korban penganiayaan orang tua, kemudian kabur dari rumah dan sepuluh tahun kemudian berhasil menjadi seorang perawat yang berdedikasi tinggi di sebuah rumah sakit. Perjalanan kisah Rosita cukup berliku, ia menghadapi ketegangan konflik dengan calon mertua dan dirinya sendiri, ia pun meminta pertolongan kepada psikiater untuk bisa mengenali dirinya sendiri dan menyelamatkan hubungan cintanya.

Belitan Memori (2005) — memiliki alur cerita yang cukup kompleks dan berkembang dari pertanyaan menjadi penjabaran yang rumit, namun ditulis bahasa yang ringan. Cerita bermula dari dokter Bima Perkasa yang ditemukan tewas di kamar praktiknya sendiri akibat overdosis morfin. Orang sekitar menduga ia bunuh diri namun hal itu masih terasa ganjil sebab dirinya telah memiliki janji temu terlebih dahulu dengan dokter Alan, psikiater, di hari yang sama saat ia ditemukan tak bernyawa dengan bekas tusukan jarum suntik di lengan beserta dengan jarum suntik dan tabung yang tergeletak di lantai. Tak ada pesan terakhir dan tak ada petunjuk yang jelas karena Bima Perkasa terkenal sebagai dokter yang baik, pintar, dan praktiknya pun laris. Kematian tokoh Bima Perkasa menjadi kunci dari cerita ini.

Bagaimana, cukup menarik bukan? Aku sendiri membaca karya V.Lestari merasa tak hanya mendapatkan cerita misteri yang kompleks dan menghibur, namun juga mendapat edukasi mengenai kesehatan mental. Tentu 30 tahun yang lalu isu dan informasi mengenai kesehatan mental belum seluas sekarang, namun V.Lestari telah memulainya terlebih dahulu dengan mengenalkan bagaimana peran penting psikiater dalam ceritanya—yang ia ambil secara sadar sebagai tokoh pendukung. Pun bagaimana ia menggambarkan seluk beluk kejahatan yang dilakukan manusia atas dasar cinta itu menjadi sangat masuk akal, V.Lestari seolah menguliti psikologis tokoh yang ia ciptakan, seperti mengupas bawang merah, perlahan dan perih.

Saat ini, untuk mendapatkan koleksi novel V.Lestari terbilang cukup sulit, terlebih banyak dari karyanya yang tidak dicetak ulang. Namun jangan khawatir, itu tandanya kamu mesti meluangkan waktu untuk mengunjungi toko buku bekas terdekat atau berjalan-jalan ke spot loakan di kotamu. Di toko buku Gramedia sendiri aku sempat menemukan buku V.Lestari namun tentu jumlahnya terbatas.

Sebagai informasi penutup, V.Lestari meninggal pada bulan April tahun 2020, di usia 72 tahun, akibat radang empedu yang dideritanya selama 6 bulan terakhir. Novelnya mungkin bukan genre misteri yang banyak digandrungi hingga menembus zaman, namanya pun tidak termasuk dalam kanon sastra Indonesia, namun aku dan kamu mesti ingat, bahwa Indonesia pernah memiliki penulis perempuan yang sangat produktif dan cakap, ini menjadi penting untuk dokumen budaya.

Jinawi Rana

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top