Pilkades Berdarah

Pilkades Berdarah

Muhamad Ramdhan
11 min read

“Ki Buyung Sakti!” Teriak Saman setelah keheningan tiga detik di tengah obrolan Pos Ronda RT 08. Mereka tengah mengingat-ingat seorang dukun tua yang namanya hanya muncul menjelang Pilkades di Desa Balakbak, Kecamatan Suwun, Kabupaten Terserah Ente.

Malam itu adalah malam yang bising di Pos Ronda. Sejumlah tokoh kampung seperti Asep Budok, Jumhari, dan Kasta turut hadir. Tak lupa preman di atas preman yang pernah membunuh maling gas elpiji juga ikut menyaksikan: Dodot Kastengel.

“Tak pernah tak berhasil, selalu moncer!” lanjut Saman.

“Dari Lurah Eble, Lurah Suratno, Lurah Edwin, sampai Lurah Samsul ini, semuanya berhasil menang berkat kemampuan Ki Buyung Sakti! Pak Samsul aja sampai dua periode.”

“Tapi, kan dia pernah tercebur di situ Cibereum dan akhirnya terkena penyakit kulit. Apakah ajiannya masih mempan?” Salah seorang masih meragukan.

“Jangan salah! Dia bukan tercebur. Dia menceburkan diri demi kesaktian yang lebih tinggi lagi,” Saman meyakinkan sambil mengelus-elus kumisnya yang lebat seperti ulat bulu.

Semua terdiam ketika Dodot Kastengel berdiri dan mulai menyampaikan pandangannya.

“Saya saksinya ketika almarhum Pak Suratno, dan Samsul berhasil memenangkan Pilkades. Waktu itu, malam-malam sekali, sekitar jam 2 pagi, saya ke sana bersama Samsul,” tutur Dodot.

Matanya tetiba menatap nanar menuju laron yang hinggap pada lampu kuning di tengah-tengah Pos Ronda. Matanya, mata seorang pembunuh maling, yang telah merampas nyawa seorang pria yang punya keluarga itu adalah mata yang tajam namun sedih. Mata Dodot adalah mata pengembara yang kenyang akan pengalaman menampol dan memalak orang.

Ia melanjutkan ceritanya.

“Rumah Ki Buyung Sakti adalah rumah yang berbahaya bagi kita. Saya saja, yang punya ajian pancong pedati, sampai muntah-muntah. Iya, kan, Sul?”

Samsul mengangguk.

Anak ingusan bertubuh kurus yang penasaran bertanya, “Ada apa memangnya di sana, Pak Dodot?”

“Bau tai! Bukan tai manusia.” Mata Dodot bergerak, menatap semua orang yang ada di Pos Ronda. Samsul menahan muntah mengingat kejadian itu.

“Tai itu adalah tai Jin Kusuma!”

“Lalu kenapa Pak Dodot diam saja ketika kami mengingat-ingat namanya tadi?”

“Karena aku tidak yakin Baskoro akan mampu memenuhi permintaannya.”

Matanya lalu menatap Baskoro.

“Kau, Baskoro, harus berani memenuhi titah dari Ki Buyung Sakti, jika kau memang membutuhkan bantuannya.”

Baskoro terhenyak di sudut. Tubuhnya seperti menyusut. Pria, ah, laki-laki, atau, mungkin bocah klimis yang baru lulus kuliah jurusan pertanian itu harus rela menjadi korban dari keserakahan pamannya, Samsul.

Samsul, meski periodenya sudah berakhir, tidak ingin kekuasaannya beralih kepada orang lain lalu hilang begitu saja. Masih ada proyek besar yang belum selesai ia kerjakan.

Ia mandul. Tak bisa punya anak. Satu-satunya harapan yang tersisa hanyalah keponakannya, dari almarhum abangnya.

Sementara Baskoro adalah anak muda yang baru saja melepas pusing didera skripsi dan baru satu bulan menikmati hidup sebagai sarjana. Ia bercita-cita menjadi PNS di Kementerian Pertanian, namun nampaknya cita-cita itu harus ditunda dulu. Ia harus memenuhi harapan itu. Harapan Samsul, harapan tokoh-tokoh kampung, dan harapan preman Dodot Kastengel.

“Besok malam, aku yang akan mengantarmu ke Ki Buyung Sakti,” ujar Dodot sambil terus memandangi laron.

Setelah Yasinan, mereka duduk melingkar sambil bersandar di dinding masjid. Senyum sapa sambut-menyambut di antara jemaah. Malam Jumat itu, bakda Isya, rapat digelar di masjid. Di sanalah, Jumadi memberikan pidatonya.

“Saudara-saudara, warga RT 05 dan sekitarnya yang saya hormati. Kita semua tahu, kampung kita ini sudah dipenuhi budaya-budaya yang kelewat batas. Warung di pojok sana kita diamkan demi keamanan, padahal di dalamnya ada, naudzubillah, prostitusi. Di sana juga dijual bebas minum-minuman keras…

“Kita tidak boleh diam saja, jemaah yang dimuliakan Allah. Kalau perzinaan, khamr, dan segala macam hal yang dilarang oleh Allah kita biarkan di tanah kelahiran kita, di tempat tinggal kita, maka tunggulah siksaan Allah akan menimpa kita. Kenapa kita juga kena? Karena kita diam saja ketika kemaksiatan itu nampak di mata kita.”

Solihin, aktivis masjid paruh baya, menimpali.

“Betul, Ustaz Jumadi. Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Saya khawatir, jika kita pakai cara-cara yang keras, akan terjadi perselisihan dan keributan di kampung kita,” ujar Solihin, disambut anggukan jemaah lainnya.

“Ini yang hendak saya sampaikan kepada jemaah sekalian. Saya kira, cara terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan arahan dari pemimpin untuk menumpas segala kemaksiatan di kampung ini. Maka dari itu, saya akan mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Balakbak.”

Sontak, para jemaah senyum sumringah. Mereka sangat senang. Ustaz yang selama ini menjadi panutan di kampung, akhirnya berani unjuk gigi sebagai kepala desa. Mereka diliputi bayang-bayang bahwa masa Jahiliyah akan segera berakhir.

__

Jam dua pagi. Baskoro dijemput oleh Dodot naik sepeda motor, menuju Ki Buyung Sakti.

Seisi kampung lenyap dalam keheningan malam, hanya suara mesin motor yang memecah keheningan, mengiringi dua orang melaju perlahan di jalan sempit di antara rumah-rumah. Angin malam menyusup sela pepohonan, suara jangkrik terdengar samar di kejauhan. Tak ada percakapan apa pun yang keluar dari mulut mereka. Hanya sepi dan segantang harapan bertemu Ki Buyung Sakti.

Setelah melalui tanah lapang yang dipenuhi ilalang, sampailah mereka berdua di sebuah rumah yang menyendiri. Rumah itu terbuat dari bilik, dindingnya menghitam dimakan usia. Dari dalam rumah itu, tercium aroma kemenyan yang perlahan masuk ke hidung, dan juga bau tai Jin Kusuma. Baskoro menatap Dodot setengah takut, karena setelah ini ia harus bersiap memenuhi persyaratan dari Ki Buyung Sakti, selain harus menahan bau tai.

“Permisi, Ki. Ini Dodot.”

Tidak ada suara, pintu terbuka sendiri bersama bunyi derit yang memecah keheningan.

Ki Buyung Sakti, pria tua misterius itu, tengah membelakangi mereka. Rambutnya gondrong dan penuh uban. Ia khidmat tenggelam dalam biusan spiritual yang dinginnya hanya ia yang tahu.

“Ki.. ini Dodot.”

Ki Buyung Sakti menengok perlahan, matanya terpejam dan pelan-pelan mulai terbuka. Ia tahu, ini sudah lima tahun sejak Dodot dan Samsul datang ke rumahnya. Maka ia juga tahu untuk apa Dodot datang.

Ki Buyung Sakti membalikkan badannya. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menyapa mereka. Ia hanya menghela napas panjang dan langsung bertanya, “sainganmu siapa?”

Dodot tertawa bisnis. Baskoro tertunduk.

“Ini, Ki. Saya sudah membawa fotonya.”

Ki Buyung terdiam sejenak, dan mengembalikan foto itu pada Dodot. Dengan suara parau, Ki Buyung berkata, “dia.. adalah lawan yang berat.. dia orangnya ikhlas.”

“Namun aku bisa membantumu. Asal, kamu bisa memenuhi syaratnya.”

Baskoro makin tertunduk. Dodot tertawa bisnis.

“Syaratnya apa, Ki?” tanya Dodot.

Ki Buyung Sakti lalu mengambil sebuah pisau di sampingnya. Ia termenung sebentar sebelum melanjutkan sabdanya.

“Bocah ini..” katanya sambil menunjuk Baskoro.

“Harus memotong ayam milik Jumadi, memasaknya menjadi ayam kecap, lalu memberikannya kepada Jumadi sebelum matahari terbenam esok hari.”

Dodot menyenggol bahu Baskoro. Baskoro mengangguk setengah takut sambil menutup hidung karena bau tai yang menjadi-jadi.

Malam itu juga. Keduanya langsung tancap gas menuju belakang rumah Jumadi untuk mencuri ayam sesuai perintah Ki Buyung Sakti. Malam semakin larut ketika mereka menyelinap melewati gang sempit yang hanya diterangi cahaya bulan. Keduanya melangkah pelan, menahan napas setiap kali papan pagar berderit. Dari kandang, terdengar suara ayam berkokok kecil dengan kepakan sayap yang membuat mereka panik. Dodot memberi isyarat agar Baskoro diam, lalu perlahan membuka pintu kandang. Ketika ayam itu berhasil ditangkap, mereka saling berpandangan, lalu buru-buru berlari membawa ayam itu ke arah motor.

Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi ketika Dodot dan Baskoro terbangun setelah mencuri ayam. Semalam, Dodot menginap di rumah Baskoro dan mereka berdua tertidur di teras. Mereka langsung melihat ke sekeliling untuk memastikan ayam milik Jumadi masih terikat di pagar mereka. Mereka teringat pesan Ki Buyung Sakti, ayam itu harus dimasak menjadi ayam kecap dan harus diberikan pada Jumadi sebelum matahari terbenam. Langsung saja, Dodot pergi ke warung membeli berbagai macam bumbu. Preman yang telah membunuh dan menampol banyak orang itu harus patuh kepada perintah Ki Buyung Sakti dan kali ini kepada penjaga warung untuk membayar.

Sementara Dodot berbelanja, Baskoro sibuk membuka internet, mencari video tutorial membuat ayam kecap, dan ia menemukan satu video yang pas berjudul “Cara Membuat Ayam Kecap yang Nikmat”.

Dodot dan Baskoro masuk ke dapur. Api kompor menyala redup. Aroma bawang, kecap, dan rempah perlahan memenuhi ruangan, mengepul ke langit-langit. Preman dan seorang sarjana kurus itu tak banyak bicara. Hanya bunyi minyak mendidih, minyak yang sesekali meletup, dan suara sendok beradu dengan dasar kuali yang memecah keheningan.

Tepat waktu lohor, mereka tiba di depan rumah Jumadi dengan membawa sepanci ayam kecap. Keduanya saling melirik tanpa tahu harus berkata apa. Aroma manis kecap yang mengepul justru membuat suasana semakin canggung, karena mereka tahu persis dari mana ayam itu berasal.

“Assalamu’alaikum, Ustaz Jumadi.”

Jumadi membuka pintu.

“Ini apa?” tanya Jumadi.

Baskoro hanya tersenyum kaku sambil menyerahkan panci tersebut. Dodot menunduk, berusaha menyembunyikan wajah.

Beberapa detik terasa begitu panjang sebelum mereka berpamitan dan buru-buru meninggalkan halaman rumah Jumadi. Sementara Jumadi masih terpaku memandangi ayam kecap yang baru diterimanya. Namun Jumadi, ia dididik untuk menerima hadiah jika ia diberi dan selalu husnuzon. Jadi, ia menerima dengan lapang dada ayam kecap itu walaupun tahu bahwa Baskoro adalah lawannya di pemilihan kepala desa. Ia bergegas masuk sambil tersenyum, membawa ayam kecap itu ke meja makan.

“Alhamdulillah, pas sekali. Siang hari begini, ada lauk tambahan selain ikan teri.”

Dengan lahap, Jumadi memakan ayam kecap itu, pakai nasi.

Hari pemilihan lurah akhirnya tiba. Sejak pagi, Desa Balakbak menjadi lautan manusia. Bendera dan spanduk Baskoro serta Jumadi berkibar sepanjang jalan, sementara warga berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara. Di satu sisi, tim sukses Baskoro berdiri dengan wajah penuh keyakinan, Saman mondar-mandir sambil sesekali melihat daftar pemilih, Asep Budok sibuk mengatur anak buahnya, Jumhari menggenggam rokok yang nyaris tak pernah lepas dari bibir, Kasta hanya diam dengan wajah tegang, sedangkan Dodot Kastengel berdiri paling depan dengan dada dibusungkan, seolah seluruh kampung berada di bawah pengawasannya.

Di kubu Jumadi, para aktivis dan remaja-remaja masjid berkumpul dengan semangat, membawa poster dan meneriakkan dukungan tanpa henti.

Menjelang penghitungan suara, suasana semakin panas. Warga memenuhi halaman balai desa. Ketika kotak-kotak suara dibuka, semua mata tertuju pada panitia. Lembar demi lembar mulai dibacakan.

“Baskoro!”

Sorak langsung pecah dari kubu Baskoro. Dodot Kastengel mengangkat kedua tangannya sambil berteriak kegirangan. Saman tersenyum lebar.

“Jumadi!”

Sorakan dari kubu Jumadi tak kalah. Para aktivis dan remaja masjid meneriakkan takbir. Jumadi tersenyum tipis.

Suara demi suara terus bertambah. Selisih yang semula jauh perlahan mengecil. Senyum Saman mulai menghilang. Asep Budok yang tadi banyak bicara kini lebih sering diam. Jumhari berkali-kali melihat papan penghitungan berharap angka di sana berubah.

Sebaliknya, wajah para pendukung Jumadi semakin cerah. Para aktivis masjid memberi semangat. Hingga akhirnya, hanya tersisa beberapa surat suara.

“Baskoro!”

Dodot mengepalkan tangan. “Masih bisa! Masih bisa!”

Namun suara berikutnya..

“Jumadi!”

Para pendukung Jumadi bersorak. Selisih tinggal satu suara. Surat suara terakhir dibuka. Panitia membalik kertas itu perlahan. Semua orang menahan napas.

“Jumadi.”

Sejenak hening.

Lalu suara sorak kemenangan pecah memenuhi halaman. Jumadi resmi memenangkan Pilkades. Para aktivis masjid berpelukan. Remaja-remaja masjid melompat kegirangan. Beberapa warga mengangkat tangan dan berteriak takbir. Jumadi sendiri hanya terpaku, seolah belum percaya bahwa perjuangannya berakhir dengan kemenangan, dan ia akan memimpin desanya meninggalkan masa-masa Jahiliyah.

Di sisi lain, suasana mendadak sunyi. Saman menatap papan penghitungan dengan wajah kosong. Asep Budok mengembuskan napas panjang. Jumhari membuang rokok yang sejak tadi terselip di bibirnya, sementara Kasta hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Yang paling terpukul adalah Dodot. Preman yang sejak pagi berteriak paling keras itu kini berdiri membisu. Dadanya masih dibusungkan, tetapi wajahnya murung.

Sementara Baskoro, ia diam meski hati tersenyum karena ia akan melanjutkan cita-citanya menjadi PNS.

Sorak kemenangan Jumadi belum sempat reda ketika sebuah keributan pecah di tengah kerumunan. Entah siapa yang memulainya, sebuah dorongan berubah menjadi pukulan, lalu disusul teriakan dari berbagai penjuru. Pendukung Baskoro dan Jumadi akhirnya kehilangan kendali.

Dalam hitungan detik, halaman balai desa berubah menjadi medan pertempuran. Kursi-kursi berterbangan, meja penghitungan terbalik, kopi hitam bergetar-getar dan tumpah, perempuan dan anak-anak berlarian menyelamatkan diri. Para remaja masjid terseret dalam kekacauan. Sementara Dodot yang sejak tadi menahan amarah, maju ke tengah kerumunan.

“Jumadi!”

Jumadi menoleh.

Dodot menerjangnya.

Keduanya berkelahi dengan sengit. Mereka saling dorong dan bergulat di tengah halaman, sementara orang-orang di sekitar mereka menyingkir. Jumadi sempat terjatuh, namun bangkit kembali. Wajahnya lebam dan napasnya tersengal. Dodot pun, tak kalah babak belur.

Pertarungan itu berlangsung hingga akhirnya Jumadi berhasil menumbangkan Dodot. Jumadi berdiri di atas Dodot. Dodot tak mampu bangkit.

Di sekeliling mereka, kampung menjelma menjadi pemandangan kacau. Beberapa orang tergeletak dan warga berteriak meminta tolong. Pesta demokrasi berubah jadi tragedi. Beberapa nyawa melayang hari itu.

Baskoro menghilang. Ia berlari meninggalkan balai desa, melewati jalan kampung tanpa menoleh sedikit pun. Ia membuka pintu rumahnya dengan tangan gemetar, masuk, lalu menguncinya rapat-rapat. Di luar, keributan terdengar semakin kacau. Di kampung itu, kemenangan Jumadi tidak lagi terdengar seperti kemenangan. Itulah hari ketika sebuah pemilihan kepala desa dikenang sebagai Pilkades Berdarah.

__

Nun di seberang tanah lapang yang dipenuhi ilalang, di tengah sepi, Ki Buyung Sakti tertawa hingga gigi-giginya terlihat dan bahunya bergetar amat kencang karena tawa yang tak sanggup ditahan. Ia mengunyah sirih sambil berkata,

“Kekuasaan… Ha ha ha ha.. kekuasaan.. bisa bikin orang salah nangkep ayam.”

Penyunting: Mo. Adim
Ilustrasi: Mo. Adim

Muhamad Ramdhan
Contributor

Muhamad Ramdhan

Tulisan lain dari Muhamad Ramdhan

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top