Angin berdesir dari sela-sela rimbun pohon bambu.
Lirih. Bagi telingaku, desir itu seperti siulan tak berirama. Serupa isak tak beraturan, berembus dari hampir semua orang yang tersisa di permakaman. Kecuali aku.
Telah entah berapa menit sejak pemakaman usai, entah kali keberapa tangis pelayat kudengar. Namun, sejak detik pertama kabar kematiannya sampai padaku, tak sedikit pun luka menggores hati. Tak sedikit pun air mata mengalir di pipi. Bahkan saat berada di rumah duka, saat begitu banyak orang datang menyumbang air mata, aku tak bisa. Tak ada isak. Aku tak memendam kesedihan sedangkal apa pun.
Yang kini tertimbun di bawah makam baru adalah Nanda. Pertama kali aku bertemu dengannya, kelas satu SMA. Dan sejak saat itu, kami tak pernah terpisah—selalu berada di kelas yang sama, hingga setelah lulus, pilihan kota dan kampus untuk kuliah pun sama.
Aku mengenal Nanda sebagai periang. Penuh tawa. Tak satu hari pun rona cerah hilang dari wajah Nanda, setiap kali kami bertatap muka. Bagiku, ceria Nanda adalah warna indah yang bisa sedikit menghiburku dari kelam yang kukenyam tiap malam.
Semua berubah sejak kedua orang tua Nanda berpisah. Kala itu, aku dan Nanda sama-sama menempuh semester tiga. Semua cerita yang selalu tersembunyi, yang telah lama dia bungkus rapi dengan berlapis-lapis senyum, canda, juga tawa, akhirnya terbuka. Satu per satu Nanda bercerita. Dia menjadi seseorang yang sangat berbeda. Tanpa pernah sedikit pun aku kira, ternyata di balik tawa, Nanda penuh luka. Dia mengaku, tak pernah mengenal bahagia.
Aku tak paham. Sejak SMA, sudah jelas Nanda adalah anak orang kaya. Dari ponsel, tas, jaket, hingga motor, dia punya segala apa, yang bagiku, bisa melihatnya saja langka. Di Instagram, akun Nanda penuh foto-foto liburan ke tempat-tempat bagus. Aku yakin mahal. Kurang bahagia apa dia? Pikirku, apa susahnya mendengar pertengkaran tiap pulang ke rumah? Asal bisa pilih mau makan apa saja sesuka hati, kenapa bilang tak pernah bahagia?
Pertemananku dengan Nanda penuh topeng setelah cerita-cerita itu. Susah payah aku berusaha menunjukkan empati setiap kali Nanda menceritakan lukanya. Aku tak pernah menganggap Nanda benar-benar terluka. Bahkan setelah rumah itu hancur, berakhir, aku masih tak pernah paham, kenapa Nanda menganggap itu sebagai rasa sakit luar biasa?
Memang, aku sering kali pilih untuk tak mengatakan apa pun. Aku yakin, hingga kini pun, Nanda tak pernah tahu penilaianku pada cerita-cerita dia.
Aku sangat lega karena tak pernah menunjukkan penghakiman apa pun pada Nanda. Hingga detik terakhirnya, aku masih seorang teman. Bahkan mungkin teman baik, bagi dia. Aku yakin itu.
Semua karena Vega, perempuan yang baru aku dan Nanda kenal di kampus. Ia telah membuka mataku untuk tak cepat, dan tak asal, menghakimi.
Pada waktu-waktu awal Nanda mulai terbuka tentang setumpuk masalah keluarga, Vega telah menjadi bagian dari pertemanan kami—meski Nanda tak pernah bercerita langsung pada Vega. Namun, karena Vega, aku berhasil menahan diri untuk tak menghakimi Nanda.
Aku selalu ingat saat Vega memberitahu: tiap orang punya ketahanan yang berbeda.
Bagiku, keluarga lengkap akan kutukar dengan single parent mana saja asal kaya, dan aku yakin akan baik-baik saja. Karena bagiku, hari-hari penuh pertengkaran pun biasa. Namun, Vega pernah bilang, “Nanda bukan kamu.”
Aku pun lebih bisa menjadi telinga untuk Nanda, meski hanya itu yang aku bisa. Mendengar. Sama sekali tak bisa membantu. Apa lagi ketika masalah yang dibicarakan Nanda berkaitan dengan uang dan utang yang harus ditanggung ibunya. Perpisahan dengan ayahnya tak cuma menyisakan kesendirian, tapi berbagai gugatan dan permasalahan.
Saat ia bingung bagaimana harus membayar biaya kuliah. Sama sekali aku tak bisa membantu. Tapi akhirnya, aku paham. Temanku yang periang itu memang tidak baik-baik saja.
Karena Vega, aku punya cara yang lebih baik dalam menanggapi cerita-cerita Nanda. Setidaknya, untuk tak merusak pertemananku dengannya—meski bukan untuk “menyelamatkan Nanda” seperti yang diharapkan Vega.
“Hei,” bisik Vega.
Perempuan itu menyikutku lembut, membuyarkan lamunan yang bergelantung di kepalaku. Aku tatap matanya, sepasang penuh cairan jernih yang siap tumpah lagi. Lengan panjang bajunya basah setelah menyeka pipi berkali-kali.
“Ayo pulang,” ucapnya lagi.
Aku mengangguk. Kulihat sekeliling, permakaman telah sepi. Hanya ada seorang wanita yang masih berlutut lemas di makam Nanda. Aku tahu siapa wanita itu, ibu Nanda.
“Bentar, Ve,” ucapku.
Tanganku masuk ke saku celana, menggenggam selembar kertas. Kakiku hampir melangkah ke arah ibu Nanda, membawakan kertas itu padanya. Namun, satu detak jantung yang membawa perasaan aneh menghentikanku.
Aku diam. Kuremas kertas dalam saku.
***
“Kamu tahu lagu Benson Boone?” Tanya Vega.
“In The Stars?”
Vega mengangguk. Perempuan itu duduk di sisiku. Aku tak menatapnya. Tapi aku bisa melihat mata Vega dari cermin yang tergantung di pintu kamar kos. Dan sepasang mata itu kembali berkaca-kaca.
“Now you’re in the stars and six-feet’s never felt so far.”
Terbata suara Vega mengucapkan lirik lagu itu. Air matanya luruh. Aku genggam tangan Vega.
“Ya, dia telah bahagia di sana,” ucapku.
Semaksimal mungkin aku berusaha meredakan kesedihan Vega. Sekalipun ada rasa menggelitik yang biasanya tak akan kutahan. Aku tergelitik pada lirik lagu itu, yang menganggap bintang-bintang sebagai tempat jiwa yang telah tiada.
“Menurutmu, Nanda lebih bahagia di sana? Di antara bintang-bintang?”
“Ya. Semoga.”
Lagi-lagi, aku harus menahan kata-kata. Ingin kubantah Vega. Bintang-bintang tak pernah ada di atas kita. Jika bawah adalah bumi yang dipijak manusia, maka bintang-bintang ada di sekitarnya. Padahal nama dia adalah nama bintang juga. Tapi dia tak tahu itu. Ingin sekali kuberitahu, namun saat ini, Vega terlalu emosional untuk bisa kuajak berbincang rasional.
Terlebih, aku memang tak pernah membincangkan itu dengan Vega. Hanya pada Nanda aku bisa bebas membahas semesta. Fakta dan semua kenyataan gelap di dalamnya.
“Kita gagal nyelametin Nanda,” ucap Vega.
Hanya anggukan yang menjadi jawabanku. Bibirku bahkan tak cukup rela untuk mengungkapkan kebohongan.
Menyelamatkan Nanda? Tak pernah sedikit pun terpikir olehku. Bahwa aku selalu menjadi pendengar untuk cerita-cerita dia, murni karena aku adalah satu-satunya orang yang Nanda percaya.
Vega kembali diam. Tanganku meraba selembar kertas yang masih terperangkap saku celanaku.
Lembar kertas itu membawa ingatanku pada suatu perbincangan dengan Nanda, beberapa hari sebelum hari ini. Aku bisa mengingat jelas pertanyaan Nanda tentang makna hidup manusia. Makna matahari pagi yang membawa sesak di dadanya, tiap kali ia membuka mata. Juga makna tiap air mata.
Aku juga bisa mengingat jelas jawaban yang kuberikan.
“Kau tahu, Nan. Semesta tak pernah dan tak akan pernah menawarkan makna. Karena manusia hanyalah sesuatu yang begitu kecil dan tak berarti apa-apa di alam semesta. Bumi kita cuma debu pucat kebiruan. Matahari kita saja tak lebih besar dari Vega, kan?”
Aku masih ingat senyuman Nanda setelah mendengar jawaban itu.
Aku juga masih bisa ingat, perbincangan itu berlanjut pada nama Vega, juga soal bagaimana perempuan itu menjadi bagian dari pertemanan kami. Pertemanan yang sejak SMA hanya kami geluti berdua.
“Kenapa kamu enggak nangis?”
Aku tersentak. Sejak awal aku dengar kabar kematian Nanda, sewaktu di permakaman, hingga detik ini, Vega selalu bersamaku. Tak pernah ia melihat air mataku. Tapi pertanyaan itu tak pernah muncul. Aku sempat mengira Vega tak akan menanyakan itu.
Dan aku ragu harus menjawab apa.
“Kamu enggak ngerasa kehilangan Nanda?” nada pertanyaan Vega kurasa begitu memburu.
Tanganku gugup meremas saku.
“Jangan bilang kamu tahu Nanda bakal ngelakuin itu?”
Pikiranku buyar. Tak ada satu kata pun berhasil keluar dari mulutku. Dan tanganku, terus meremas selembar kertas yang masih terperangkap dalam saku. Lembar kertas sialan itu. Kenapa namaku menjadi bagian dari pesan yang tertulis tangan di kertas itu.
Mata Vega menyelidik. Setelah sekian lama aku tak merasakan apa pun, detik ini, denyut jantungku membawa sesuatu. Dan kurasa, denyut jantung setelahnya, dua kali lipat lebih terasa. Saat mata Vega menyadari tanganku menggenggam erat sesuatu.
Aku tak ingin Vega tahu ucapanku yang Nanda goreskan di selembar kertas itu.
Hanya itu.
Karena aku tak menyesali satu kata pun. Apa pun yang kukatakan pada Nanda, tak bisa, dan tak ingin kutarik kembali. Dia telah bebas. Jauh lebih bebas dariku atau jutaan manusia yang terjebak di Bumi.
Dan aku membebaskannya.
0 Komentar