Teng teng teng…, bel pulang sekolah berbunyi tepat pukul 14.00 WIB.
Aku segera mengemas tumpukan buku pelajaran di atas mejaku, buku-buku itu nampaknya lebih banyak dibanding dosa-dosaku selama satu semester ini. Math wajib masyuk, fisika masyuk, buku tulis masyuk, and last, my pencil case masyuk juga. Kalau bisa semua rasa lelah, iri dengki, dan penderitaan hari ini sekalian aku masukkan ke dalam tas, biar gak usah kubawa-bawa, repot. Tas aku gendong dan dua tote bag aku tenteng kanan kiri, duh…, punggungku kalo bisa ngomong udah orasi ini mah. Aku sudah siap untuk mendaki gunung, udah kaya bawa carrier soalnya. Panggil aku pendaki cilik daripada anak les ya. Berat banget busyet.
Keluar kelas kutolehkan kepalaku ke kanan dan kiri, mmmm rame juga yak anak-anak sekolah ini, suara-suara T-rex menyerukan, “beli jajan apa ya?”, “mau main dimana ya?”, “nongki di mbok e yuk.” Mereka nampak senang bisa pulang sekolah.
Sementara aku? aku masih harus jalan kaki menuju Terminal UFO Sumowono yang ga jauh-jauh amat tapi lumayan lah jalan kaki 5 menit dari depan gerbang sekolah. Tapi ya bayangin aja deh, lima menit jalan di tengah teriknya matahari siang, pakai seragam, bawa tas sebesar carrier, dan tentengan-tentengan kek mau pindah rumah. Lima menit itu kek ujian ketahanan hidup. Matahari juga panasnya gak santai banget.
Aku mending langsung ke terminal daripada nunggu depan gerbang sekolah karena udah penuh itu UFO-UFO. Because of that aku harus ikut war kursi UFO biar ga telat ke tempat yang bakal aku tuju. Harus gercep, harus gesit, harus punya mata elang. Semua demi satu tujuan yang bukan rumah itu. Aneh ya pulang sekolah bukannya pulang malah pergi lagi. Teman-temanku mungkin sudah membayangkan rebahan manis di rumah, sedangkan aku harus melanjutkan perjalanan hidup.
Setelah berjalan kurang lebih lima menit, mataku menyapu deretan UFO mencari kursi yang masih available dengan keberangkatan paling awal. Kosong…, penuh…, terus mataku menangkap satu UFO Preta.
“Alhamdulillah, dapat UFO Preta.”
Aku sangat bersyukur dapat UFO ini karena cukup nyaman, jalannya cepat, dan yang jadi pilot adalah kakeknya teman aku. Tak lama, roda-roda UFO berputar, berputar maju ya, kalau mundur yang ada ga sampai tujuan, nangis aku.
Sepanjang perjalanan, UFO beberapa kali berhenti setiap ada suara, “turun, Om!” atau ketika ada seseorang yang berdiri di pinggir jalan dengan penuh harap untuk ikut naik. Romantis kali aku rasa, cukup dengan lambaian tangan dan satu kontak mata langsung paham.
Tak terasa perjalananku di dalam angkot sudah 20 menit, teman-temanku sudah pada turun, tersisa beberapa kakak kelas, adik kelas, dan strangers yang entah siapa namanya, dari mana asalnya, dan mau kemana hidupnya, people come and people prett. Ah…, aku ingat, kala itu ongkos UFO Sumowono ke Ambarawa cuma Rp2000, ya karena aku anak sekolah. Manis kali ya hidup kala itu.
Titik terakhir UFO yang aku naiki yaitu depan Laris lama, jadi aku harus pindah UFO dengan rute Bawen, UFO berwarna kuning.
Kalau UFO Preta jalannya kaya dikejar deadline, UFO kuning ini cukup kalem, santai, kalau bisa ngomong mungkin bilang, “keep calm princess…, semua akan sampai pada waktunya.” Alah-alah UFO pun ada filosofi hidupnya.
Setelah delapan menit menaiki angkot kuning, terlihat samar tempat yang aku tuju. Ruko biru dengan tiga tingkat yang diapit toko bangunan dan toko elektronik. Aku check jam tanganku, tepat pukul 15.00 WIB aku sampai di tempat itu dengan wajah lelah, pinggang sakit, bahu pegal, kerudung yang udah ga berbentuk terkena angin UFO tapi aku cukup senang.
Aku dorong pintu kaca. “haiiiii Mba Nila, haiiiii Pak Edi.”
Aku sapa Mbak Nila yang kala itu menjadi customer service dan Pak Edi yang seorang security.
Awalnya sih aku takut ya, karena di angkatanku yang ke tempat itu hanya aku dan seorang adik kelas saja. Rata-rata temanku dari Ambarawa, Banyubiru, Bandungan, Jambu, dan Bawen. Jarang banget dari Sumowono mmm sedihhhhhhh. Rasanya aku seperti delegasi dari Kecamatan Sumowono. Sendiri. Kecil. Rapuh. Item. Tapi tetap berangkat.
Lelah? Apa itu? Ya lelah sih, tapi demi SMANEBWA aku rela mengganti waktu istirahat dan waktu mainku menjadi waktu belajar.
Rutinitas ini aku lakukan sudah hampir satu semester di kelas VIII ini, tiga kali dalam seminggu ga terlalu capek sih, bedanya cuma tempat belajarnya aja dan ada teman belajarnya. Call me anak ambis tipis-tipis. Tapi ada bonus yang aku suka, membuatku jatuh cinta, yaitu uang saku aku jadi nambah, hehe, buat beli Beng-beng di canteen ruko biru itu. Semangat belajarku kala itu didukung oleh cita-cita dan jajan. Seimbang.
Aku menaiki tangga ke lantai dua, tempat yang akan jadi kelasku hari ini, kelas 2C. Aku berjalan santai, biasa aja, tidak ada firasat, tidak ada angin membawa pesan, tidak ada bunga sakura yang gugur seperti drama Jepang. Begitu aku membuka pintu kelas dan…, OMG dipojok kiri depan kelas ada sesuatu yang bersinar, sinar itu mengalahkan lampu, tapi lampu mah di atas yak, lah ini kenapa dipojokan mmm.
“OH, KEPALA NAMPAKNYA, BOTAK SIH!” batinku. Aku kira cahaya surgawi turun ke kelas 2C.
Aku masuk kelas seperti anak baik-baik tanpa memikirkan apapun, padahal di kepalaku banyak sekali pertanyaan berlarian. Siapa dia? Anak mana? Kenapa botak? Kok lumayan cakep? Eh, kenapa aku bilang cakep?
Aku memilih duduk di depan pojok kanan bersebrangan dengan that boy. Aku tegaskan ya, aku duduk bersebrangan karena waktu itu aku belum ganti kaca mata jadi masih rada blur kalau duduk di belakang, hehe. Bukan karena that boy. Walau sesekali aku lirik. upsieeee….
Aku taruh tas-tas pindahan ini di kursi kiriku, kursi itu terlihat seperti gudang logistic aku rasa. Aku bergegas ambil wudhu untuk sholat ashar. Waktu aku mau ambil wudhu OMG dia juga mau ambil wudhu. Aku berhenti sebentar, dia juga ngapain sih ikut berhenti? Kan jadinya rada awkard yak, padahal mah situasi itu biasa aja. Aku mundur dikit biar dia duluan ambil wudhunya. Ternyata dia kalau berdiri tinggi juga ya, aku aja sedada dia, tinggi dia mungkin 170 cm deh, tinggi banget ya. My type banget, ehhhhhhh….
Selesai wudhu, that boy membalikkan badan dan menatapku dengan muka dan kepala botak yang basah. Kenapa sih natap aku? Kenapa gak natap keran? Gak natap tembok? Gak natap masa depan kita? Eh…, tapi anehnya, aku kok merasa dia cakep ya? Apa ini? Standarku kan Zayn Malik kenapa jadi Jan Kewalik? Tiba-tiba otakku memutar lirik lagu “Jantungku berdebar saat kau menatapku, jadi salah tingkah bicara sama kamu.”
Ya Allah tolong…, Even dia natap aku cuma dua detik ,tapi dahsyat banget effect-nya.
“ALLAHU AKBAR, TAHAN ADEK BANG, ADEK TIDAK KUAT MELIHAT KETAMPANAN DUNIAWI INI,” batinku dengan aku memegangi dadaku yang berdegup empot-empotan kembang tengkuk mengalahkan killing part lagu BAD by Ateez.
Kembalikan ke jalan yang benar, Ya Allah. Fokus please. Tapi entah kenapa otakku berbisik manja tidak tau diri, “Imamin aku dong, Sat!”
Pada akhirnya, aku diimamin sama Pak Edi.
Penyunting & Ilustrator: Mo. Adim
omagaa, ketawa ga berhenti T_T
omg plis pengen diimamin sama mas botak jg