Aku merasa jauh dari menjadi perempuan dalam kacamata manusia.
Beberapa tahun belakangan aku sibuk dibentur dan membenturkan diri menjalani hidup sebagai perempuan di masa kontemporer.
Pernah aku kaku terhadap batas-batas, pernah pula aku (terlalu) permisif dengan hantaman batu-batu dari puncak tanjakan Mahameru korporasi yang sedang kupanjat.
Aku merasa terlalu dalam menjadi dan memandang perempuan sebagai strategi dan angka. Aku ingin kembali menjadi perempuan yang eling. Usahaku dimulai dengan meleburkan diri, memetakan realita, tentang bagaimana menjadi perempuan yang sebetulnya di tanah air ini.
Aku kira cukup bijak untuk memulai petualangan ini dengan sebuah telusur historis. Mungkin nanti akan kupakai jalur telusur yang lain—gak tahu, namanya juga ekspedisi impromptu. Aku terlalu lama melihat perempuan dengan kacamata ke-aku-an yang sangat tebal. Kali ini, aku ingin melepas kacamata itu dan percaya pada indra lain untuk menuntunku di tengah kebutaan.
Aku benar-benar ingin menelanjangi diri, menjelma menjadi tubuh-tubuh di sejarah atau bahkan yang tubuhnya hilang dari sejarah.
Aku bukanlah ahli sejarah, hanya seorang perempuan yang merasa jauh dan ingin dekat dengan menjadi seorang perempuan.
Mungkin catatanku tidak sefenomenal data ekspedisi dari titik nol hingga ujung Indonesia yang membuahkan tulisan berjilid-jilid yang dicetak sejauh dua-tiga digit batch cetak ulang. Namun, barangkali hidup yang ibarat balerina ini membantu memberikan perspektif lain untuk para perempuan sepertiku yang juga sedang sama-sama mencari.
Mungkin juga untuk kategori seks ataupun gender lain yang muak dicekoki fakta dari kanan-kiri-atas, dan ingin menapak langsung guna menemukan realita menjadi perempuan yang lebih jujur. Semoga perjalananmu menyenangkan dan gak sering-sering mabuk (jangan lupa bawa Antimo!).
Semarang yang Merah
Merah itu membara, menyengat, membakar.
Barangkali benar, karena begitulah wajarnya Kota Semarang dikenal. Percakapan basa-basi awal hampir selalu dimulai kira-kira dengan, “Wah, edan Semarang gerah banget!” Tapi selain itu, Semarang dan merah sesungguhnya bersahabat karib.
Sebagai perempuan dengan embel-embel tambahan “asli Semarang”, aku merasa sudah sepantasnya mengetahui betul dan menceritakan sudut-sudut berkabut kota ini (mungkin bisa berkabut karena kelilipan keringat karena saking sumuk e, atau barangkali—tapi kayaknya gak mungkin: ada yang sengaja nyiptain kabutnya. Ah, tapi gak mungkin, deng, itu). Maka dari itu, aku mau menggandeng kalian untuk lebih dekat dengan Semarang, menyibak-nyibak kabut itu, menuju ke arah sorot lampu yang kebetulan berwarna merah itu.
Kalau kita tarik sedikit tirainya ke belakang, ternyata Semarang memang gak main-main kalau urusannya tentang yang satu ini. Di awal abad ke-20, kota ini jadi salah satu tempat penting berkembangnya gerakan kiri di Indonesia melawan rezim kolonial.
Gagasan sosialisme revolusioner Sneevliet menemukan jalan masuk lewat jaringan buruh kereta api dan trem, lalu bertemu dengan Sarekat Islam Semarang yang saat itu punya massa yang besar. Di bawah Semaoen, semua ini makin riuh: buruh diorganisasi, pemogokan digerakkan, surat kabar dipakai buat menyebarkan gagasan, sampai akhirnya Semarang menjadi basis penting gerakan komunis.
Jadi, kalau selama ini aku cuma kenal Semarang sebagai kota yang sumuk, ternyata kota ini juga pernah jadi salah satu tempat di mana “merah” Indonesia belajar berjalan dengan kakinya sendiri.
Melalui Di Bawah Lentera Merah yang dicatat Soe Hok Gie, aku juga tertarik pada satu hal: orang-orang ini toh gak bangun pagi lalu berpikir, “hari ini aku akan menjadi radikal.” Ada kemiskinan, persoalan tanah, wabah pes, rumah yang dibakar, harga beras, upah, dan kondisi kerja yang bikin hidup sehari-hari terasa semakin sesak. Mungkin di situlah aku mulai paham kenapa merah bisa tumbuh subur di kota ini. Ideologi boleh datang dari buku, tapi keresahan datang dari hidup.
Dan rupanya “merah” Semarang tidak berhenti di cerita buruh dan Sarekat Islam. Beberapa puluh tahun kemudian, kota ini kembali menjadi tempat perempuan-perempuan berkumpul dan membentuk Gerwis, yang kelak berganti nama menjadi Gerwani. Enam organisasi perempuan dari berbagai daerah melebur di Semarang pada 4 Juni 1950 untuk membentuk satu wadah bersama. Dari sini, sejarah gerakan perempuan Indonesia juga punya salah satu titik berangkatnya di kota yang sama.
Entah kenapa, mengetahui bahwa kotaku pernah seramai itu dalam sejarah gerakan kiri terasa seperti menemukan sesuatu yang sebenarnya ada di depan mata, tapi lama tertutup kabut. Mungkin karena makin ke sini, yang tersisa dari Semarang dalam ingatanku cuma kota yang sumuk, DP Mall, lumpia, dan kenangan pulang sekolah. Tapi ternyata kota ini pernah menjadi tempat orang-orang mengorganisasi buruh, mengembangkan gagasan kiri, dan perempuan-perempuan membangun gerakannya sendiri.
Dan dari kabut sejarah itu, ekspedisiku mulai membawa aku ke cerita yang lain: tentang tubuh-tubuh perempuan yang juga pernah melewati Semarang, sebelum perjalanan mereka berujung di sebuah tempat bernama Plantungan.
Ibu Mia Bustam dan Aku: Refleksi Napak Tilas Plantungan
Tubuh dan memori perempuan acap kali menjadi spons sejarah yang daya serapnya luar biasa. Banyak sekali yang bisa disarikan hanya dari pengalaman-pengalaman harian seorang perempuan.
Mungkin karena perempuan dilantik menjadi penanggung jawab seluruh tahap kehidupan manusia melalui kerja-kerja perawatan tanpa upah dan perlindungan yang layak: merawat, mengandung, membesarkan, menjaga, mengingat; pelantikan itu tentunya diselenggarakan oleh sebuah sistem yang seringnya tidak berpihak terhadap kesejahteraan perempuan (kalian tahu sendiri sistem apa itu. Rasanya gak perlu aku sebut saking jijiknya).
Barangkali karena itu pula, pengalaman perempuan selalu berkelindan dengan begitu banyak isu pada tiap lapisan kehidupan. Ialah proyeksi krisis-krisis keluarga, ekonomi, politik, tubuh, hingga kekuasaan yang tentunya selalu ada melampaui zaman. Maka, ketika aku ingin mencari tahu bagaimana rasanya menjadi perempuan pada era berdarah Indonesia, tahun 1965, rasanya masuk akal kalau aku mulai dari tubuh dan ingatan perempuan lain. Salah satunya adalah Mia Bustam.
Mia Bustam lahir di Purwodadi, 4 Juni 1920 dan tumbuh dalam lingkungan ningrat di Yogyakarta. Ia adalah seorang ibu tunggal yang membesarkan delapan anak, sekaligus perempuan yang berdikari dan memberdayakan dirinya dengan belajar melukis hingga bergabung dengan Seniman Indonesia Muda (SIM). Lantas, Mia masuk Lekra dan menjadi Ketua Lekra Yogyakarta.
Pada 1965, beliau turut diciduk dalam tragedi perburuan kaum kiri, tepat pagi hari saat sedang mempersiapkan ulang tahun putranya. Tapi sebelum menjadi tapol, Mia sudah lebih dulu mengalami satu jenis kehilangan yang lebih domestik: perpisahannya dengan S. Sudjojono, seorang lelaki yang kemudian begitu kokoh dicatat sebagai “Bapak Seni Rupa Modern Indonesia”.
Mia lama berjalan di tepian sejarah seni rupa yang ikut dibentuknya. Ada sesuatu yang mengganjal bagiku dalam ketimpangan itu, apalagi ketika membaca surat Mia kepada anaknya tentang perpisahan mereka: seorang perempuan yang sedih, yang sempat kehilangan gairah di depan kanvas, tapi akhirnya kembali melukis karena anak-anaknya harus tetap hidup.
Ia tidak menjadi malaikat. Ia hanya menjadi perempuan yang, suka tidak suka, tetap harus melanjutkan hidup. Lalu datang 1965, dan kehilangan itu mengambil bentuk yang sama sekali lain: proses kreatifnya terhenti, sebagian besar karyanya lenyap, dan kehidupannya kembali direnggut selama lebih dari 13 tahun. Namun, rupanya ada satu hal yang tidak berhasil ikut mereka musnahkan: ingatan Mia.
Sebagai seorang pelukis, mungkin Mia memang punya cara mengingat yang sangat visual. Ketika membaca memoarnya, aku seperti sedang menonton adegan-adegan film yang diputar ulang dengan detail-detail kecil yang nyaris bisa disentuh. Tapi semakin jauh membaca, aku merasa memoar itu bukan sekadar cara Mia mengingat hidupnya. Ia seperti sedang menulis kembali bagian sejarah yang sengaja dibuat samar. Tulisan Mia menjadi semacam arsip tandingan: tentang perempuan, keluarga, seni, penahanan, kehilangan, stigma, dan kehidupan setelah 1965 yang jarang mendapat ruang dalam narasi sejarah yang lebih besar.
Mungkin ini yang membuatku merasa dekat dengannya. Aku datang ke Plantungan bukan untuk mencari sosok perempuan yang sempurna atau bahkan untuk merasa telah memahami penderitaannya. Aku datang karena ingin belajar bagaimana seorang perempuan mempertahankan dirinya ketika sejarah berusaha mengambil alih haknya untuk bercerita. Mia memilih mencatat. Ia mengamati dengan detail, menjaga ingatan, menulis kembali kehidupannya sendiri. Dan barangkali, di situlah tubuh dan memori perempuan bekerja sebagai spons sejarah yang tadi aku bicarakan: menyerap begitu banyak hal, lalu mengembalikannya kepada kita sebagai pengetahuan.
Pagi itu dimulai dengan meleburkan diri bersamanya. Aku sedang dalam perjalanan bersama rombongan dari sebuah kolektif yang sedang melaksanakan kegiatan “tamasya” ke “taman bunga Plantungan”.
Selama di mobil, aku mengungkung diri bersama memoir kedua beliau, Dari Kamp ke Kamp, dan buku Gerwani: Kisah Tapol Perempuan di Kamp Plantungan. Sambil mengingat-ingat cerita pemindahan tawanan, aku mencoba membayangkan perjalanan yang pernah dilalui Mia dan kawan-kawannya puluhan tahun lalu.
Begitu minibus kami melewati Penjara Bulu, bayangan itu terasa semakin dekat. Kepalaku sesak dipenuhi skenario-skenario tentang bagaimana Mia pernah ditempatkan di sana setelah bertahun-tahun di Penjara Wirogunan. Penjara Bulu menjadi ruang transisi sebelum para tahanan diseleksi berdasarkan kondisi kesehatan untuk dipindahkan ke Plantungan.
Di sanalah aku membayangkan kembali negosiasi Mia dengan Dokter Sumitro: kondisi jantungnya mestinya membuatnya tidak lolos, tapi ia berkeras tidak sanggup lagi hidup terkungkung tembok.
Plantungan, dengan segala ketidakmanusiawiannya, justru terasa lebih mungkin ditinggali karena ruangnya terbuka dan udaranya yang sejuk.
Yang membuatku tercekat justru bukan hanya nasib Mia sebagai tahanan. Di Bulu, cerita tentang para perempuan itu bersisian dengan anak-anak kecil milik kawan-kawan yang ikut ditahan, bahkan sebagian bayi terpaksa lahir di balik jeruji besi. Dari sudut terpencil seperti bui saja muncul lagi satu ketimpangan yang entah kenapa terus menemukan jalannya ke tubuh perempuan: bagaimana seseorang yang haknya sebagai warga negara dicabut masih diharapkan menuntun hidup manusia lain selayaknya hidupnya normal-normal saja.
Tapi di tengah situasi itu, Mia berkali-kali melakukan hal-hal kecil yang membuatku berhenti. Ia pernah melihat rok tapol perempuan muda tersingkap, lalu sigap menutupinya agar tidak dinikmati sipir-sipir penjara. Di kesempatan lain, ia menyisihkan sebagian besar jatah makanan kiriman keluarganya saat lebaran, yang bahkan dalam kondisi tahanan jumlahnya sudah tak seberapa, untuk diberikan kepada tahanan muda di ruangan lain yang tidak mendapat kiriman.
Entah disebut naluri keibuan, kerja perawatan, atau apa pun istilahnya. Yang kutahu, bahkan ketika hidup mereka sedang berusaha dihancurkan, mereka masih menemukan cara untuk menjaga satu sama lain. Mungkin kalau sekarang disebutnya “Warga Jaga Warga”? Tapi kalau begitu, bukankah kerja perawatan sebenarnya bukan naluri perempuan? Bukankah siapa pun bisa merawat, hanya saja perempuanlah yang terlalu lama diberi beban untuk melakukannya?
Dari sana, aku lanjut bablas keluar dari Semarang Kota, melewati hutan karet Weleri dan jalan berkelok di Sukoharjo. Minibusku serasa berubah menjelma angkot carteran yang membawa Mia Bustam dan kawan lainnya dari Penjara Bulu menuju Kamp Plantungan.
Entah karena sedang terlalu larut membaca memoarnya, entah karena jalanan mulai masuk hutan dan jurang, tubuhku mulai memunculkan sensasi yang mungkin, meski tentu saja tidak sebanding, mengingatkanku pada cerita perjalanan mereka: mual, was-was, dan sedikit rasa terasing.
“Pagi (saat) kami akan diberangkatkan jatuh hujan dengan derasnya. Meski demikian, banyak sekali kawan yang tidak katut (ikut), memerlukan mendekat ke parkiran untuk melepas kami pergi. Aku tak ingat lagi konvoi itu terdiri atas berapa kendaraan yang semuanya merupakan jenis pick-up. Barang-barang kami diangkut dengan sebuah truk besar. Iring-iringan kendaraan didahului oleh dua bintara POM bersepeda motor yang terus-menerus membunyikan sirine “nguik-nguik!”. “Wah,” celetukku, “sekali-sekali menjadi pembesar, naik mobil didahului voorridjers!” Sampai Weleri konvoi belok ke selatan. Sesudah Sukorejo, jalan mulai menanjak dan berliku-liku. Kemudian kami melewati hutan randu alas dan sengon yang pohon-pohonnya tinggi sekali. “Olah.., gek awake dhewe ki digawa nyang jagad endii (Oh.., kita ini mau dibawa ke dunia mana)!” keluh Bu Prayit dari Solo.”
(Dari Kamp ke Kamp, hlm. 104-105)
Tibalah aku di sebuah tempat yang dulunya adalah Kamp Konsentrasi, dan dulunya lagi adalah klinik Lepra di era kolonial. Penjara Plantungan bagi tapol perempuan bisa disebut setara dengan fungsi Penjara Pulau Buru, tempat para tapol laki-laki “dibuang”, yang mungkin dipopulerkan melalui kisahnya Pramoedya Ananta Toer.
Daerah ini dekat dengan area pemandian air panas yang sekarang menjadi branding terkini lokasi ini: objek wisata pemandian alam. Ditambah pula pemanis patung Upin-Ipin, gajah, dan jerapah di dekat sungai yang mungkin niatnya jadi penawar kengerian tempat itu—bagai menyemprot parfum EDP Rijek ke bangkai tikus.
Aku tiba tidak terlalu pagi, tapi tidak pula terlalu siang. Kabut masih terlihat di ujung bukit dan lanskap terlihat jelas disinari cahaya hangat. Jalanan sedikit menukik turun melewati jalan aspal menuju jembatan gantung yang menghubungkan daerah yang dulunya rumah komandan, petugas, gereja, aula menuju area lereng sungai yang berisi klinik, blok-blok tahanan, taman, dan aliran sungai.
Sekarang? Jembatan bertahan sih, soalnya dibuat dari rangka baja—meski pas rombongan mencoba berfoto bareng, terdengar suara “THAKK!” seperti ada tali baja yang putus (sepertinya beneran putus karena kelebihan muatan). Tapi tetap tergolong kokoh, toh juga dibangun pada zaman Belanda.




Bangunan-bangunnya nyaris gaib. Melewati jembatan, turun ke lereng jembatan, kami sempat ditanya oleh bapak-bapak berbadan tegap (mungkin warga lokal yang gemar berolahraga), “Acara apa ini rombongan ke sini?”
Salah satu kawan menjawab, “Biasa, Pak, piknik nyantai aja…”.

Aku sih ngacir karena terang-terangan menenteng buku yang sampul depannya tercetak jelas kata “GERWANI” dengan warna merah darah. Sampai ke tangga bebatuan, aku dan kawan-kawan turun menuju sebuah hamparan rumput, tempat patung Upin-Ipin tadi bersemayam, dan sangat dekat dengan suara deburan air. Kami memilih lokasi ini sebagai salah satu tempat yang enjoy untuk menggelar “piknik”. Sambil tolah-toleh, aku mengamati puing-puing yang tersisa. Aku heran, sebegitu mudahnya, ya, jejak sejarah hilang ditelan bumi.
Memang betul daerah ini sering diterpa banjir bandang. Bahkan, salah satu kolektif arsipis sejarah berbasis pencitraan (cek laman Instagram mereka, [at]counterpoint.id) menceritakan perjuangan mereka mendekonstruksi Plantungan secara visual yang menghadapi banyak sekali tantangan. Salah satunya adalah perubahan kontur dan lanskap akibat intervensi alam yang berulang. Apalagi nanti kalau proyek geothermal “itu” dibuka seluas-luasnya. Aku setuju dengan pemantik mereka: Kalau alam saja pelan-pelan bisa menghapus bentuk sebuah tempat, tinggal tunggu siapa yang kemudian menghapus ceritanya.

Piknik pun dimulai. Dalam kegiatan itu, diskusi dipantik oleh anak kandung kedua Mia Bustam, Ibu Nasti. Setelah leyeh-leyeh sambil menyanyikan lagu “Taman Bunga Plantungan” bersama Mbak Leilani “Frau”, Bu Nasti bercerita bahwa ibunya justru lebih senang berada di Plantungan karena suasananya yang sejuk dan terbuka. Lantunan yang syahdu, ditemani sepoi-sepoi angin dan desiran aliran sungai, membuat aku sedikit liyer-liyer. Apa jangan-jangan Bu Mia and the gang dulu juga sama liyer-liyernya, ya, saat bekerja dan nongkrong di sini?
Dalam memoir, Mia masuk ke dalam Pokja Kelompok Taman. Ia membuat kebun kecil di atas lereng, menanam Hortus Medicus, atau yang sekarang disebut Toga, berisi tanaman-tanaman rempah yang konon berkhasiat untuk kesehatan. Namun, kocaknya, kebun itu segera kandas karena seorang komandan bernama Pak Bambang memerintahkan seluruh tanaman dibabat. Takut katanya dijadikan basecamp rapat gelap di bawah kerimbunannya.
Pak Bambang, Pak Bambang…. Setelah listrik bertenaga diesel menyala, Kelompok Taman diminta memindahkan mahakaryanya ke lereng bawah, yang kelak bernama Taman Sriyoga.

Mengepalai kelompok ini, Mia dibantu kawannya, Sri Kayati, menghias tempat yang sengsara itu dengan bougenville, kembang sepatu, anggrek, perdu, dan rumput Jepang. Saking berjiwa seninya, Mia memoles, menyusun, dan meletakkan batu-batu yang ada di taman bak arsitek gandrung. Ada yang disusun bagai stupa, ada yang sengaja diletakkan di tengah sebagai jalan susur agar orang tidak menginjak rumput. Dalam wawancara dengan Mia yang diliput di buku Gerwani, lagi-lagi seorang komandan, aku bahkan tidak tahu apakah Pak Bambang lagi atau bukan, mengomel karena batu-batu setapaknya berjumlah sembilan. Eh, dikiranya sembilan merupakan simbol sublim dari “September”. Lucunya Pak Komandan.
Tapi sayang, warna-warni kelopak di Sriyoga sudah tidak bisa lagi dinikmati sekarang. Hanya tersisa patung gajah yang pantatnya menghadap kami saat sedang piknik.
“Sebagai kepala pertanian ditunjuk Bu Suti’ah dari Jatim, seorang wanita bertubuh kecil, tetapi energik. Di luar dia agaknya termasuk golongan kawan-kawan yang berpendapat bahwa penyediaan pangan itu merupakan sesuatu yang jatuh nomor satu. Tidak perlu memikirkan keindahan selama pangan belum mencukupi (aku sendiri berpendapat bahwa cukup pangan dan keindahan harus sejalan sehingga mampu menjaga keseimbangan mental manusia).”
(Dari Kamp ke Kamp, hlm. 233)
Optimisme dalam Aktivisme via Perempuan
Sebelum lanjut, aku mau mengajak kalian berhenti sebentar. Di atas ada cuplikan cover Kabut Putih oleh Hara dan Frau. Coba didengarkan dulu.
Apa yang kalian rasakan setelah mendengarnya, aku serahkan ke kalian. Tapi bagiku, versi ini nyaris sempurna merangkum nuansa sekaligus makna lagu yang kutemukan di memoar Mia. Lagu ini dibuat Nungtjik ketika kabut tebal turun di kamp.
Kabut menjadi gambaran sederhana tentang kehidupan mereka di dalam sana: samar, dingin, entah kapan akan menipis.
Tapi ketika kabut itu perlahan menghilang, ia juga menjadi semacam pertanda bahwa barangkali hari pembebasan akan datang. Aku suka sekali bagaimana sesuatu yang sesederhana kabut bisa berubah menjadi lagu, dan puluhan tahun kemudian lagu itu justru kembali menemukanku di tempat yang sama.

Taman Plantungan membuatku kembali memikirkan hal yang sama. Setelah melihat tempatnya sekarang, aku terus teringat pada cerita Mia tentang Kelompok Taman: bagaimana perempuan-perempuan ini tetap sibuk memikirkan bunga, batu, jalur setapak, bahkan keindahan, di sebuah tempat yang pada dasarnya tidak pernah dirancang untuk membuat mereka nyaman.
Ada sesuatu yang terasa ganjil sekaligus menghangatkan di sana. Mereka tidak punya kuasa untuk memilih berada di Plantungan, tetapi masih punya ruang kecil untuk memilih bagaimana tempat itu akan mereka hidupi. Bahkan bagi Mia, pangan dan keindahan tidak perlu dipertentangkan; keduanya sama-sama penting untuk menjaga keseimbangan mental manusia.
Lalu ada dr. Sumiyarsi. Salah satu cerita yang terus terngiang di kepalaku adalah bagaimana beliau perlahan justru dikenal warga sebagai “dokter manjur”. Dengan alat yang serba terbatas akibat korupsi sana-sini, beliau tetap membantu, merawat, dan hadir untuk orang-orang di sekitarnya.
Ada sesuatu yang paradoksal di sini: dalam cerita besar, beliau adalah orang yang semestinya kita bayangkan sebagai pihak yang perlu ditolong. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ia terus menemukan alasan, kemampuan, dan mungkin juga ruang untuk mencurahkan dirinya kepada orang lain. Seolah-olah setelah bertahun-tahun hidupnya dipreteli oleh keadaan, salah satu cara yang ia pilih untuk kembali menjadi manusia adalah dengan membuat dirinya berguna bagi manusia lain.
Yang menarik, cerita dr. Sumiyarsi sebenarnya gak berhenti pada soal bagaimana seorang dokter bekerja dengan alat seadanya. Ia juga menunjukkan bagaimana kerja perawatan bisa punya konsekuensi politik, bahkan ketika pelakunya sendiri mungkin tidak sedang berdiri sambil membawa spanduk dan meneriakkan slogan.
Tapi untuk memahami kenapa kerja dr. Sumiyarsi bisa punya arti politis, aku perlu mengingat stigma yang dibawa para tapol ini ketika tiba di Plantungan.
Gerwani sudah lebih dulu dibentuk sebagai monster melalui pemberitaan media: kelompok perempuan yang katanya menyiksa dan membunuh para jenderal, menari telanjang, bahkan memotong alat kelamin mereka. Padahal hasil otopsi Prof. Dr. Arif Budianto yang dikutip dari buku Gerwani, Pasca G30S tidak ditemukan potongan maupun luka iris pada alat kelamin para korban.
Fantasi seksual itu terasa seperti bekerja terlalu baik dalam kultur patriarkat: tubuh perempuan dikonstruksi sebagai ancaman terhadap dignity dan kejantanan laki-laki, lalu ketakutan dan kemarahan diproduksi dari sana.
Salah satu kutipan yang menurutku cukup mengerikan—karena betapa gamblangnya cara narasi itu bekerja—adalah tulisan Pandowo dalam Herinneringen van een ex-Tapol:
“Seorang dokter wanita, S, yang jelas anggota Gerwani Komunis itu masih belum diamankan. Tapi ABRI kita yang selalu siap itu dengan tekun terus menerus mencari tempat persembunyiannya. Ia dokter orang-orang Gerwani yang dengan Gillette telah memotong kemaluan jendral-jendral kita yang gagah berani di Lubang Buaya itu. Seperti para pembaca tentu ingat, orang2 Gerwani telah menari2 dengan telanjang bulat seperti orang-orang primitive liar membunuh para pahlawan kita secara biadab. Sementara itu rumah dokter gerwani ini dalam keadaan kosong. Alamatnya yaitu…”
(Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan, hlm. 72)
Dan ironisnya, itu semua tuduhan yang sama sekali tidak terbukti. Lantas, dari mana muncul fantasi skenario liar itu?
Ini mengingatkanku dengan film-film psikoseksual semacam Eyes Wide Shut, yang merupakan interpretasi dari teori-teori psikoseksual ala Freudian.
Dulu waktu di ruang kuliah, titik paling muakku belajar adalah pas kelas teori kepribadian tiba pada diskusi psikoanalisis Freud. Aku selalu diingatkan oleh kawan-kawan, jangan terlalu sering ngomel-ngomel ke Freud, takut dia bangkit dari kubur dan bikin teori aneh-aneh lagi. Mari kita bicarakan dia dalam ekspedisi lain.
Freud menggembar-gemborkan bahwa sesungguhnya keanehan-keanehan manusia bisa dibedah melalui hal-hal yang tidak, atau belum, dipenuhi secara sadar dalam dirinya. Aku jadi bertanya-tanya: bisa jadi narasi-narasi ini adalah bentuk proyeksi dari kecacatan dimensi-dimensi internal para aktor sistemik di baliknya? Segala yang tidak imbang dan tidak bisa dikontrol dicarikan pelarian kontrol dalam bentuk seksual.
Tentu sebagai lulusan psikologi, aku bertanggung jawab bilang, “bukan diagnosis klinis, perlu asesmen lanjutan.” Aku sangat kasihan jadinya. What’s wrong with them…
Kalau zaman sekarang ekuivalennya dengan serangan buzzer dan media strategist kali, ya. Seakan-akan yang ngedesain tuh mau pakai sentimen seksis bahwa organisasi perempuan yang progresif semacam Gerwani itu bacot, “centil”, berisik, emosional, reaktif, binal. Kalau sekarang mirip dengan fenomena ketika perempuan bersuara sedikit lebih lantang langsung dicap SJW. Atau misalnya ketimpangan cancel culture ke laki-laki dan perempuan ketika netizen menjatuhkan tafsir bahwa seseorang “salah”.
Pembrangusan Gerwani melalui fitnah dan narasi seperti ini jadi bukti nyata bahwa perempuan itu betul-betul kelompok rentan. Benteng sekuat Gerwani saja bisa ditembus peluru narasi-narasi patriarkis ala Orba, yang bahkan sampai sekarang masih dipercayai orang-orang di sekitarku.
Lalu kita kembali ke Plantungan.
Warga yang semula takut mendekat perlahan mulai berhadapan dengan perempuan-perempuan yang selama ini cuma mereka kenal lewat cerita. Warga yang semula takut mendekat perlahan mulai datang ke kamp ketika poliklinik dibuka untuk umum.
Awalnya karena murah, hanya Rp100 dibandingkan Puskesmas yang Rp1.000. Lalu karena dokter Plantungan dikenal “mujarab”. Ada warga yang sakit hepatitis dan hipertensi, diberi obat oleh dr. Sumiyarsi, merasa cocok, lalu kembali menjadi pasien rutin. Ada pula warga Desa Bawang yang mengalami perampokan dan luka-luka, lalu tim dr. Sumiyarsi datang dengan penjagaan ketat untuk membantu. Petugas kamp dan istri-istrinya yang hamil pun sering meminta pertolongan, sampai kemudian ada warga yang bahkan berkata bahwa ia hanya mau ditolong oleh dr. Sumiyarsi.
Pelan-pelan, relasi yang sebelumnya dibangun oleh ketakutan mulai digantikan oleh pengalaman langsung. Orang-orang yang tadinya melihat Gerwani sebagai hantu politik mulai mengenal perempuan-perempuan di dalam kamp sebagai dokter, orang yang bisa menolong, orang yang bisa mengobati. Stigma itu ternyata gak runtuh melalui pidato. Ia runtuh lewat pertemuan-pertemuan kecil. Lewat tubuh yang sakit, obat yang diminum, persalinan yang dibantu, luka yang dirawat, dan orang-orang yang akhirnya sembuh.
Hal yang sama juga terjadi pada bentuk-bentuk kemampuan lain. Ibu-ibu tapol yang sering berolahraga di lapangan mulai dikenal sebagai perempuan-perempuan yang jago olahraga. Warga meminta mereka mengajari anak-anak menari dan menyanyi untuk acara perpisahan SD.
Mereka bahkan dikenal berani menangkap maling dengan cara yang, jujur saja, absurd tapi cukup ampuh: memancing maling ke hutan lalu bertelanjang bulat karena ada kepercayaan bahwa maling akan apes kalau melihat perempuan telanjang. Lurah Desa Bawang sampai mengapresiasinya. Ada pula cerita tentang ibu-ibu tapol yang membantu menenangkan ODGJ ketika upaya warga sebelumnya tidak berhasil.
Dari semua cerita itu, jangan kaget. Wajar.
Wajar karena sesungguhnya yang mengisi kamp ini adalah perempuan-perempuan intelek: akademisi, politisi, dan profesional. Mereka bukan sekadar perempuan yang kebetulan sedang ditahan. Mereka membawa pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kapasitas yang tetap bekerja bahkan ketika status mereka sebagai warga negara sedang dicabut.
Dan justru di sini aku mulai sedikit terganggu dengan cara kita membayangkan perempuan yang dianggap “hebat”.
????????
Di Plantungan, yang kulihat bukan cuma perempuan yang bertahan dari penjara. Ada yang menanam bunga. Ada yang membuat lagu dari kabut. Ada yang mengobati orang sakit sampai warga yang awalnya takut justru datang mencari pertolongan. Ada yang mengajari anak-anak menari dan menyanyi. Ada yang bahkan membantu warga menangkap maling dan menenangkan ODGJ.
Kok rasanya semua ini terlalu gampang kita letakkan di kotak “kerja perempuan”, lalu selesai?
Bukankah merawat juga bisa mengubah hubungan seseorang dengan komunitasnya? Bukankah membuat taman di tempat yang sengsara bisa jadi cara mempertahankan rasa hidup? Bukankah membantu orang sakit bisa jadi cara paling konkret untuk merobohkan stigma?
Lalu aku jadi bertanya-tanya: apakah semua itu “kurang politis” hanya karena tidak terlihat gagah?
Atau jangan-jangan selama ini kita memang terlalu terbiasa mengukur keberanian dengan suara yang keras, tubuh yang maju ke depan, dan konfrontasi yang kasatmata.
Mungkin baru sekarang aku ngerti kenapa dari tadi aku terus kembali pada kata optimisme. Bukan optimisme dalam arti berpura-pura keadaan baik-baik saja. Bukan juga kemampuan untuk tersenyum di tengah penderitaan. Mungkin optimisme justru sesederhana keputusan untuk tetap membuat sesuatu hidup, ketika keadaan terus-menerus memberi alasan untuk menyerah.
Dan mungkin kerja perawatan juga bisa dipikirkan dari sana. Bukan karena perempuan secara alamiah lebih pandai merawat. Bukan karena perempuan memang “seharusnya” mengayomi. Tapi mungkin karena, dalam keadaan tertentu, merawat satu sama lain memang bisa menjadi cara untuk bertahan, menjaga kapasitas, dan mempertahankan keberadaan.
Jangan-jangan selama ini kita terlalu cepat membedakan antara “bertahan hidup” dan “melawan”. Padahal mungkin keduanya gak selalu punya garis pemisah yang jelas.
Bukankah bagi pelari agar bisa menamatkan maraton panjang, mereka perlu menjaga pace dan sadar kapasitas diri?
Ya gak tau, ya. Aku bukan pelari kalcer. Strava saja tidak punya.
Referensi
Ahmad, T. A. (2014). Sarekat Islam dan gerakan kiri di Semarang 1917–1920. Sejarah dan Budaya, 8(2), 161–176. https://journal.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya/article/view/4778/2216
Bustam, M. (2022). Dari kamp ke kamp: Memoar kedua. Ultimus.
Gie, S. H. (2015). Di bawah lentera merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917–1920. Mata Bangsa.
Melihat dari Sudut Pandang Berbeda: Memahami Posisi Perempuan dalam Ekstraktivisme. (2026). Jatam. https://suar.jatam.org/rubrik/melihat-dari-sudut-pandang-berbeda-memahami-posisi-perempuan-dalam-ekstraktivisme
Lestariningsih, A. D. (2011). Gerwani: Kisah tapol wanita di Kamp Plantungan. Penerbit Buku Kompas.
Tanaga, S., Reza, A., & Reza, S. T. A. (2025, November 14). Memoar Mia Bustam: Melampaui Melankolia Kiri Indonesia. Project Multatuli. https://projectmultatuli.org/memoar-mia-bustam-melampaui-melankolia-kiri-indonesia/
0 Komentar