Non-Suicidal Self-Injury dan Bagaimana Masyarakat Meresponsnya

Non-Suicidal Self-Injury dan Bagaimana Masyarakat Meresponsnya

Kamilia
5 min read

Ini merupakan refleksi yang saya ambil dari skripsi yang saya lakukan pada tahun 2024 mengenai fenomena Non-Suicidal Self-Injury (NSSI). Beberapa tahun setelah penelitian selesai, saya kembali membuka naskah skripsi dan ternyata masih banyak hal yang perlu dieksplorasi dan direnungkan.

Mungkin saya ter-trigger menulis ini karena akhir-akhir ini, jujur, saya sedang cukup tertekan dengan kehidupan. Di tengah kondisi itu, saya teringat pada orang-orang yang menyakiti dirinya sendiri. Bukankah secara naluriah manusia melindungi dirinya dari rasa sakit? Apa yang terjadi ketika rasa sakit justru terlihat seperti jalan keluar?

Perilaku melukai diri sendiri tanpa niat bunuh diri (NSSI) tidak hanya mencerminkan kondisi mental seseorang tetapi juga terikat dengan lingkungan sosial dan keluarga mereka. Saya masih ingat momen ketika menemui sekelompok anak perempuan dengan seragam merah putihnya yang sudah terlibat dalam perilaku tersebut.

Atas permintaan guru, mereka menunjukkan lengan mereka yang dihiasi luka gores, baik yang sudah lama maupun yang masih segar. Luka itu berpola layaknya sebuah barcode, yang kemudian mereka sebut sebagai Barcode Korea

Saat dimintai keterangan mengenai alasan di balik tindakan tersebut, sebagian besar anak menyebutkan karena stres.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah seberapa berat beban psikologis anak usia sekolah dasar hingga melakukan tindakan ekstrem seperti menyayat tangannya sendiri. Berdasarkan dari pengakuan mereka, pemicunya meliputi masalah percintaan, kurangnya perhatian, dan dinamika pertemanan yang tidak sehat.

Untuk menjembatani persoalan ini, saya bertemu dengan beberapa orang tua untuk menggali persepsi mereka atas perilaku melukai diri sendiri ini. 

Dari percakapan dengan beberapa orang tua, saya menemukan bahwa bagi mereka NSSI sering kali merupakan sesuatu yang “asing”. Beberapa bahkan baru mengetahui bahwa anaknya melakukan tindakan tersebut setelah melihat bekas luka di tubuhnya. Ada yang awalnya menganggapnya hanya sebagai bekas luka biasa, ada pula yang baru mengetahui setelah diberi tahu oleh anggota keluarga lain. 

Ada jarak antargenerasi dalam cara memandang perilaku ini.

Bagi sebagian orang tua, menyakiti diri bukan cara yang mereka kenal ketika menghadapi masalah saat remaja. Mereka mengingat bahwa dulu, “Marah ya marah, kecewa ya diam, atau mungkin melampiaskannya melalui kebiasaan lain.” NSSI tampak seperti hal yang baru dan sangat berbeda dari pengalaman mereka. 

Mungkin sebenarnya bukan hanya perilakunya yang berubah, tetapi dunia tempat anak-anak itu tumbuh. Saat ini, pengalaman anak tidak hanya terbentuk dari apa yang terjadi di rumah atau sekolah. Ada teman sebaya, media sosial, tayangan yang mereka konsumsi, dan berbagai tren yang menyebar dengan cepatnya. Menurut para orang tua, NSSI yang dilakukan oleh anak mereka kemungkinan dipengaruhi oleh teman atau apa yang sedang menjadi tren di sosial media tertentu. 

Saya kemudian kembali teringat dengan “Barcode Korea” tadi. Sebagai individu dewasa yang tidak terpapar dengan hal ini, saya tidak tahu apakah istilah tersebut memang  benar-benar merupakan sebuah tren, atau bagaimana tepatnya istilah tersebut dapat berkembang di lingkungan pertemanan remaja zaman sekarang.

Dari pengalaman ini saya sadar bahwa perilaku yang serius bisa mendapatkan bahasa yang berbeda ketika masuk ke dunia anak dan remaja.

Menariknya, tidak semua pemicu stres tampak sebagai masalah yang besar di mata orang tua. Sebagai contoh, kecemasan anak mengenai pakaian yang akan mereka kenakan untuk menemui teman mungkin terkesan sederhana bagi orang dewasa. Tetapi, bagi mereka yang pernah menjadi korban ejekan dan memiliki krisis citra diri, persoalan sepele ini dapat berubah menjadi beban mental yang lebih berat.

Sering kali kita mengukur berat ringannya masalah orang lain hanya berdasarkan kacamata kita sendiri. Menilai sesuatu hal sepele hanya karena kita tidak ikut merasakan pengalaman tersebut.

Di luar dinamika keluarga, muncul persoalan lain: bagaimana masyarakat akan bereaksi jika mengetahui perilaku tersebut? Mayoritas orang tua memilih untuk menutup rapat-rapat masalah ini dari lingkungan sekitar karena dibayangi perasaan cemas terhadap gunjingan, stigma sosial, hingga khawatir bahwa reputasi keluarganya akan rusak.

Ternyata tindakan yang dilakukan seorang anak tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.  Ia bersinggungan dengan dinamika keluarga, pertemanan, lingkungan sekolah, hingga lingkaran sosial yang lebih luas.

Namun, obrolan saya dengan para orang tua juga menyingkap sisi lain yang penuh harapan. Setelah melewati gejolak emosi setelah mengetahui tindakan ekstrem yang dilakukan anak mereka, sejumlah orang tua perlahan belajar untuk berempati.

Alih-alih langsung menghakimi atau marah, mereka belajar untuk membuka ruang obrolan, menghabiskan waktu bersama, memberikan dukungan, serta melibatkan pihak profesional saat situasi di luar kendali mereka.

Perubahan sikap ini yang saya rasa paling penting dalam memahami fenomena menyakiti diri sendiri. Awalnya, reaksi orang tua mungkin hanya berfokus pada luka fisik dengan pertanyaan yang mengintimidasi, ”kenapa anak saya melakukan ini?

Namun, seiring berjalannya waktu, pertanyaan itu berubah bentuk menjadi kepedulian, ”Apa sebenarnya yang sedang dialami oleh anak saya?.

Pergeseran pertanyaan tersebut rasanya sederhana, tetapi sebenarnya menunjukkan perubahan sudut pandang yang besar. Dari menghakimi menjadi lebih berempati. Dari melihat anak sebagai seseorang yang melakukan sesuatu yang salah menjadi sebagai seseorang yang mungkin sedang kesulitan menghadapi yang ia rasakan.

Dan mungkin, hal terpenting yang saya pelajari dari ini semua adalah bukan hanya anak yang perlu untuk belajar. Orang tua juga belajar. Belajar mendengar. Belajar memahami. Belajar mendampingi dan mengakui bahwa mereka sendiri tidak memiliki jawaban semua permasalahan yang ada di dunia.

Sebelum kita meminta seseorang berhenti menyakiti dirinya, mungkin ada baiknya kita mencoba memahami terlebih dahulu apa yang membuat ia sampai merasa perlu menyakiti dirinya sendiri.

Penyunting: Ashrofa
Ilustrasi: Fajar Hanif Mubarok

Kamilia
Contributor

Kamilia

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top