“Life takes a struggle.”
Itulah prinsip hidup yang diutarakan oleh Muhammad Zeyn Kim Putra. Seorang anak yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, Zeyn merupakan anak seorang pengusaha baju bermerk terkenal. Ibu Zeyn berdarah Australia-Indonesia sedangkan ayah Zeyn berdarah Korea-Indonesia.
Tiba-tiba seseorang berteriak ke arah Zeyn.
“Kak! Lihat buku IPS aku gak?” dengan kata-kata yg kurang ajar.
“Lo ngomongnya sans aja kali, Dek!” jawab Zeyn, judes, dan disambung dengan kalimat, “Enggak, gue ga liat.”
Itu suara adik Zeyn, namanya Anitaseo Hanum Myrae, biasa dipanggil Nita. Adik Zeyn memang terkenal dengan suaranya yang cetar bagaikan petir yang menyambar-nyambar.
Setelah Zeyn berbincang dengan adiknya, ia pergi menuju garasi dan mengambil motor, lekas pergi ke minimarket untuk membeli snack rasa keju kesukaannya.
“Brmmm…,” suara motor metiknya mulai meninggalkan rumah sebesar gedung.
Setelah sampai di minimarket, Zeyn beranjak dari motor, lalu masuk. Saat ia hendak mengambil barang tiba-tiba tangannya mengambil barang yang sama dengan seseorang.
“Kreekk!” tangan Zeyn reflek.
“Astaga… kaget gue,” desis Zeyn dalam hati.
“Eh sorry-sorry gue gak sengaja,” ucapnya, merasa bersalah.
“Iya gapapa kok santai aja,” jawab Zeyn lirih.
Tiba-tiba gadis itu menyodorkan tangan putihnya ke arah Zeyn. Cowok itu terkejut.
“Kenalin gue Stephanie Nalyna Putri Enderson, gue bersekolah di SMA Raveneart, Jakarta Utara, kalo lo?”
“Gue Muhammad Zeyn Kim Putra, gue sekolah di SMA Godriclass, Jakarta Utara juga,” jawab Zeyn sambil kebingungan.
Setelah mereka berbincang beberapa saat, Zeyn pun lekas pergi menuju toko selanjutnya. Toko buku dan alat tulis, karena mulai besok ia masuk sekolah. Zeyn memilih buku dan alat tulisnya, lalu segera menuju kasir untuk membayar.
Malam pun tiba, Zeyn segera bersiap salat isya. Sehabis salat, ia menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama-sama dengan keluarga.
○○○○○○
Keesokan harinya ia bangun jam lima untuk mandi dan shalat subuh, lalu ia keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan untuk sarapan. Zeyn berangkat sekolah menggunakan motor.
Setelah beberapa menit, ia sampai di parkiran motor dekat sekolah.
“Hei friend…!” panggil seseorang dari belakang sambil menepuk bahu Zeyn
“Biasa aja kali manggilnya,” Jawab Zeyn ketus.
“Yah, kan gue kangen sama sahabat gue yang dinginnya macam es balok di pasar,” kata Richard sembari menepuk bahu Zeyn.
Setelah beberapa saat mereka berdua berbicang-bincang, mereka masuk ke kelas, semenit kemudian bel berbunyi dan membuat seluruh murid yang ada di luar kelas berlari-lari. Berhamburan. Segera masuk ke kelas masing-masing.
“Hai Endang… lo gak kangen sama Akang Fredy?” celetuk salah seorang murid dengan nada jail, mengejek Endang.
“Idih amit-amit gue kangen ama lo!” jawab Endang dengan nada marah. Menyentak wajah Fredy.
Maklum Fredy memang sering menghina dan menjadikan Endang bahan lelucon yang garing.
“Udah-udah budeg gue dengerinnya,” kata Zeyn sambil memegangi kepala yang berat mendengar cek-cok antara Fredy dan Endang.
Salah seorang guru pun mulai masuk ke kelas, 11 IPS 3. Pak Edi menyapa murid-murid dengan lantang. Otomatis, seluruh murid menjawab sorakan Pak Edi. Pak Edi adalah guru IPA.
“Siska! Kenapa tidak menjawab salam dari Bapak?” tanya Pak Edi kepada salah seorang siswi cewe yang sedang tidur di kelas.
“Ha? ken… kena… kenapa, Pak?” jawab Siska, terbata-bata.
“Kamu ini! Sudah dikasih tau supaya jangan tidur di kelas masih aja ngeyel!” bentak Pak Edi dengan suara bak mercon yang meledak di hari raya.
“I… iya…, Pak. Maaf saya enggak sengaja ketiduran.” jawab Siska memelas.
“Ya sudah. Kamu cuci muka sana!”
Siska pun beranjak dari kursinya. Pergi keluar.
○○○○○○
Bel istirahat berbunyi. Semua siswa-siswi beranjak dari kelas dan mulai pergi ke surga makanan anak sekolah. Kantin. Di sanalah jajan dan makanan ala anak sekolahan tersedia. Dari mulai bakso, batagor, siomay, soto, dan makanan yang paling polpuler di SMA Godriclass, Bakso Bang Kribo.
“Lo mau ke kantin enggak, Cuy?” tanya Richard kepada Zeyn.
“Iya,” jawab Zeyn singkat, padat, jelas.
“Ngomongnya irit amat, Mas?” tanya Richard ke Zeyn dengan nada sarkasme.
“Jadi enggak?” jawab Zeyn ketus. Ia mulai malas meladeni celotehan Richard.
“Jadi,” jawab Richard singkat. Ia langsung menuju kantin.
Ketika sampai di kantin, mereka duduk di kios Bakso Bang Kribo. Tiba-tiba Fredy datang menyusul dan bergabung dengan Zeyn dan Richard.
“Nah, kebetulan ada Fredy juga sekalian deh lo mau pesen apa?” tanya Zeyn kepada Fredy dan Richard.
“Gue bakso sama es jeruk,” jawab Fredy.
“Bakso and jus alpukat,” jawab Richard.
Zeyn pun pergi memesan makanan. Sembari menunggu makanan datang, mereka membahas tentang acara yang akan diadakan oleh OSIS. Lomba futsal antar kelas minggu depan.
“Lo mau ikut jadi peserta futsal ga?” tanya Fredy dengan semangat 45.
“Gak. Malas,” jawab Zeyn singkat, padat, jelas.
“Gue ikut deh,” jawab Richard dengan menggebrak meja kantin.
Zeyn memang sedikit sulit jika disuruh berolahraga, maklum, anak orang kaya. Di rumah hanya bermain HP, nonton TV, dan bermalas-malasan. Setelah makanan mereka sampai, mereka bertiga makan dengan lahap.
“KRING!”
Bel pulang sekolah berbunyi, saatnya murid SMA Godriclass pulang dan beristirahat, merilekskan tubuh dari aktivitas seharian di sekolah.
“Lo enggak pulang?” tanya Richard kepada Zeyn.
“Bentar lagi kelar, lo duluan aja ke parkiran ntar gue nyusul,” jawab Zeyn.
“Oke sip,” balas Richard.
Fredy sudah duluan pulang, sementara Zeyn memang biasa pulang agak lambat. Mengingat setelah pulang sekolah, ia harus mengerjakan tugas sebagai sekertaris.
Setelah usai, Zeyn berjalan menuju parkiran motor, ia mengambil motor matic dan helm bogo, lalu pergi dari sekolah.
Sampai di rumah, Zeyn memarkirkan motor ke garasi dan mau masuk melalui pintu depan, tapi entah mengapa, pintu depan terkunci dari dalam. Zeyn pun terpaksa pergi ke pintu samping. Untungnya pintu samping bisa dibuka dan ia bisa masuk.
Ketika masuk, semua ruangan gelap gulita, dan hanya ada dirinya di depan pintu. Ia kebingungan melihat seluruh ruangan gelap.
Duar!
Tiba-tiba suara letusan muncul.
To be continued…
○○○○○○
0 Komentar