Berkisar antara Humor dan Satire: Komedi Ateng Mata Keranjang 1975

Komedi adalah salah satu cara masyarakat mempertahankan dirinya di bawah kekuasaan tirani, demikian menurut Morreal.

Pada 1975, dirilis sebuah film yang disutradarai oleh Asrul Sani, seorang penulis dan penyair kenamaan tanah air. Film itu berjudul Ateng Mata Keranjang, dengan tokoh utama Ateng, yang dibantu oleh tokoh Iskak. Pada opening credits-nya, huruf ‘E’ pada kata ‘KERANJANG’ tampak lebih kecil dibandingkan huruf-huruf lain. Penonton yang memiliki pengetahuan linguistik dasar akan segera menyadari konsekuensi dari huruf yang dikecilkan pada kata tersebut, yaitu pembedaan kelas kata antara ‘ke’ dan ‘ranjang’. ‘Mata keranjang’, karenanya, adalah pandangan mata yang selalu mengarah ke ranjang, tempat yang selain digunakan untuk tidur, juga jamak menjadi pusat terjadinya peristiwa seksual. Pertanyaan muncul: bagaimana film ini mengaktualisasikan judul tersebut? Atau justru terdapat hal lain yang dapat ditelusuri lebih dari sekadar persoalan ranjang?

Mari awali dengan tidak melupakan bahwa film ini adalah film komedi. Pada awal scene, Ateng Mata Keranjang dibuka dengan jarak kamera close-up. Teknik kamera yang mendetail ini mengajak penonton untuk melihat secara dekat si tokoh utama film, Ateng, yang terganggu tidurnya oleh seekor nyamuk. Kemudian, dengan gaya komedi slapstick, Iskak ‘membantu’ Ateng untuk memukul nyamuk itu, tetapi berakhir dengan terpentalnya Ateng karena pukulan Iskak terlampau kencang. Adegan itu terjadi di sebuah terminal bus. Dalam film bergenre komedi, adegan semacam ini umum terjadi. Sebab, film komedi biasanya mengandung aksi yang dilebih-lebihkan (Pratista, 2017: 50).

Gaya slapstick adalah salah satu cara mengaktualisasi konsep superiority theory dalam komedi. Superiority theory menyatakan bahwa ‘tertawa’ dapat terjadi saat seseorang dihadapkan pada manusia atau situasi yang membuatnya merasa lebih unggul secara kecerdasan, moral, atau fisik (Stott, 2005: 125). Penonton film, dalam hal ini, dihadapkan dengan tokoh Ateng yang tidak beruntung. Adegan slapstick, yang menyebabkan terpentalnya Ateng, menempatkan Ateng pada posisi yang lebih rendah dari penonton, dan karena itulah penonton –diharapkan— tertawa.

Terlepas dari teknik komedi yang digunakan pada adegan awalnya, scene di atas merupakan pengenalan latar film, exposition. Nyamuk, terminal bus, serta Ateng dan Iskak yang tertidur di dalamnya, memperkenalkan kelas sosial tokoh utama film ini pada penonton. Ateng dan Iskak adalah buruh angkut barang di terminal. Penggambaran kehidupan pada scene itu kelak akan terganggu oleh peristiwa-peristiwa yang dihadirkan kemudian, yaitu saat bus datang dan memberi pada narasi sebuah cerita petualangan.

Representasi Kelas dan Satire

Memang begitu jelas, Ateng adalah seorang mata keranjang, setidaknya dalam satu pengertian KBBI (diakses 7 Maret 2023): “sangat suka pada perempuan.” Itu tergambar sejak bus datang dan dua perempuan berpenampilan mahal turun dari bus. Alih-alih membantu Iskak mengangkut turun barang-barang penumpang, Ateng terpesona dengan dua perempuan itu dan mengikuti mereka, meninggalkan Iskak di atap bus. Kendati begitu jelas kematakeranjangan Ateng, adalah hal yang patut diperhatikan bahwa dua perempuan yang turun dari bus serta-merta memberi jarak sosial terhadap Ateng. Kehadiran perempuan itu lantas menghadirkan juga dua identitas kelas yang berlainan, si miskin dan si kaya. Selain itu, tiga tokoh kunci lain yang turun dari bus, Eddy Sud (doktorandus), profesor (Mang Udel), dan seorang pembawa peta harta karun (Aedy Moward), membawa identitas mereka masing-masing, yang semakin memberi jarak dengan Ateng.

Sulit untuk membayangkan bahwa dengan adanya penjarakan identitas, tidak terjadi konflik. Sebuah scene di samping bus memperlihatkan konflik awal yang terjadi antara Eddy Sud, Ateng, dan Aedy. Slapstick terjadi berulang. Konflik berlanjut sampai peristiwa petualangan mencari harta karun. Eddy Sud berkoalisi dengan Ateng dan Iskak, sementara profesor dengan Aedy Moward.

Harapan menemukan harta karun, kemudian, menjadi motif penggerak narasi film ini. Adakah hubungan erat antara identitas kelas sosial dengan harapan akan harta?

Film ini diluncurkan pada tahun 1975, masa ketika Indonesia masih berada di bawah pemerintahan orde baru. Sistem pembangunan yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1970-an, menurut Rajab (2004: 184), hanya menguntungkan kelas menengah perkotaan dan memperlebar kesenjangan antarlapisan masyarakat. Dengan begitu, adalah wajar apabila imajinasi masyarakat kelas bawah pada masa itu dipengaruhi oleh keinginan untuk memiliki harta. Film Ateng Mata Keranjang juga mencerminkan hal tersebut.

Kematakeranjangan Ateng, seperti dalam narasi, ternyata dikalahkan oleh keinginan memiliki harta. Dalam sebuah peristiwa naratif, Ateng meninggalkan Muti, perempuan berbusana mahal itu, untuk mengejar harta karun. Mata keranjang Ateng menjadi lenyap, ia berkorban demi harta dan meninggalkan perempuan pujaannya. Uang lebih tinggi dari cinta.

“Kita akan kaya, Profesor. Kita akan dirikan istana, dan kau boleh makan semaumu,” begitu ucapan Aedy Moward, pembawa harta karun, dalam satu adegan. Di belakang kata-kata itu, dapat diasumsikan berdiri sebuah kenyataan sosial yang timpang. Istana dapat diartikan sebagai tempat tinggal penguasa. Kelak, diketahui bahwa Aedy dan profesornya adalah seorang pasien rumah sakit jiwa. Hal itu menandakan bahwa menjadi kaya hanyalah harapan kosong. Seseorang yang menginginkan kekayaan pada masa itu dapat disebut tidak waras. Pada akhir film, ternyata diketahui bahwa Eddy Sud juga berbohong atas gelar doktorandus yang dimilikinya. Dapat disimpulkan bahwa semua kegilaan dan kebohongan dalam narasi film berasal dari harapan akan harta.

Harta karun memainkan peranan yang sangat penting dalam film ini, ia menjadi penggerak utama. Harta fiktif membuat semua tokoh kunci mengalami delusi. Mereka bergantung pada hal yang ilusif. Harta menjadi sesuatu yang hanya dapat dibayangkan dan tak terjangkau. Hal itu menjadikan jabatan dan pendidikan adalah hal yang diimajinasikan. Eddy Sud dan profesor merepresentasikan imajinasi masyarakat tentang gelar pendidikan yang dianggap mampu mengangkat kelas sosial seseorang. Sementara itu, Aedy, si pembawa peta, merepresentasikan imajinasi masyarakat akan jabatan, yang juga dianggap mampu mengangkat kelas sosial.

Ada yang menarik menjelang akhir film, yaitu adegan saat petugas rumah sakit jiwa memanggil si pembawa peta harta karun: “Pak Mowardi?” Lalu, dengan teknik close-up, Aedy Moward menjawab, “Saya bukan Mowardi, saya Kaisar Napoleon.” Ia membayangkan dirinya sebagai kaisar Napoleon, yang mengembalikan sistem aristokrasi di Prancis dan memberikan gelar bangsawan pada teman-temannya (Iswara, 2022). Bukankah itu sebuah sindiran yang teramat terang?

Komedi adalah salah satu cara masyarakat mempertahankan dirinya di bawah kekuasaan tirani, demikian menurut Morreal (Stott, 2005: 98). Humor, menurut Shaftesbury’s dalam Stott (2005: 98), adalah pelarian yang timbul dari ketidakadilan sosial yang membuat frustrasi; gairah sebuah bangsa terhadap komedi berbanding lurus dengan tekanan politik di bangsa yang bersangkutan. Dengan begitu, judul yang disematkan pada film ini, Ateng Mata Keranjang, hanya semacam pemantik karena kematakeranjangan justru tidak tampil dominan. Selebihnya, film ini adalah jalan bagi pengekspresian imajinasi masyarakat. Sebab, kematakeranjangan dikalahkan juga oleh harapan akan harta.

References

KBBI Daring. (t.t.).
Pratista, H. (2017). Memahami Film (2 ed.). Sleman: Montase Press.
Rajab, B. (2004). Negara Orde Baru: Berdiri di Atas Sistem Ekonomi dan Politik yang Rapuh. Sosiohumaniora, 6(3), 182–202.
Stott, A. (2005). Comedy. Newyork: Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203795897

fajarhanifmubarok@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas