Maaf Pak-Bu, Saya Hanya Bertanya

Maaf Pak-Bu, Saya Hanya Bertanya

Sebatas Manusia
3 min read

Sebagai anak yang sudah kecemplung di dunia perlombaan sejak TK, menjadi “musuh publik” karena dianggap terlampau kritis tampaknya sudah menjadi makanan basi bagiku.

Sampai hari ini, dengan kesadaran yang masih utuh dan kewarasan yang belum sepenuhnya tumbang, aku tetap memilih jalan yang sama. Jalan orang yang bertanya. Jalan orang yang menyampaikan kritik di forum diskusi. Entah forum itu diselenggarakan oleh kampus, komunitas, atau bahkan oleh raja planet Namek sekalipun. Selama ada logika yang cacat, menurutku hal itu pantas dibidas.

Tidak ada ruginya menjadi musuh bagi orang-orang munafik berjubah cerah. Sedikit banyak perjalanan membaca tentu membentuk sikap politik yang kupegang hari ini.

Memang benar, aku tidak serakus itu membaca. Koleksi buku boleh banyak, tetapi yang benar-benar selesai kubaca mungkin tidak seberapa. Namun, soal mengelola bacaan dan mengejawantahkannya kembali dalam percakapan, aku berani bertarung. Bukan bertarung dengan kepala batu, melainkan dengan dialektika. Dan tentu saja, aku juga sering salah.

Sialnya, baik di dunia akademik maupun di ruang-ruang alternatif yang katanya progresif, sosok yang dikultuskan selalu saja ada. Orang-orang yang merasa paling berjasa dan paling benar itu sering kali sangat alergi ketika kekuasaannya sedikit saja terusik. Mereka bisa berubah menjadi garang, lalu mengultimatum orang lain dengan keberingasan yang sebenarnya tampak buruk dan rapuh.

Aku masih ingat betul sebuah kejadian saat semester satu kuliah. Di mata kuliah kewarganegaraan, aku pernah bertanya kepada dosen pengampu:

“Kenapa negara memaksa masyarakat adat atau warga pedalaman memilih agama mayoritas demi administrasi KTP? Bukankah itu melanggar HAM?”

Pertanyaan itu tidak dijawab dengan argumen. Ia dijawab dengan kemarahan. Dosen itu mengegas:

“KAMU JANGAN UJI-UJI SAYA YA! SAYA INI SUDAH S-3!”

Dalam hati, aku hanya bisa misuh. Like, what the hell, man. Gelar ternyata bisa berubah menjadi tameng paling murah ketika nalar kehabisan amunisi. Kupikir kejadian itu hanya sekali. Ternyata tidak. Cerita serupa berulang di banyak tempat, dengan wajah yang berbeda.

Tentu saja ada fase-fase ketika aku merenung. Jangan-jangan selama ini aku memang terlalu berlebihan. Jangan-jangan aku hanya ingin terlihat berbeda, seperti cibiran sebagian orang. Namun sejujurnya aku tidak pernah benar-benar peduli dengan hal itu. Aku tidak tertarik menjadi tokoh yang terlihat unik, apalagi sekadar memuaskan ego.

Yang jelas satu. Aku tidak pernah peduli apakah seseorang lebih tua, pejabat, pemangku kebijakan, atau sastrawan yang sudah lama duduk di singgasana reputasi. Selama ada cacat logika dan selama ada orang yang terlalu senang dikultuskan, aku akan mengkritiknya di forum. Bukan dengan merendahkan pribadi orangnya, tetapi dengan membongkar pernyataan-pernyataan konyol yang lahir dari post power syndrome.

Aku selalu memegang satu prinsip sederhana: pantang tengkukku dipijak. Meski belakangan prinsip itu mulai tergerus oleh dunia kapitalisme yang licin dan durjana. Hidup kadang memaksa orang menunduk lebih lama dari yang ia inginkan.

Namun, satu hal masih tetap tinggal. Aku selalu geram pada kebebalan dan praktik keculasan. Meskipun aku juga sadar diriku jauh dari bersih. Aku penuh salah, penuh dosa, dan sering keliru.

Karena itu satu-satunya pesan yang masih ingin kupegang adalah ini: Tetaplah membaca, walau pelan. Jagalah nalar kritis. Dan jika memungkinkan, berpihaklah pada orang-orang yang tertindas.

Terima kasih sudah membaca.

Penyunting: Mo. Adim
Ilustrasi: Mo. Adim

Sebatas Manusia

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top