Sketsa Layu

Sketsa Layu

Fajar Hanif Mubarok
1 min read

Sunyi melekat pada udara kotor, daun-daun layu

angin sore merintih,
dan hanya lewat jendela ituaku bisa memandanginya

“Dengan bagaimanakah aku boleh
mendatangimu?” Sesaat sebelum matahari
meninggalkan kita
dalam kesepian yang jauh

…
Sementara siapa pun berubah menjadi puing-puing
Tenggelamlah dalam kenyataan yang tak terukur
Gelap menyapu atap-atap, tiang, tangga beton,
sungai yang tersembunyi

Lalu dengan kata apakah aku harus mendatangimu;
kegelapan senantiasa
menyembunyikan makna-makna
dan bulan kuning mendesah sambil berkata,

“Kapan lagi, kapan lagi.”

…

Aku masih sempat melihat
sketsa terakhir
dalam gurat awan
tapi di bawah sini begitu ramai                                                     
dan aku merasa

menatapi lalu lalang: suara bising pinggir jalan
kendaraan-kendaraan terparkir, sesuatu yang kau pegang
Aku merasa makin sepi
seperti pada mimpi yang jauh

22 Januari 2022

Fajar Hanif Mubarok

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top